TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Angka kecelakaan lalu lintas di Indonesia masih menyisakan keprihatinan mendalam.
Data Korlantas Polri sepanjang 2024 mencatat lebih dari 152 ribu kasus kecelakaan dengan korban meninggal mencapai lebih dari 27 ribu orang—atau setara satu nyawa melayang hampir setiap jam.
Ironisnya, kelompok usia muda dan produktif (6–25 tahun) menjadi penyumbang terbanyak korban kecelakaan, yakni mencapai 39,48 persen.
Mayoritas insiden yang didominasi sepeda motor ini berakar dari perilaku berisiko di jalan raya yang sebenarnya bisa dicegah.
Kerap kali, pengabaian hal dasar seperti enggan menggunakan helm karena alasan kepraktisan hingga kebiasaan main ponsel saat berkendara menjadi pemicu utama fatalitas.
Kepala Seksi Pendidikan Masyarakat Ditlantas Polda Metro Jaya, Sri Indira Purnamawati, menekankan bahwa edukasi keselamatan berkendara tidak boleh berhenti pada penegakan hukum semata.
Pendekatan yang konsisten dan lekat dengan keseharian anak muda menjadi kunci agar aturan tidak cuma dipahami, tetapi diresapi sebagai kebiasaan.
Menjawab tantangan tersebut, pendekatan edukasi berbasis kreativitas digital mulai digencarkan.
Salah satunya melalui kampanye keselamatan berkendara “Stay Alive for The Next Chapter” yang mengandalkan kompetisi film pendek dan tantangan media sosial.
Medium seperti Instagram, TikTok, dan YouTube dimanfaatkan untuk menjangkau Gen Z lewat bahasa visual yang lebih masuk akal dan relevan bagi mereka.
Baca juga: Kecelakaan Lalu Lintas Saat Mudik Lebaran 2026 Naik, 22 Kasus Terjadi di Jalan Tol
Ketua Yayasan AHM, Ahmad Muhibbuddin, menyampaikan bahwa mengubah perilaku berkendara menjadi budaya aman memerlukan proses panjang dan keterlibatan banyak pihak.
Pemanfaatan konten kreatif dinilai efektif memperluas jangkauan pesan mendesak ini ke masyarakat luas.
Sepanjang Mei hingga Juli 2026, ajang Safety Riding Short Movie Contest berhasil mengumpulkan 340 karya film pendek serta konten media sosial.
Seluruh karya tersebut mampu menjangkau lebih dari 1,7 juta penonton di ruang digital, menyebarkan pesan keselamatan secara organik lewat sudut pandang para kreator muda.
Fahri, pemenang kategori umum asal Depok, merancang karyanya berdasarkan keresahan atas maraknya pengendara yang menggunakan ponsel di jalan.
Pesan bahaya tersebut ia kemas secara tersirat namun membekas.
Sementara itu, Iqbal Bahi dari Universitas Siber Asia meraih juara kategori mahasiswa lewat film “Pulang dengan Selamat” yang menyoroti pentingnya keselamatan berkendara sebagai wujud rasa tanggung jawab kepada keluarga di rumah.
Selain kampanye digital, peran institusi pendidikan turut digandeng untuk memperkuat pembentukan karakter berkendara yang aman.
Dekan FMIPA Universitas Negeri Jakarta, Hadi Nasbey, menilai kampus memiliki peran strategis untuk mentransformasi pengetahuan keselamatan menjadi kebiasaan nyata sehari-hari demi menekan angka kecelakaan di kalangan mahasiswa.