PJJ Akibat Erupsi Anak Krakatau di Kabupaten Serang Berjalan Lancar, Dindikbud Sebut Siswa Adaptif
Abdul Rosid September 10, 2026 06:07 PM

Laporan Wartawan TribunBanten.com, Muhammad Uqel

TRIBUNBANTEN.COM, ‎SERANG - Penerapan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di seluruh satuan pendidikan jenjang PAUD, SD, hingga SMP di Kabupaten Serang yang digulirkan akibat aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau ternyata berjalan lancar dan efektif.

‎Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kabupaten Serang, Muhammad Hanafiah, membeberkan evaluasi pelaksanaan PJJ yang memanfaatkan pengalaman berharga di masa pandemi COVID-19.

‎Surat edaran terkait pelaksanaan PJJ telah resmi diterbitkan sejak Senin (7/9/2026) kemarin. Kebijakan ini bersifat sementara dan akan terus dievaluasi setiap tiga hari sekali dengan memantau perkembangan kondisi di lapangan.

Baca juga: Pemkab Serang Bidik Sektor Perikanan Jadi Andalan Ekonomi Daerah, Produksi Tembus 67 Ribu Ton

‎Keputusan ini juga akan tetap menyesuaikan dengan arahan dari Pemerintah Provinsi Banten, mengingat wilayah Kabupaten Serang juga menampung sejumlah sekolah jenjang SMA/SMK yang berada di bawah kewenangan provinsi.

‎"Kita lihat tiga hari ke depan, kondisinya juga sama. Data internal yang kita miliki ditambah kebijakan provinsi menjadi pertimbangan utama. Malam ini diperkirakan akan ada informasi terbaru terkait kondisi terkini," jelas Hanafi kepada wartawan, Kamis (10/9/2026).

‎Selama berlangsungnya PJJ, pihaknya rutin melakukan pemantauan dan monitoring ke sekolah-sekolah mulai dari jenjang SD hingga SMP. Hasilnya, proses pembelajaran berjalan sesuai harapan.

‎"Alhamdulillah berjalan lancar. Pengalaman kita saat masa Covid-19 menjadi bekal berharga. Sekolah dan guru sudah terbiasa, sehingga pelaksanaannya menjadi lebih efektif dan sesuai dengan skenario yang kita harapkan," ungkapnya.

‎Selama berada di rumah, siswa tetap mendapatkan materi dan tugas dari sekolah. Metode pemberian tugas pun beragam, disesuaikan dengan kemampuan dan ketersediaan fasilitas masing-masing siswa.

‎"Tugas-tugasnya bisa bermacam-macam, sebagian besar disampaikan secara daring. Sekaligus melatih siswa untuk semakin terbiasa memanfaatkan teknologi dalam proses belajar," ujar Hanafiah.

‎Karena mayoritas siswa masih berusia dini, pendampingan orang tua atau anggota keluarga dewasa sangat diwajibkan. Guru-guru juga diminta memastikan kehadiran dan partisipasi seluruh siswa dalam kegiatan PJJ agar tidak ada yang tertinggal.

‎Salah satu hal yang menjadi perhatian utama Dindikbud adalah kecenderungan sebagian siswa yang justru bermain di luar rumah tanpa menggunakan masker di luar jam belajar. Hal ini tentu berisiko terpapar abu vulkanik yang masih melayang di udara.

‎"Memang di sekolah anak-anak tertib, tapi begitu di rumah pengaruh lingkungan sangat besar dan jadi tantangan kita saat ini," akui Hanafiah.

‎Oleh karena itu, Dindikbud terus mengajak seluruh orang tua dan wali murid untuk berkolaborasi aktif mendampingi anak belajar sekaligus membudayakan penggunaan masker jika harus beraktivitas di luar rumah.

‎"Kita tidak bisa sendirian. Sekolah bertugas memberikan pembelajaran, tapi orang tua dan lingkungan sekitar yang memegang kunci keselamatan anak-anak kita," pesan Hanafiah.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.