TRIBUNJOGJA.COM - Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menggelar Capacity Building Wartawan DIY sebagai upaya meningkatkan kapasitas jurnalis di tengah perubahan industri media.
Kegiatan bertajuk “Peluang dan Tantangan Jurnalisme di Era Transformasi Media” tersebut berlangsung pada 8–11 September 2026 di Hotel Aruna Senggigi, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Kegiatan diikuti 16 wartawan dari berbagai media cetak dan elektronik di DIY yang selama ini bermitra dengan BI DIY.
Kepala Kantor Perwakilan BI DIY, Sri Darmadi Sudibyo, mengatakan perkembangan internet dan kecerdasan buatan menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi dunia jurnalistik.
“Transformasi memberikan tantangan sekaligus peluang,” katanya.
Baca juga: Dorong Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi, BI DIY Tekankan Pentingnya Kajian Akademisi
Menurut pria yang akrab disapa Pak Dibyo ini, perkembangan teknologi memungkinkan media menghasilkan karya jurnalistik yang lebih interaktif dan menjangkau audiens secara lebih spesifik.
Namun, perkembangan tersebut tetap harus diimbangi dengan menjaga prinsip dasar jurnalistik, terutama integritas, akurasi, dan keberpihakan pada kebenaran.
“Di tengah arus perubahan ini yang harus dipertahankan adalah fondasi utama jurnalisme kita, masalah integritas, akurasi, dan keberpihakan kepada kebenaran,” ujar Sri.
Dibyo mengatakan, BI DIY akan terus mendorong wartawan untuk menggali dan memperdalam kemampuan yang dibutuhkan dalam menghadapi perubahan media.
“Kita akan terus menggali dan mengeksplorasi hal-hal apa yang harus terus diperdalam. Harapan kita semua teman-teman wartawan DIY ini menghasilkan karya jurnalistik yang berkualitas dan berdampak pada masyarakat,” katanya.
Bocor Alus
Dalam kegiatan tersebut, BI DIY menghadirkan Stefanus Pramono, jurnalis Tempo sekaligus salah satu pengasuh kanal Bocor Alus Politik, sebagai pembicara.
Stefanus menyampaikan materi “Dunia Konten, Tantangan dan Peluang untuk Jurnalis”. Ia memaparkan perubahan perilaku masyarakat dalam mengonsumsi informasi serta tantangan yang dihadapi media massa di tengah perkembangan platform digital.
Ia juga menyoroti pengaruh algoritma terhadap distribusi informasi di platform digital.
Selain perubahan perilaku audiens, Stefanus memaparkan tantangan ekonomi yang dihadapi industri media. Ia menyebut berdasarkan data Aliansi Jurnalis Independen (AJI), sebanyak 549 jurnalis kehilangan pekerjaan pada 2025.
Menurutnya, perubahan industri tersebut membuat jurnalis perlu mengembangkan kemampuan di berbagai platform.
“Menjadi jurnalis sekarang ini tidak hanya cukup lewat menulis saja. Harus mengembangkan berbagai platform,” ujarnya.
Stefanus juga mendorong media untuk mengembangkan model bisnis sekaligus memperluas jangkauan dan membangun kepercayaan audiens.
“Media perlu change and cuan, mengubah mindset, memperluas reach, build the trust. Use your asset,” katanya.
Peran Penting
Sementara itu, Kepala Perwakilan BI NTB, Hario Kartiko Pamungkas, mengatakan media memiliki peran penting dalam menyampaikan informasi kebijakan kepada masyarakat.
“Selama ini, BI NTB juga bermitra baik dengan para jurnalis. Sebab dalam sosialisasi kebijakan ke masyarakat kami sangat membutuhkan rekan media. Agar lewat tulisan itu, pelaku ekonomi percaya kebijakan baik, masyarakatnya juga mendukung,” ujar Hario.
Hario juga mengapresiasi BI DIY yang memilih NTB sebagai lokasi kegiatan capacity building wartawan.
“Terima kasih menjadikan NTB sebagai tempat capacity building wartawan DIY. Kami menyadari bahwa kita harus saling belajar antara satu wilayah dengan wilayah lainnya dan mengambil pelajaran dari masing-masing daerah,” katanya. (*)