Hanya Tersisa Waktu 30 Menit, Siswa dan Guru Terburu-buru Habiskan MBG di Pati Sebelum Keracunan
raka f pujangga September 09, 2026 11:11 PM

 

TRIBUNJATENG.COM, PATI - Para siswa terpaksa menyantap menu Makan Bergizi Gratis terburu-buru karena hanya menyisakan waktu 30 menit sebelum batas aman konsumsi paling lambat pukul 12.00 WIB.

Keterlambatan pasokan yang memangkas batas waktu tersebut akhirnya berujung fatal hingga memicu keracunan massal ratusan murid dan guru di Pati.

Baca juga: Kadinkes Jateng Menduga Penyebab Keracunan MBG Terjadi Karena Kualitas Air Tercemar Bakteri E-Coli

Keterlambatan pengiriman menu Makan Bergizi Gratis (MBG) oleh pihak dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) diduga menjadi akar masalah peristiwa keracunan massal yang memakan ratusan korban di SMPN 1 Gembong dan MTsN 3 Pati, Kabupaten Pati.

Makanan yang terlambat tiba di lokasi terpaksa dibagikan mendekati batas waktu aman konsumsi, hingga akhirnya berdampak fatal bagi ratusan siswa dan puluhan guru.

Sebagaimana diketahui, total 230 siswa di dua sekolah tersebut mengalami gejala keracunan setelah menyantap menu MBG berupa nasi bakar ayam suwir, telur ceplok, orek tempe, lalapan, kerupuk udang, dan semangka.

Menu tersebut disajikan pada Selasa siang  (8/9/2026). Adapun gelombang keracunan massal yang membuat para siswa dilarikan ke fasilitas kesehatan terjadi pada Rabu pagi (9/9/2026).

Sejumlah siswa mengaku mulai merasakan efek keracunan makanan berupa diare dan sakit kepala pada Selasa malam.

Di SMPN 1 Gembong, pasokan menu MBG dari Satuan Pelayanan Pendidikan Gizi (SPPG) Gembong 1 yang berlokasi di Dukuh Ngembes datang terlambat dari jadwal biasanya. 

Kepala SMPN 1 Gembong, Istiana, mengungkapkan bahwa makanan yang biasanya tiba sebelum jam istirahat pertama pukul 09.30 WIB baru sampai di lokasi pada pukul 11.30. 

"Kami pun langsung membagikan makanan tersebut karena label pada tray (ompreng makan) menginstruksikan MBG harus dimakan sebelum pukul 12.00," kata dia.

Para siswa pun menyantap hidangan tersebut tanpa curiga. Bahkan ada yang meminta tambah dari jatah MBG temannya yang hari itu tidak berangkat sekolah.

Keterlambatan distribusi serupa dialami oleh MTsN 3 Pati. 

30 Menit Harus Habis

Kepala MTsN 3 Pati, Zaenal Arifin, menyebutkan bahwa jatah makan yang biasanya dibagikan pukul 11.20 WIB baru tiba di sekolah setelah melewati pukul 12.00. 

Secara tampilan fisik dan rasa, makanan tidak menunjukkan tanda-tanda basi sehingga para siswa lahap mengonsumsinya. 

"Anak-anak malah merasakannya enak," jelas Zaenal.

Namun, keterlambatan pengiriman yang memotong waktu aman konsumsi ini berujung pada keluhan kesehatan yang meluas pada malam hingga keesokan harinya.

Dampak dari molornya jadwal distribusi ini mulai disadari keesokan harinya ketika ratusan korban mendadak mengalami gejala mulas, sakit perut, dan diare.

Di SMPN 1 Gembong, sebanyak 103 siswa (dari total 443 murid kelas 7, 8, dan 9) serta 13 guru terdampak. 

Banyaknya siswa yang bolak-balik meminta izin ke kamar mandi membuat sekolah bertindak cepat menghubungi layanan medis darurat.

Adapun di MTsN 3 Pati, sebanyak 127 siswa (dari total 565 murid) dilaporkan tumbang. Selain itu sekira 30 orang guru juga mengalami gejala keracunan ringan.

Keluhan mulas baru terasa sekitar pukul 22.00 hingga 23.00. 

Beruntung, siswa kelas 7 selamat dari insiden karena sedang menjalani pembelajaran daring akibat ruang kelas mereka sedang digunakan untuk kegiatan lomba.

Banyaknya jumlah korban memicu kepanikan dan membuat fasilitas kesehatan setempat kewalahan. 

Korban dari SMPN 1 Gembong harus dilarikan secara tersebar ke Puskesmas terdekat, RSUD Soewondo, RS Mitra Bangsa, hingga RS KSH karena layanan medis Puskesmas sempat mengalami lonjakan pasien (overload). 

Sementara itu, seluruh korban dari MTsN 3 Pati kini telah dievakuasi dan dipusatkan di RSUD Soewondo untuk mempermudah koordinasi serta penanganan medis.

Guna mencegah situasi semakin tidak kondusif, pihak sekolah memulangkan seluruh siswanya lebih awal. 

