SRIPOKU.COM - Presiden Prabowo Subianto turun tangan membantu mencari lima jurnalis yang hilang kontak saat meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Prabowo menginstruksikan TNI Angkatan Laut (AL) untuk membantu mencari keberadaan lima jurnalis yang hilang kontak tersebut.
Hal ini disampaikan eksponen aktivis demokrasi sekaligus Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) RI Budiman Sudjatmiko.
Budiman menyoroti risiko yang dihadapi jurnalis ketika menjalankan tugas di tengah situasi yang membahayakan keselamatan.
Dia berharap proses pencarian dapat segera memberikan kabar mengenai kondisi kelima jurnalis tersebut.
Baca juga: Dijemput Seseorang, Gerak-gerik 5 Jurnalis Sebelum Hilang Kontak Saat Meliput Gunung Anak Krakatau
Menurut Budiman, kawasan Krakatau memiliki karakter khusus karena sejarah letusannya yang pernah menimbulkan bencana besar.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan mengapa peliputan langsung di kawasan gunung api membutuhkan pertimbangan keselamatan yang matang.
"Kami tahu ini adalah bencana besar. Krakatau itulah nama gunung yang legendaris di dunia dikenal, karena dulu ledakannya dahsyat," ujarnya.
Budiman memahami dorongan jurnalis untuk memperoleh informasi dan gambar langsung dari lokasi aktivitas gunung.
Namun, keinginan tersebut menurutnya harus berhadapan dengan risiko ketika medan yang dituju berada di kawasan berbahaya.
"Mungkin ada keinginan dari para wartawan untuk menggali bencana dalam tentang Krakatau, tapi memang sangat berisiko untuk menuju ke sana," ucapnya.
Dalam situasi tersebut, keterlibatan TNI AL dinilai dapat memperkuat upaya negara untuk mengetahui keberadaan para jurnalis.
Budiman menyebut pengerahan armada militer sebagai respons yang sesuai dengan kondisi yang tengah dihadapi.
"Jadi saya pikir arahan Presiden untuk mencari kapal-kapal dari TNI Angkatan Laut itu sebuah arahan yang sangat tepat sasaran dan saya kira kita doakan yang terbaik," tuturnya.
Budiman juga optimistis unsur negara yang terlibat memiliki kemampuan untuk menelusuri keberadaan kelima jurnalis.
Dia menyerahkan hasil akhirnya pada proses pencarian yang sedang dilakukan.
"Kalau dari segi kemampuannya saya yakin bahwa kita, kekuatan kita yang dikerahkan itu bisa mendapatkan jawaban ya," katanya.
Harapan agar kelima jurnalis segera ditemukan juga disampaikan Budiman kepada keluarga yang kini menanti kepastian.
Dia meminta keluarga tetap menjaga harapan selama proses pencarian berlangsung.
"Jawabannya kita berharap yang terbaik lah. Untuk mereka, para jurnalis itu dan keluarganya," ujar Budiman.
Budiman kemudian menyampaikan pesan khusus kepada keluarga kelima jurnalis.
Selain mengandalkan upaya perangkat negara, dia mengajak keluarga untuk terus menguatkan diri melalui doa.
"Pertama ya berdoa, Kedua, percayakan pada perangkat negara, dan jangan lelah untuk berdoa dan mencintai mereka," katanya.
Peristiwa tersebut sekaligus menjadi pengingat bagi pekerja media mengenai pentingnya memperhitungkan keselamatan ketika melakukan peliputan di wilayah berisiko tinggi.
Budiman menilai pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa jurnalis juga pernah menghadapi situasi berbahaya saat berada di lapangan.
Dia mengingat sejumlah kejadian, antara lain ketika beberapa wartawan berada dalam insiden kapal yang karam di Teluk Jakarta.
Dia juga menyebut almarhum Ersa Siregar, jurnalis senior televisi yang tertembak saat meliput konflik di Aceh.
"Saya kirain ini bukan pertama ya, saya ingat beberapa tahun lalu ketika ada kapal yang mau tenggelam di Teluk Jakarta, ada beberapa wartawan juga ke sana yang kemudian ikut karam ya," kata Budiman.
Dari pengalaman tersebut, Budiman melihat perkembangan teknologi dapat dimanfaatkan untuk mengurangi kebutuhan jurnalis berada langsung di titik yang memiliki ancaman keselamatan.
Budiman secara khusus menyarankan penggunaan drone dalam pengambilan gambar.
"Menurut saya begini ya, ini ada teknologi sekarang namanya drone. Pakailah itu kalau ingin mengambil gambar di daerah-daerah seperti ini," ujarnya.
Teknologi tersebut, menurut Budiman, dapat menjadi pilihan ketika kebutuhan visual mengharuskan pengambilan gambar dari lokasi seperti kawah, jurang, maupun kawasan lain yang sulit dijangkau secara aman.
"Saya kira gambar berbicara lebih kuat daripada sekadar kata-kata. Ya manfaatkan saja teknologi drone untuk mengambil gambar di kawah, mengambil gambar di jurang, mengambil gambar di manapun daerah-daerah yang berisiko tinggi, baik itu bencana alam ataupun bencana sosial kerusuhan," katanya.
Budiman menilai pemanfaatan teknologi pada akhirnya bukan untuk menggantikan peran manusia, melainkan membantu mengurangi pekerjaan dan risiko yang dapat membahayakan keselamatan.
"Teknologi itu diciptakan oleh orang-orang kan dalam rangka untuk membuat kita aman. Mengurangi kerja-kerja rutin, mengurangi risiko kerja, mengurangi resiko kebosanan kerja-kerja rutin, mengurangi resiko kelelahan kerja-kerja fisik, mengurangi resiko keselamatan kerja-kerja berbahaya, itu fungsinya drone, fungsinya robot, kan begitu,” pungkasnya.
Diketahui, Presiden Prabowo Subianto memberikan instruksi pencarian lima jurnalis dan tiga kru kapal yang hilang saat meliput Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengatakan, instruksi Prabowo telah disampaikan kepada KSAL Laksamana TNI Muhammad Ali sejak Senin (7/9/2026) malam.
“Sejak rombongan lima jurnalis bersama tiga kru kapal dilaporkan hilang kontak, sejak Senin malam Presiden Prabowo memang sudah langsung menginstruksikan KSAL untuk segera melakukan pencarian, di hari itu juga TNI-AL langsung mengirim kapal-kapalnya," ucap Teddy dikutip dari Instagram @sekretariat.presiden, Kamis (10/9/2026).