Siswa Sekolah Rakyat Yogyakarta Bandingkan Makanan Asrama dengan MBG, Tersaji Hangat, Rp 60Ribu/hari
ninda iswara September 10, 2026 01:38 PM

TRIBUNTRENDS.COM - Dua siswa kelas 10 Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, membandingkan pengalaman mereka saat menerima Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan pola makan yang kini dijalani setelah tinggal di asrama.

Keduanya adalah Arya Satya Mahardika dan Maeta Tesya Kurniawati.

Sebelum menjadi siswa Sekolah Rakyat, keduanya pernah memperoleh MBG ketika masih bersekolah di jenjang sebelumnya.

Kini, kehidupan mereka berubah. Selama tinggal di asrama Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kulon Progo, siswa memperoleh makanan tiga kali sehari dengan sistem prasmanan. Perbedaan itu membuat Arya dan Maeta memiliki pengalaman tersendiri dalam membandingkan makanan yang mereka terima sebelumnya dengan hidangan yang tersedia di asrama.

Baca juga: Kondisi Siswi di Karo Diduga Keracunan MBG, Masih Kesulitan Mengingat, Pusing Dengar Suara Bising

Arya Sebut Makanan di Asrama Lebih Hangat

Pada Selasa (8/9/2026) siang, Arya terlihat menikmati makan siang bersama teman-temannya di aula makan asrama Sekolah Rakyat di Desa Gulurejo. Menu yang tersedia saat itu terdiri dari ayam krispi, tumis sawi putih dengan tahu, bakwan, nasi, dan potongan semangka.

Arya makan bersama teman-temannya dengan tenang. Tidak banyak percakapan saat mereka menyantap hidangan. Tak lama kemudian, makanan di piring Arya hampir habis. Hanya kulit semangka yang tersisa.

Teman-temannya yang duduk di kanan dan kirinya juga tampak menghabiskan makanan masing-masing. Usai makan, mereka tetap duduk rapi sambil bercengkerama dan sesekali bercanda. Ketika ditanya mengenai rasa makanan yang disediakan sekolah, Arya langsung menyebutnya enak.

Menurut Arya, salah satu perbedaan yang paling terasa dibandingkan pengalaman menerima MBG adalah suhu makanan. Makanan di Sekolah Rakyat biasanya masih terasa hangat ketika disantap karena tidak terlalu lama disiapkan sebelum waktu makan.

Arya sebelumnya pernah menerima MBG saat duduk di kelas 9 di salah satu SMP di Kapanewon Galur. Ia masih mengingat sejumlah menu yang pernah diterimanya, salah satunya nasi goreng.

Namun, menurut pengalamannya, nasi goreng tersebut memiliki aroma yang dinilai sudah tidak terlalu segar. Meski demikian, makanan itu tetap disantap. Ia juga pernah mendapatkan ikan lele yang menurutnya masih terasa amis.

“Kalau sekarang belum pernah (dapat ikan amis),” jelas Arya.

Pernah Temukan Ayam Belum Matang

Meski menilai makanan di asrama lebih baik dari sisi suhu, Arya mengaku bukan berarti seluruh hidangan selalu sempurna. Selama tinggal di Sekolah Rakyat, ia pernah menemukan ayam yang bagian dalamnya masih berwarna merah.

Ia juga pernah mengalami sakit perut setelah menyantap sambal yang disediakan bersama hidangan. Namun, Arya mengatakan dirinya tidak terlalu sering mengambil makanan tambahan. Menurut dia, porsi awal yang diberikan sudah cukup untuk membuatnya kenyang.

Maeta Punya Pengalaman Berbeda Saat Terima MBG

Pengalaman lain disampaikan Maeta Tesya Kurniawati. Sebelum masuk Sekolah Rakyat, Maeta merupakan alumni MTs Muhammadiyah Wonosari, Gunungkidul.

Ia juga pernah menerima makanan melalui program MBG. Namun, menurut Maeta, rasa makanan yang diterimanya tidak selalu sama.

Pada suatu kesempatan, makanan terasa terlalu asin. Di kesempatan lain, makanan justru terasa hambar. Ada satu pengalaman yang paling diingat Maeta ketika pertama kali mendapatkan MBG.

