BPBD Banjar Catat 286 Kejadian Karhutla, Lahan Seluas 2.000 Hektare Hangus
Budi Arif Rahman Hakim September 09, 2026 11:52 PM

BANJARMASINPOST.CO.ID, MARTAPURA - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Banjar telah meluas hingga sekitar 2.000 hektare. 

Sejak posko siaga dibentuk pada pertengahan Juli hingga awal September 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banjar mencatat 286 kejadian kebakaran.

Kondisi tersebut menjadi perhatian dalam rapat koordinasi Forkopimda Kabupaten Banjar di Bukit Bintang Park and Resort, Kecamatan Karangintan, Rabu (9/9/2026).

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Banjar, Wasis Nugraha, mengatakan penanganan di lapangan terus dilakukan bersama personel gabungan. 

Mulai dari unsur TNI, Polri, pemerintah daerah hingga relawan dilibatkan untuk menjangkau lokasi kebakaran.

Berdasar rekapan, ratusan kejadian yang tercatat, sekitar 70 persen di antaranya telah berhasil ditangani.

“Sesuai komitmen, setiap kejadian kami tangani secara maksimal. Dari total kejadian tersebut, sekitar 70 persen sudah berhasil diatasi,” ujar Wasis.

Wilayah yang menjadi perhatian antara lain Kecamatan Cintapuri dan Gambut. 

Baca juga: Kualitas Udara Masih Tidak Sehat Dampak karhutla, Disdik Banjarmasin Perpanjang PJJ Tiga Hari

Baca juga: Terbukti Korupsi dalam Penyaluran Kredit, Mantan Manajer Bank di Kotabaru Dipenjara 6,5 Tahun

Sejumlah kawasan seperti Desa Abumbun Jaya, Desa Pematang Panjang, serta ruas Jalan Gubernur Subardjo dan Jalan Gubernur Syarkawi tercatat memiliki sebaran titik api cukup besar.

Meski luasan lahan yang terdampak mencapai ribuan hektare, hingga kini kebakaran belum menyebabkan rumah warga terbakar. 

Petugas disebut lebih dulu memprioritaskan pengamanan permukiman ketika melakukan pemadaman.

“Kerusakan sejauh ini hanya menimpa gubuk-gubuk pertanian. Konsentrasi utama petugas dalam setiap pemadaman adalah mengamankan area permukiman warga terlebih dahulu. Setelah area pemukiman dipastikan aman, pemadaman baru difokuskan ke lahan terbuka,” jelasnya.

Sekretaris Daerah Kabupaten Banjar, Yudi Andrea, pada acara yang sama, mengingatkan kondisi kemarau masih perlu diwaspadai. 

Periode September hingga Oktober diperkirakan menjadi masa kekeringan yang cukup berat, sedangkan hujan diproyeksikan mulai kembali pada November.

Di tengah kondisi tersebut, pemerintah memastikan kebutuhan air baku masyarakat tidak terdampak. 

Cadangan air dari Waduk Riam Kanan disebut masih mampu menopang kebutuhan air minum hingga akhir tahun.

Yudi meminta masyarakat tidak khawatir terhadap pasokan air bersih, sekaligus mengingatkan agar penggunaan air tetap dilakukan secara bijak selama musim kemarau.

“Informasi tadi meluruskan bahwa kekeringan ini tidak sampai tahun depan. Selain itu, ketersediaan air baku dari Waduk Riam Kanan dipastikan cukup sampai bulan Desember, sehingga masyarakat bisa lebih tenang karena pasokan air minum PTAM/PDAM tetap aman,” lontarnya.

Selain pemadaman, pemerintah juga menaruh perhatian pada potensi munculnya titik api baru. 
Camat diminta memperkuat pembinaan hingga tingkat desa, terutama karena pembakaran lahan pertanian setelah panen menjadi salah satu pemicu karhutla.

Pemkab Banjar juga meminta informasi mengenai bahaya dan penanganan karhutla disebarluaskan lebih luas kepada masyarakat. 

Warga diimbau tidak membersihkan ataupun membuka lahan dengan cara membakar.

“Kami berharap masyarakat paham akan dampak buruk pembakaran lahan setelah panen, sehingga tidak ada lagi yang membuka atau membersihkan lahan dengan cara dibakar,” harap Yudi. (Banjarmasinpost.co.id/nurholis huda)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.