Indonesia Endowment Ecosystem Summit Dorong Kolaborasi Lintas Sektor Dampak Sosial Berkelanjutan
bisnistribunjabar September 10, 2026 02:47 PM

TRIBUNJABAR.ID, JAKARTA – Rumah Wakaf, Rumah Zakat, dan SharingHappiness.org menghadirkan Indonesia Endowment Ecosystem, sebuah infrastruktur kolaborasi berbasis wakaf yang dirancang untuk membangun sumber pendanaan sosial jangka panjang melalui pengelolaan aset produktif. Inisiatif ini hadir di tengah tantangan keberlanjutan pendanaan berbagai program sosial. 

2ForumWakaf
 Forum ini menjadi titik awal gerakan kolaboratif untuk membangun dampak sosial berkelanjutan pada bidang pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan kemanusiaan. Chairman Indonesia Endowment Ecosystem sekaligus CEO Rumah Wakaf, Rendi Septiyan Nugraha, mengatakan pengembangan ekosistem ini diarahkan untuk mendorong perubahan paradigma dalam filantropi, dari sekadar menghimpun dana menjadi membangun aset produktif yang dapat menopang program sosial dalam jangka panjang.

Dalam pola penggalangan dana konvensional, keberlangsungan program kerap bergantung pada kampanye dan penggalangan dana berulang. Indonesia Endowment Ecosystem menawarkan pendekatan berbeda dengan mendorong kontribusi sosial berkembang menjadi aset produktif yang hasil pengelolaannya dapat memberikan manfaat secara berkelanjutan. 

Indonesia Endowment Ecosystem akan diperkenalkan melalui Indonesia Endowment Ecosystem Summit 2026 pada Rabu, 9 September 2026, mulai pukul 18.00 WIB Hotel Borobudur, Jakarta Pusat.

 Forum ini menjadi titik awal gerakan kolaboratif untuk membangun dampak sosial berkelanjutan pada bidang pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan kemanusiaan. Chairman Indonesia Endowment Ecosystem sekaligus CEO Rumah Wakaf, Rendi Septiyan Nugraha, mengatakan pengembangan ekosistem ini diarahkan untuk mendorong perubahan paradigma dalam filantropi, dari sekadar menghimpun dana menjadi membangun aset produktif yang dapat menopang program sosial dalam jangka panjang.

Melalui model endowment, kontribusi yang dihimpun tidak semata-mata dibelanjakan hingga habis, melainkan dikelola secara produktif. Hasil pengelolaan aset tersebut kemudian dapat digunakan untuk mendukung berbagai program sosial secara berkelanjutan. Konsep tersebut sejalan dengan prinsip wakaf yang menjadikan aset sebagai fondasi manfaat lintas generasi. Indonesia Endowment Ecosystem menerjemahkan prinsip itu ke dalam infrastruktur kolaborasi yang menghubungkan pengelola wakaf, platform digital, organisasi sosial, institusi, komunitas, serta mitra pengelola investasi. Secara sederhana, model ini dibangun melalui tiga lapisan utama, yakni aset wakaf sebagai fondasi dana abadi, pengelolaan produktif untuk menghasilkan manfaat berkelanjutan, serta program sosial sebagai muara dampak bagi masyarakat. 

Indonesia Endowment Ecosystem tidak dirancang sebagai satu program sosial atau kampanye tunggal, melainkan sebagai infrastruktur bersama yang memungkinkan berbagai pihak menjalankan perannya masing-masing. Dalam arsitektur tersebut, SharingHappiness.org berperan sebagai digital gateway yang menghubungkan akses digital, keterlibatan donatur, dan ekosistem kampanye. Rumah Wakaf menjadi nazhir sekaligus ecosystem backbone dalam aspek tata kelola dan pengelolaan aset wakaf. Sementara NGO dan institusi mitra, salah satunya Rumah Zakat, berperan sebagai impact owner yang menjalankan program dan mengelola dampak sosial. Mitra manajemen investasi berperan dalam pengelolaan aset secara profesional dan optimalisasi hasil produktif. 

CEO SharingHappiness, Zaeni Ramdan, menilai teknologi dan ekosistem digital memiliki peran penting dalam memperluas partisipasi masyarakat dalam model filantropi jangka panjang. Melalui SharingHappiness.org, akses masyarakat terhadap berbagai kampanye endowment diharapkan menjadi lebih mudah sekaligus terhubung dengan infrastruktur pengelolaan wakaf yang telah dibangun.

SharingHappiness.org sendiri menjadi salah satu komponen penting dalam arsitektur Indonesia Endowment Ecosystem. Dalam dokumen strategi ekosistem, platform ini tercatat memiliki lebih dari 1,2 juta donatur aktif dalam ekosistem dan dikembangkan sebagai gerbang digital untuk berbagai kategori wakaf strategis. 