Saat itu, ia menemukan lalat pada telur rebus yang menjadi bagian dari makanan.

“Dulu waktu pertama kali makan MBG itu, di telur rebusnya ada lalat. Terus enggak saya makan,” imbuh Maeta.

Selain persoalan rasa dan kebersihan, Maeta juga merasakan perbedaan dari sisi porsi. Ada kalanya jumlah makanan yang diterima sudah cukup, tetapi pada kesempatan lain porsinya masih dirasa kurang.

SEKOLAH RAKYAT - (Ilustrasi) Para siswa di Sekolah Rakyat di Kulon Progo, Yogyakarta
SEKOLAH RAKYAT - (Ilustrasi) Para siswa di Sekolah Rakyat di Kulon Progo, Yogyakarta (KOMPAS.ID/FRANSISKUS WISNU WARDHANA DANY)

Kini Makan Tiga Kali Sehari di Asrama

Setelah tinggal di Sekolah Rakyat, pola makan Maeta menjadi lebih teratur. Sistem pendidikan berasrama membuat kebutuhan makan siswa diatur dalam rutinitas harian.

Para siswa mendapatkan makanan tiga kali sehari. Sarapan dilakukan sekitar pukul 06.00 WIB. Kemudian, setelah shalat dzuhur, siswa makan siang sekitar pukul 12.15 WIB. Sementara makan malam dilakukan setelah shalat maghrib, sekitar pukul 18.30 WIB.

Makanan disediakan dengan sistem prasmanan. Siswa dapat mengambil sendiri makanan sesuai kebutuhan masing-masing. Jika masih merasa lapar, mereka juga diperbolehkan menambah makanan.

Bagi Maeta, rutinitas tersebut bahkan membuat waktu makan menjadi salah satu aktivitas yang dinanti. Ia mengaku kerap mencoba menebak menu yang akan disajikan sebelum makanan dibagikan. Selain makanan utama, sekolah juga menyediakan susu dan makanan ringan pada waktu tertentu.

Siswa yang sedang sakit dan tidak dapat makan bersama di ruang makan tetap mendapatkan makanan. Hidangan akan diantar kepada mereka.

Anggaran Makan Siswa Rp 60.000 Per Hari

Plt Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kulon Progo, Agus Ristanto, mengatakan penyediaan makanan merupakan bagian dari sistem kehidupan yang diterapkan di sekolah. Hal itu tidak terlepas dari konsep pendidikan Sekolah Rakyat yang menerapkan pola pendidikan berasrama.

Menurut Agus, kebutuhan siswa tidak hanya berkaitan dengan pembelajaran di dalam kelas. Sekolah juga harus memperhatikan pengasuhan dan berbagai aktivitas siswa selama menjalani kehidupan di asrama.

Melalui sistem makan bersama dan prasmanan, siswa sekaligus diajarkan untuk bertanggung jawab terhadap lingkungan yang digunakan bersama. Mereka diarahkan mengambil makanan sesuai kebutuhan dan menjaga kebersihan setelah makan.

“Pokok dasarnya adalah mengedukasi. Jadi kepemilikan ini bukan hanya milik manajemen sekolah, guru, siswa memiliki semuanya,” ungkap Agus.

Untuk kebutuhan konsumsi, Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kulon Progo mengalokasikan anggaran sekitar Rp 60.000 untuk setiap siswa per hari. Dengan pola makan tiga kali sehari, anggaran tersebut setara sekitar Rp 20.000 untuk setiap kali makan, berdasarkan pembagian rata-rata dari total anggaran harian.

Agus menegaskan, penyediaan makanan tidak semata-mata ditujukan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi siswa. Lebih dari itu, pola makan di asrama menjadi bagian dari proses pendidikan dan pembentukan kebiasaan baru bagi anak-anak yang menjalani kehidupan bersama.

Melalui rutinitas tersebut, siswa tidak hanya belajar memenuhi kebutuhan makan, tetapi juga belajar mengambil makanan sesuai kebutuhan, berbagi fasilitas, menjaga kebersihan, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan asrama.

(TribunTrends)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.