Ancaman Demografi dan PMB PTKIN, Rektor UIN Saizu Dorong Riset dan Penguatan Vokasi
abduh imanulhaq September 10, 2026 06:55 PM

TRIBUNJATENG.COM, PEKALONGAN - Rektor Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (uinsaizu) Purwokerto, Prof. Ridwan, turut aktif dalam Forum Admisi UIN se-Jawa-Madura bersama Direktur Jenderal Pendidikan Islam (Dirjen Pendis) Kementerian Agama RI, Prof. Amin Suyitno, di Working Space Kafe Garwo UIN K.H. Abdurrahman Wahid (UIN Gus Dur) Pekalongan, Kamis (10/9/2026).

Forum tersebut diikuti para rektor UIN se-Jawa-Madura beserta tim yang menangani penerimaan mahasiswa baru di masing-masing perguruan tinggi.

Dari UIN Saizu, selain Rektor Prof. Ridwan, forum juga diikuti Kepala Pusat Promosi dan Informasi Mahasiswa Baru (PPIMB) Dr. Sumiarti.

Kehadiran unsur pimpinan dan pengelola admisi tersebut turut memperkuat pembahasan mengenai strategi penerimaan mahasiswa baru dan pengembangan promosi perguruan tinggi di tengah perubahan demografi serta dinamika pilihan calon mahasiswa.

Forum yang dikemas dalam suasana ngobrol bersama para rektor tersebut menjadi ruang diskusi mengenai penerimaan mahasiswa baru (PMB), tren penurunan jumlah pendaftar, strategi jalur penerimaan mahasiswa, hingga pengembangan kelembagaan PTKIN.

Diskusi berlangsung hangat dan interaktif dengan para rektor serta tim admisi aktif menyampaikan pertanyaan dan gagasan kepada Dirjen Pendis.

Forum dimoderatori Rektor UIN Gus Dur Pekalongan, Prof. Zaenal Mustaqim.

Selain membahas persoalan admisi, diskusi juga menyoroti pengembangan Fakultas Kedokteran, program studi vokasi, serta Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dan Program Studi di Luar Kampus Utama (PSDKU).

Dalam forum tersebut, Prof. Ridwan menyampaikan pandangannya mengenai perlunya penguatan kelembagaan dan strategi admisi di tengah perubahan demografi.

Menurutnya, perkembangan demografi perlu menjadi perhatian serius karena berpengaruh terhadap ketersediaan calon mahasiswa pada masa mendatang.

"Setiap sektor punya kewenangan untuk membentuk pusat apa pun sesuai dengan kebutuhannya, yang kemudian bisa menjadi ruang bagi para rektor untuk membentuk kelembagaannya masing-masing. Dari sisi ortaker, bentuk yang paling mungkin adalah pusat," ujar Prof. Ridwan.

Dia juga menyoroti tren penurunan angka kelahiran yang berdampak pada jumlah calon mahasiswa.

Berdasarkan data yang disampaikannya dalam forum, rata-rata jumlah anak dalam keluarga Indonesia pada 2024 berada di angka 2,6, menurun dibandingkan sekitar lima anak pada 1970.

Menurut Prof. Ridwan, kondisi tersebut perlu dibaca sebagai perubahan struktural yang turut memengaruhi jumlah pendaftar perguruan tinggi.

Fenomena regrouping atau penggabungan sekolah dasar di sejumlah daerah menjadi salah satu gambaran dari perubahan demografi tersebut.

"Artinya, jumlah calon mahasiswa dari tahun ke tahun semakin sedikit. Ini adalah sebuah fakta ketika kita ingin menaikkan jumlah pendaftar, padahal di saat yang sama angka kelahiran semakin kecil," jelasnya.

Selain faktor demografi, Prof. Ridwan melihat adanya perubahan orientasi calon mahasiswa yang mulai bergeser dari pilihan pendidikan akademik menuju pendidikan vokasi.

Menurutnya, perubahan tersebut perlu direspons PTKIN dengan menjadikan pengembangan program studi vokasi sebagai salah satu kebijakan strategis.

"Di sisi lain, terdapat pergeseran orientasi calon mahasiswa dari pilihan akademik ke vokasi. Perubahan zaman ini menjadi tantangan sekaligus sinyal agar kita bersiap, salah satunya dengan menjadikan pengembangan prodi vokasi di PTKIN sebagai kebijakan strategis," katanya.

Prof. Ridwan juga menyoroti kondisi ketika jumlah pendaftar meningkat, tetapi jumlah calon mahasiswa yang melakukan registrasi justru belum sebanding.

Menurutnya, fenomena tersebut perlu dikaji melalui riset karena dapat dipengaruhi berbagai variabel.

Dia menilai, tim admisi tidak hanya bertugas meningkatkan jumlah pendaftar, tetapi juga perlu meyakinkan calon mahasiswa mengenai keunggulan PTKIN.

Penguatan social trust menjadi salah satu aspek penting agar masyarakat semakin percaya dan memilih PTKIN sebagai tempat melanjutkan pendidikan.

Menanggapi berbagai isu tersebut, Prof. Amin Suyitno menyampaikan bahwa pengembangan program studi di PTKIN saat ini diarahkan pada tiga varian, yakni akademik, profesi, dan vokasi.

Perguruan tinggi juga memiliki ruang untuk mengusulkan program studi baru dengan tetap memperhatikan kebutuhan dan relevansinya.

"Kita sudah mengusulkan tiga varian prodi, akademik, profesi, dan vokasi. Dalam PMA tentang prodi, rektor punya keleluasaan untuk mengusulkan prodi baru. Kita perlu mengembangkan dengan memperhatikan epistemologi dan benchmark pasar. Mana yang relevan dan kurang relevan," ungkap Prof. Amin.

Terkait Fakultas Kedokteran, Prof. Amin mendorong PTKIN untuk memanfaatkan peluang pengembangannya.

Menurutnya, penyelenggaraan Fakultas Kedokteran dapat menjadi bagian dari penguatan identitas dan pengembangan UIN.

Sementara mengenai PJJ dan PSDKU, Prof. Amin mengingatkan agar perguruan tinggi memenuhi seluruh standar yang dipersyaratkan, mulai dari dosen hingga infrastruktur.

Penyelenggaraan PJJ juga perlu dipersiapkan secara serius karena memiliki mekanisme akreditasi tersendiri.

Secara khusus, Prof. Amin menilai persoalan penurunan jumlah pendaftar yang disampaikan UIN Saizu perlu dikaji melalui riset, termasuk keterkaitannya dengan perubahan demografi.

Ia juga menyetujui gagasan pembentukan pusat sesuai kebutuhan kelembagaan serta penguatan forum admisi.

"Untuk UIN Saizu Purwokerto, betul penurunan pendaftar dan demografi harus diriset. Saya setuju sudah ada statuta rektor boleh mendirikan pusat," tegasnya.

Forum tersebut ditutup dengan kesepahaman bahwa persoalan admisi PTKIN membutuhkan respons bersama dan berbasis data.

Pertukaran gagasan antara para rektor, tim admisi, dan Dirjen Pendis diharapkan dapat melahirkan strategi baru dalam menghadapi perubahan demografi, tren pilihan pendidikan, serta dinamika penerimaan mahasiswa baru.

Melalui forum tersebut, uinsaizu turut mengambil bagian dalam upaya mencari solusi bersama untuk memperkuat daya saing PTKIN dan memastikan perguruan tinggi Islam negeri tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat di tengah perubahan zaman. (***)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.