Model kolaborasi ini juga dirancang agar NGO dan organisasi mitra tetap memiliki kepemilikan kampanye, hubungan dengan donatur, keterlibatan komunitas, implementasi program, serta storytelling dampak. Sementara itu, pengelolaan wakaf, tata kelola dan kepatuhan, investasi produktif, serta pelaporan transparansi menjadi bagian dari infrastruktur Rumah Wakaf. Dengan model tersebut, organisasi sosial tidak harus membangun sendiri seluruh infrastruktur yang dibutuhkan untuk mengembangkan endowment, tetapi dapat berkolaborasi sesuai kompetensi dan perannya masing-masing.

Dari sisi implementasi, Rumah Zakat berperan sebagai salah satu impact owner dalam Indonesia Endowment Ecosystem. Chief Marketing & Digital Fundraising Officer Rumah Zakat, Didi Sabir, menyampaikan pengalaman Rumah Zakat dalam membangun dana abadi sebagai salah satu upaya menjaga keberlanjutan dampak sosial, khususnya di bidang pendidikan. Sebagai impact owner, Rumah Zakat berfokus pada pengelolaan program dan memastikan manfaat dana abadi dapat memberikan dampak yang berkelanjutan.

Rumah Zakat juga telah membangun jalur pengembangan dana abadi melalui wakaf uang yang dananya diamanahkan kepada Rumah Wakaf untuk dikelola, serta penyaluran nilai manfaat dari nasabah yang berminat menitipkan nilai manfaatnya menjadi dana abadi Rumah Zakat. Skema ini turut disosialisasikan melalui intimate gathering sebagai upaya membuka partisipasi dan kolaborasi yang lebih luas dalam membangun dana abadi.

Hadirkan Regulator, Akademisi hingga Praktis

Indonesia Endowment Ecosystem Summit 2026 akan menghadirkan sejumlah tokoh dari unsur regulator, ekonomi dan keuangan syariah, akademisi, praktisi bisnis, serta pengelola wakaf. Mereka adalah Prof. Dr. H. Waryono, S.Ag., M.Ag., Direktur Pemberdayaan Zakat & Wakaf; H. Anas Nasikhin, M.Si., Sekretaris Badan Wakaf Indonesia; Didi Sabir, S.H., M.Kn., Chief Marketing & Digital Fundraising Officer Rumah Zakat; Prof. Dr. Raditya Sukmana, SE., MA., Guru Besar Ekonomi Islam Universitas Airlangga; Dr. Aminul Rachman Pulungan, Konsultan & Pengusaha Bisnis; serta Rendi Septiyan Nugraha, S.E., M.B.A., CEO Rumah Wakaf.

Kehadiran para pemangku kepentingan lintas sektor tersebut diharapkan membuka dialog mengenai pengembangan wakaf produktif, tata kelola investasi, pemanfaatan teknologi, hingga kolaborasi kelembagaan dalam membangun sumber pendanaan sosial yang lebih berkelanjutan. Rangkaian Summit akan mencakup Ecosystem Launch, keynote speech, diskusi panel, Strategic Partnership Announcement, serta sesi networking yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dalam ekosistem. 

Indonesia Endowment Ecosystem mengembangkan empat portofolio dana abadi untuk mendukung pembangunan sosial, yakni pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan kemanusiaan. Dana Abadi Pendidikan diarahkan antara lain untuk mendukung beasiswa, infrastruktur sekolah, dan riset berkelanjutan. Dana Abadi Kesehatan mencakup layanan kesehatan komunitas dan fasilitas medis produktif. Dana Abadi Lingkungan diarahkan pada konservasi, energi bersih, dan ketahanan iklim, sedangkan Dana Abadi Kemanusiaan ditujukan untuk mendukung respons krisis dan pemberdayaan komunitas rentan. 

Pada tahap awal, pendidikan menjadi fokus pembangunan pertama dalam portofolio dana abadi Indonesia Endowment Ecosystem. Melalui pendekatan tersebut, kontribusi sosial diharapkan tidak hanya menghasilkan manfaat pada satu periode, tetapi berkembang menjadi aset yang terus bekerja dan menopang program-program sosial pada masa mendatang.
Menuju Ekosistem Endowment Nasional
Peluncuran Indonesia Endowment Ecosystem Summit 2026 menjadi bagian awal dari roadmap pengembangan ekosistem hingga 2028. Pada 2026, fokus diarahkan pada peluncuran ekosistem dan Summit perdana, onboarding mitra pendiri dan regulator, serta pembentukan tata kelola dasar. Pada 2027, pengembangan memasuki fase ekspansi melalui perluasan portofolio dana abadi, penambahan kemitraan investasi, dan pengembangan sistem pelaporan dampak terstandarisasi.

Selanjutnya pada 2028, Indonesia Endowment Ecosystem diarahkan menuju skala nasional lintas provinsi, integrasi dengan kebijakan filantropi nasional, serta pembentukan ekosistem endowment yang mandiri dan berkelanjutan. Indonesia Endowment Ecosystem membawa visi untuk mendorong perubahan pola hubungan antarpelaku sosial, dari kompetisi penggalangan dana menuju kolaborasi penciptaan dampak. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.