Delapan Orang Hilang di Perairan Selat Sunda, Polisi Kumpulkan Data DNA Keluarga
Glery Lazuardi September 10, 2026 03:38 AM

TRIBUNNEWS.COM - Kepolisian Daerah (Polda) Banten mulai mengumpulkan data antemortem dari keluarga delapan orang yang hilang kontak saat melakukan peliputan aktivitas Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda, Kabupaten Pandeglang, Banten.

Kapolda Banten Irjen Pol Hengki mengatakan pihaknya telah menyiapkan posko antemortem di Posko SAR Gabungan dan Rumah Sakit Bhayangkara Polda Banten.

Posko tersebut digunakan untuk menghimpun data pendukung dari keluarga, termasuk sampel biologis, ciri-ciri fisik, pakaian yang dikenakan, serta tanda khusus pada masing-masing orang yang masih dalam pencarian.

"Kami telah menyiapkan posko antemortem sebagai bentuk kesiapsiagaan dalam mendukung proses identifikasi apabila diperlukan," kata Hengki kepada wartawan di Carita, Pandeglang, Rabu (9/9/2026).

Baca juga: 5 Jurnalis Hilang Kontak saat Liput Anak Krakatau, Legislator PAN Minta Pencarian Dimaksimalkan

Salah satu keluarga yang telah memberikan sampel biologis adalah Desi Purnamasari, istri jurnalis Antara M Bagus Khoirunnas.

Desi mengatakan dirinya diminta memberikan sampel air liur kepada petugas di Posko Antemortem. Petugas juga meminta informasi mengenai pakaian yang dikenakan Bagus saat meninggalkan rumah serta ciri-ciri khusus seperti tahi lalat.

"Tadi sudah diambil sample air liur sama petugas, buat jaga-jaga. Tapi saya masih yakin suami pasti selamat," kata Desi.

Menurut Desi, orangtua Bagus juga diminta memberikan sampel darah di Rumah Sakit Bhayangkara Polda Banten.

"Tadi juga mertua sudah diambil sample darahnya di Rumah Sakit Bhayangkara," kata dia.

Desi mengatakan komunikasi terakhir dengan Bagus terjadi pada Senin (7/9/2026), sebelum suaminya berangkat menuju Gunung Anak Krakatau bersama sejumlah jurnalis lainnya.

Sebelum berangkat, Bagus sempat mengirimkan foto kepada Desi.

"Dia kirim foto kapten kapal, on the way ke Krakatau," kata Desi.

Setelah itu, Desi tidak lagi menerima kabar dari suaminya. Ia kemudian mengetahui rombongan yang menuju Gunung Anak Krakatau tersebut hilang kontak.

Desi kini menunggu perkembangan pencarian di Posko SAR Terpadu Carita.

Pencarian Terkendala Kondisi Perairan

Di sisi lain, tim SAR gabungan masih melakukan pencarian terhadap delapan orang yang berada dalam speedboat tersebut.

Hengki mengatakan kondisi cuaca dan perairan menjadi salah satu kendala dalam pencarian. Pada Rabu, angin dilaporkan cukup kencang dengan tinggi gelombang sekitar 1-2 meter.

"Tim masih berada di lapangan dan terus kami monitor. Kondisi cuaca, angin cukup kencang dan gelombang sekitar satu sampai dua meter. Kami terus memantau perkembangan pencarian dari posko di Carita," kata Hengki, Rabu (9/9/2026).

Pencarian hari kedua dimulai sekitar pukul 07.00 WIB dengan membagi wilayah operasi ke dalam sejumlah titik. Sekitar 250 personel gabungan terlibat dalam pencarian.

Hengki juga meminta masyarakat dan nelayan yang berada di sekitar perairan Selat Sunda segera melaporkan apabila menemukan benda yang mencurigakan atau terapung di laut.

"Apabila masyarakat atau nelayan menemukan benda-benda mencurigakan atau benda yang terapung di laut, segera informasikan kepada petugas atau posko kami yang berada di Carita. Informasi tersebut akan membantu tim untuk segera melakukan pengecekan dan langkah pencarian," ujar Hengki.

Jika hingga akhir hari kedua belum ditemukan tanda keberadaan rombongan, wilayah pencarian akan diperluas.

"Nanti kita update lagi sampai dengan nanti malam. Sudah berakhirnya hari kedua akan di-update. Kalau belum ada titik yang ada, maka mungkin nanti akan diperluas ke lebih area yang lebih luas lagi," katanya.

Baca juga: Abu Vulkanik Anak Krakatau Ancam Jantung, Penderita Hipertensi Wajib Waspada

Delapan Orang Masih Dicari

Delapan orang tersebut terdiri dari lima jurnalis dan tiga kru speedboat. Mereka sebelumnya berangkat dari Dermaga Pagedongan, Carita, pada Senin (7/9/2026) sekitar pukul 14.00 WIB untuk meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Lima jurnalis yang masih dalam pencarian adalah M Bagus Khoirunnas dari Antara, Ari Basuki dari Merdeka, Yudhis dari iNews, Daus dari Anadolu, dan Donal yang merupakan jurnalis freelance.

Sementara tiga kru speedboat yakni Warta (55), kapten kapal, Surakman (60), ABK, dan Heriyanto (49), yang bertugas sebagai guide.

Laporan hilang kontak diterima Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten pada Selasa (8/9/2026). Tim SAR kemudian melakukan pencarian di sekitar titik yang menjadi lokasi dugaan terakhir keberadaan rombongan.

Hingga Rabu, delapan orang tersebut masih belum ditemukan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.