Kendati demikian, kegiatan belajar mengajar dipastikan tetap berjalan normal pada hari berikutnya.

Pihak sekolah pun menegaskan bahwa ketepatan waktu pengiriman merupakan kunci vital dalam menjaga kualitas nutrisi serta keselamatan para siswa.

"Jadi mohon untuk jam, itu jam distribusi ke sekolah-sekolah itu ditaati. Itu saja sebetulnya. Kita kendalanya sebetulnya hanya di situ," tegas Istiana.

KERACUNAN MASSAL - Puskesmas Gembong Pati dipenuhi para siswa dari SMPN 1 Gembong dan MTsN 3 Pati yang mengalami gejala pusing, mual, dan muntah, Rabu (9/9/2026). Mereka diduga keracunan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disantap sehari sebelumnya.
KERACUNAN MASSAL - Puskesmas Gembong Pati dipenuhi para siswa dari SMPN 1 Gembong dan MTsN 3 Pati yang mengalami gejala pusing, mual, dan muntah, Rabu (9/9/2026). Mereka diduga keracunan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disantap sehari sebelumnya. (Tribun Jateng/Mazka Hauzan Naufal)

Pelayanan Kesehatan Overload

Sebanyak 230 siswa dari dua sekolah negeri di Kecamatan Gembong, Pati, mengalami gejala keracunan makanan secara massal, Rabu (9/9/2026).

Jumlah tersebut terdiri atas 103 siswa SMPN 1 Gembong dan 127 pelajar MTsN 3 Pati.

Masing-masing kepala sekolah, yakni Kepala SMPN 1 Gembong Istiana dan Kepala MTsN 3 Pati Zaenal Arifin, telah mengonfirmasi jumlah siswa yang mengalami gejala keracunan tersebut.

Diduga kuat, para siswa keracunan setelah menyantap menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) sehari sebelumnya.

Para siswa yang keracunan dilarikan ke fasilitas kesehatan terdekat. Mulanya mereka dibawa ke Puskesmas Gembong.

Namun, karena Unit Gawat Darurat (UGD) Puskesmas sudah tak mampu menampung pasien, sebagian siswa kemudian dilarikan ke RSUD RAA Soewondo Pati.

Informasi terbaru, UGD RSUD juga kelebihan pasien sehingga ada pula siswa yang dilarikan ke rumah sakit swasta.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pati tengah melakukan penyelidikan mendalam terkait dugaan keracunan massal ini.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pati, Luky Pratugas Narimo, menyampaikan bahwa informasi awal terkait peristiwa tersebut mulai diterima pihak Dinkes pada Rabu pagi sekitar pukul 08.30 WIB. 

Kasus ini diduga kuat berasal dari santapan MBG yang disajikan sehari sebelumnya, yakni pada Selasa.

"Informasi yang kami dengar awal ini merupakan dugaan keracunan dari makanan MBG yang disajikan kemarin. Tapi sekali lagi ini masih dugaan," ujar Luky saat memberikan keterangan kepada media di SMPN 1 Gembong.

Luky menegaskan pihak Dinkes Pati belum dapat menyimpulkan penyebab pasti kejadian tersebut. 

Saat ini, tim epidemiologi telah diterjunkan ke lapangan untuk mengumpulkan data dan mengambil sampel dari penyedia makanan, yakni SPPG Gembong 1.

"Tim kami sedang melakukan PE atau penyelidikan epidemiologis. Jadi kami belum bisa memastikan terkait dengan penyebabnya seperti apa. Nanti kita tunggu hasil penyelidikan epidemiologis dan uji labnya," kata Luky. 

Menurutnya, seluruh sampel makanan yang disajikan kemarin diambil langsung dari bank sampel yang ada di dapur penyedia, yaitu SPPG Gembong 1, dan akan diperiksa di laboratorium tingkat provinsi. 

Proses pengujian laboratorium ini diperkirakan memakan waktu antara satu hingga dua minggu.

Terkait jumlah pasti siswa yang terdampak, pihak Dinkes belum membeberkan angka riil lantaran pendataan di lapangan masih dinamis. 

Proses evakuasi dan penanganan medis di sejumlah fasilitas kesehatan (faskes) masih terus berlangsung.

Baca juga: Gelombang Keracunan MBG di Pantura Timur Jateng : Minim Petugas Pengawas Sanitasi

"Data masih dinamis, kami belum bisa memastikan berapa jumlahnya. Nanti data akan kami update berdasarkan sinkronisasi kami dengan Faskes yang ada di RSUD Soewondo, RS Mitra Bangsa, dan RS KSH," paparnya.

Untuk saat ini, wilayah terdampak dipastikan berada di dua titik sekolah tersebut. 

Sebagian siswa yang mengalami gejala di lingkungan sekolah sudah mendapatkan penanganan medis dasar, dan beberapa di antaranya diperbolehkan pulang. 

Guna mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan serta mempermudah penanganan, kegiatan pembelajaran di SMPN 1 Gembong dan MTsN 3 Pati dihentikan sementara dan para siswa dipulangkan lebih awal. (mzk)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.