Liputan6.com, Jakarta - Jurnalis Liputan6.com Titis Widyatmoko mengikuti langsung proses pencarian lima jurnalis dan tiga awak speedboat yang hilang kontak saat meliput aktivitas Anak Krakatau. Liputan6.com ikut dalam proses pencarian dengan menumpang KN 247 Tetuka milik Badan Pencarian dan Pertolongan Nasional (Basarnas).
KN 247 Tetuka berangkat dari pelabuhan Ciwandan di Cilegon, Kamis (10/9/2026) sekira pukul 08.00 WIB. Kapal ini melakukan pencarian di zona yang telah ditentukan lewat koordinasi agar tidak berbenturan area dengan kapal lainnya.
Pada pencarian hari ketiga sebanyak enam kapal dikerahkan antara lain KRI Lepu, KN SAR Basudewa, KP Sanjaya, RIP 02 Banten, KAL Pohawang dan KN SAR Tetuka.
KN SAR Tetuka mendapat area penyisiran di sekitar Pulau Rakata Besar hingga mulut Samudra Indonesia.
Kapal SAR ini berisi personel dari berbagai unsur SAR antara lain dari Basarnas, Bakamla, Polairud Polda Banten, serta Ditjen Hubla. Kapal Tetuka dinakhodai oleh Septa Arif Robadi didampingi Kasubdit Patroli Airud Polda Banten, AKBP Lis Handaya.
Selain jurnalis Liputan6.com ikut pula keluarga korban hilang kontak yaitu adik dari jurnalis merdeka.com Arie Basuki, Lintang.
Kapal Tetuka mencapai sisi timur Rakata Besar sekitar pukul 10.30 WIB atau sekitar dua setengah jam sejak berangkat.
Di sisi timur pulau bentukan pasca-letusan besar Krakatau 1883 itu tampak sebuah perahu nelayan sedang melintas. Menurut Lis Handaya memang di wilayah tersebut sering tampak nelayan yang mencari ikan meski kondisi Anak Krakatau dalam aktivitas tinggi. Nelayan sering memilih berada di timur Rakata Besar karena terlindung oleh pulau bertebing tinggi sehingga aman dari lontaran batu atau abu vulkanik.
Sedikit melewati Rakata Besar dari kejauhan tampak Anak Krakatau dan Pulau Sertung. Di belakang Anak Krakatau adalah Rakata Kecil. Letusan 1883 memunculkan tiga pulau yaitu Rakata Besar, Sertung dan Rakata Kecil. Lalu di tengah-tengah tiga pulau itulah muncul Anak Krakatau.
Hari ini pukul 09.10 WIB menurut laporan pos pengamatan gunung api, Anak Krakatau kembali erupsi. Namun tinggi kolom erupsi tidak teramati. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 47 mm dan durasi ± 17 detik.
Dari atas kapal, sekitar 3 mil laut, lahar panas masih tampak mengalir di lereng-lereng Anak Krakatau.
Dari Rakata Besar, kapal diarahkan menuju mulut Samudra Hindia dari Selat Sunda. Batas untuk kembali berputar adalah 30 nautical mil atau sekitar 54 kilometer dari Rakata Besar. Kapal mencapai mulut Samudra Hindia sekitar pukul 13.20.
“Kalau dilihat dari peta besar Indonesia ini pintu keluarnya Indonesia ke Samudra Hindia,” kata Lis Handaya menunjuk laut luas di depannya.
Ketinggian ombak 1,5-2 meter yang tergolong normal. Hingga mulut Samudra Hindia yang berjarak 30 mil laut atau 54 kilometer kalau diumpamakan daratan, dari Rakata Besar, tim pencari belum menemukan objek apapun yang bisa menjadi tanda keberadaan 5 jurnalis dan 3 awak speedboat Arupadhatu.
Kapal Tetuka masih akan bolak-balik dari Rakata Besar ke mulut Samudra Hindia dengan teknik pencarian creeping line. Teknik ini sangat berguna untuk pencarian di lokasi dengan arus kuat dan area sempit.
“Pola pencariannya seperti kapal sedang menyeterika,” ucap Lis Handaya.