SURYA.co.id, SURABAYA - Lima mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) Jawa Timur mengembangkan produk pembersih sepatu berbahan limbah kulit buah.
Inovasi bernama Smartfoam itu memanfaatkan eco-enzyme dan menawarkan cara membersihkan sepatu tanpa membutuhkan air saat diaplikasikan.
Produk tersebut dikembangkan melalui Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K).
Gagasan ini berangkat dari upaya menghadirkan produk perawatan sepatu yang praktis sekaligus memanfaatkan limbah organik yang selama ini kerap berakhir di tempat sampah.
Baca juga: FK Unusa Edukasi Pengasuh dan Pendidik Agar Lebih Tepat Hadapi Tantrum Anak
Tim Smartfoam beranggotakan Baroatus Silmi, Dhurrotun Nafisah, Naily Zakiyatul K, Sania 'Ainiyati, dan Ahda Dini Salsabila dari Program Studi Manajemen.
Mereka berada di bawah bimbingan Dr Rudi Umar Susanto, S.Pd., M.Pd.
Eco-enzyme yang digunakan Smartfoam diperoleh melalui pengolahan limbah kulit buah.
Bahan tersebut selanjutnya diformulasikan dengan sejumlah bahan pendukung, seperti methyl ester sulfonate, air, natrium klorida (NaCl), dan essential oil.
Ketua tim Smartfoam, Baroatus Silmi, mengatakan inovasi tersebut dibuat untuk menjawab kebutuhan terhadap produk perawatan sepatu yang mudah digunakan dan tetap memperhatikan aspek lingkungan.
“Melalui Smartfoam, kami ingin menghadirkan solusi pembersih sepatu yang praktis tanpa penggunaan air sekaligus memanfaatkan limbah kulit buah menjadi sesuatu yang memiliki nilai guna,” kata Baroatus kepada SURYA.co.id, Kamis (10/9/2026).
Smartfoam menyasar sejumlah kelompok pengguna, mulai mahasiswa, pelajar, pekerja, komunitas pencinta sepatu hingga masyarakat perkotaan.
Menurut Baroatus, penggunaan limbah kulit buah sebagai bahan eco-enzyme juga menjadi bagian dari penerapan konsep zero waste.
Limbah organik yang sebelumnya tidak termanfaatkan diolah kembali menjadi bahan yang memiliki nilai guna.
“Pemanfaatan limbah kulit buah sebagai bahan eco-enzyme juga menjadi bagian dari upaya menerapkan konsep zero waste, terutama melalui pemanfaatan kembali limbah organik,” ujarnya.
Pengembangan Smartfoam tidak berhenti pada pembuatan formula.
Tim mahasiswa turut melakukan pengujian laboratorium untuk mengetahui karakteristik dan performa produk.
Salah satu hasil pengujian menunjukkan adanya daya hambat sebesar 25,5 milimeter terhadap bakteri Staphylococcus aureus.
Temuan tersebut menjadi salah satu bahan evaluasi tim dalam pengembangan Smartfoam, terutama dari aspek kebersihan.
“Proses pengembangan Smartfoam dilakukan melalui beberapa tahap. Mulai survei pasar, pengumpulan dan pengolahan limbah kulit buah, pembuatan eco-enzyme, formulasi, pengujian laboratorium, produksi, pengemasan hingga pemasaran,” kata Baroatus.
Untuk memperkenalkan produk kepada konsumen, tim Smartfoam memanfaatkan berbagai saluran.
Produk tersebut diperkenalkan melalui bazar, kegiatan car free day di Taman Bungkul, Kota Surabaya, Jawa Timur, lingkungan kampus, media sosial, hingga platform e-commerce.
Bagi kelima mahasiswa tersebut, PKM-K menjadi kesempatan untuk mengembangkan gagasan dari lingkungan akademik menjadi produk yang ditujukan untuk kebutuhan masyarakat.
Proses tersebut sekaligus memberiPengembangan Smartfoam masih akan dilanjutkan.
Tim menyiapkan sejumlah inovasi, termasuk penambahan var pengalaman kepada tim dalam melakukan riset pasar, menyusun formulasi, menguji produk, melakukan produksi dan pengemasan, hingga memperkenalkannya kepada konsumen.
Pengembangan Smartfoam masih akan dilanjutkan. Tim menyiapkan sejumlah inovasi, termasuk penambahan varian aroma dan kemasan berukuran travel size.
Mereka juga berencana memperluas kerja sama dengan pemasok bahan baku.
Kolaborasi dengan komunitas pencinta sepatu dan komunitas lingkungan turut menjadi salah satu rencana pengembangan produk.
“Ke depan, kami ingin terus mengembangkan Smartfoam, baik dari sisi varian aroma, kemasan travel size, maupun perluasan kerja sama dengan pemasok bahan baku,” ujarnya.