WARTAKOTALIVE.COM --
Ketenangan malam di wilayah Malang Raya, Jawa Timur, mendadak pecah pada Selasa (8/9/2026) sekitar pukul 22.00 WIB.
Sebuah suara dentuman keras menggelegar membelah langit, mengagetkan warga yang tengah beristirahat.
Gaung misterius ini dilaporkan terdengar jelas di sejumlah titik, mulai dari Kecamatan Blimbing, Singosari, hingga Pakis.
Tak butuh waktu lama, lini masa media sosial langsung dibanjiri pertanyaan bernada panik.
Spekulasi pun liar bergulir. Ada yang mengira gempa bumi besar tengah mengintai, sementara tak sedikit warganet yang mengaitkannya dengan fenomena sound horeg (parade pengeras suara raksasa) yang kerap digelar masyarakat setempat.
Namun, apa sebenarnya yang terjadi malam itu?
BMKG Turun Tangan
Menjawab keresahan yang makin meluas, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) segera melakukan penyisiran data seismik.
Hasilnya mengejutkan: langit dan bumi Malang dalam kondisi stabil.
Kepala Stasiun Geofisika BMKG Malang, Ricko Kardoso, menegaskan bahwa sensor mereka tidak mencatat adanya anomali tektonik maupun sambaran kilat di waktu dentuman terjadi.
"Dari monitoring kami, kepastiannya adalah seperti tersebut; bukan gempa tektonik dan bukan aktivitas petir," tegas Ricko pada Rabu (9/9/2026), mematahkan rumor yang beredar di masyarakat.
Mengungkap Tabir: 'Napas' Semeru yang Tengah Bergejolak
Jika bukan dari tanah yang bergeser atau langit yang memercikkan listrik, dari mana asal suara menggelegar itu?
Penelusuran BMKG kemudian mengarah ke timur, berkoordinasi langsung dengan Pos Pengamatan Gunung Api Semeru.
Baca juga: Semeru Erupsi, Kolom Abu Capai 800 Meter
Fakta baru pun terungkap. Suara dentuman yang menghebohkan warga Malang tersebut sangat kuat dugaannya merupakan "napas" dari Gunung Semeru.
Dalam beberapa pekan terakhir, gunung tertinggi di Pulau Jawa ini memang tengah menunjukkan peningkatan ritme aktivitas vulkanik.
Letusan-letusan kecil yang terjadi di kawah Semeru ternyata menyimpan tekanan gas vulkanik yang tinggi.
Ketika gas ini dilepaskan ke udara, ia menciptakan gelombang kejut berupa suara dentuman dan gemuruh yang merambat hingga puluhan kilometer, membawa resonansinya hingga ke Malang Raya.
Intensitas suaranya pun bervariasi, dari sekadar gemuruh pelan hingga dentuman yang menggetarkan kaca jendela.
"Untuk aktivitas Gunung Semeru, dalam beberapa minggu terakhir terkadang memang disertai suara dentuman maupun gemuruh. Kemungkinan besar suara dentuman (di Malang) karena Gunung Semeru," jelas Ricko.
Fenomena alam seringkali memicu kepanikan saat minim informasi.
Oleh karena itu, BMKG mengeluarkan imbauan tegas agar masyarakat Malang Raya tidak mudah terpancing oleh narasi ketakutan yang tidak berdasar.
“Masyarakat diimbau untuk tetap tenang, tidak berspekulasi mengenai sumber suara dentuman, serta tidak mudah mempercayai informasi yang beredar di media sosial yang belum dapat diverifikasi kebenarannya,” kata Ricko.
Alam memiliki cara tersendiri untuk berkomunikasi.
Dentuman malam itu bukanlah pertanda bencana mematikan atau ulah manusia semata, melainkan sekadar pengingat bahwa Malang Raya hidup berdampingan dengan denyut nadi salah satu gunung berapi paling aktif di Nusantara.
Tetaplah waspada, namun jangan biarkan kepanikan mengambil alih logika.