Cerita di Balik Comeback Arsenal atas Chelsea, Neville Semprot Carragher Gara-Gara Firmino
Hasiolan Eko P Gultom September 10, 2026 07:30 PM

Cerita di Balik Comeback Arsenal atas Chelsea, Neville Semprot Carragher Gara-Gara Firmino

TRIBUNNEWS.COM - Arsenal sukses melakukan comeback saat menghadapi Chelsea. Sempat kebobolan cepat, The Gunners akhirnya membalikkan keadaan dan menang 2-1 di Emirates Stadium, Minggu (6/9/2026) malam WIB.

Namun, ada cerita menarik yang mengiringi kemenangan Arsenal tersebut.

Sebelum pertandingan, legenda Manchester United Gary Neville sempat “menyemprot” Jamie Carragher dalam perdebatan panas soal satu nama yang sangat familiar bagi penggemar Liverpool: Roberto Firmino.

Bukan karena Firmino sedang bermain.

Mantan striker Liverpool itu bahkan sudah meninggalkan Anfield sejak 2023.

Tapi bagi Neville, nama Firmino tetap tidak boleh dianggap enteng.

Baca juga: Arsenal Menang di Napoli, Seragam Serba Merah Ini Ternyata Punya Cerita Hoki

Gara-Gara Firmino, Carragher Kena Semprot

Perdebatan itu muncul ketika Neville, Carragher, dan Daniel Sturridge membahas lini depan Arsenal.

Pembicaraan awalnya cukup serius: apakah Kai Havertz sudah cukup bagus untuk menjadi striker utama Arsenal?

Neville punya pandangan berbeda.

Menurutnya, Arsenal akan lebih berbahaya jika memiliki striker kelas atas di depan.

Ia bahkan membayangkan seperti apa Bukayo Saka jika bermain bersama pemain sekaliber Julian Alvarez dan Vinicius Junior.

Menurut Neville, keberadaan striker top bukan cuma soal siapa yang mencetak gol.

Pemain seperti itu juga bisa membuat pemain di sekitarnya mendapatkan lebih banyak ruang.

“Havertz bagus, tetapi dia tidak benar-benar membuat bek lawan ketakutan,” kata Neville.

Sturridge tidak sepenuhnya setuju.

Menurutnya, striker yang terlalu produktif juga bisa membuat pemain sayap kehilangan sebagian kesempatan mencetak gol.

Carragher kemudian ikut masuk ke dalam perdebatan.

Dan di sinilah nama Firmino muncul.

Carragher menyebut kehadiran Firmino di Liverpool tidak menghalangi Mohamed Salah untuk tetap mencetak banyak gol.

Mungkin bagi Carragher itu argumen biasa.

Bagi Neville, ternyata tidak.

“Jangan Tidak Menghargai Firmino!”

Neville langsung menyela.

Ia mengingatkan Carragher agar tidak meremehkan Firmino.

“Jangan tidak menghargai Firmino,” kurang lebih begitu pesan Neville dalam perdebatan tersebut.

Neville bahkan menyebut Firmino sebagai pemain yang “luar biasa” dan sangat penting bagi Liverpool.

Menurutnya, Firmino bukan sekadar striker yang tugasnya berdiri di depan gawang dan menunggu bola.

Justru peran Firmino sebagai penghubung antara Sadio Mane dan Mohamed Salah menjadi salah satu kunci permainan Liverpool pada era tersebut.

Carragher kemudian balik bertanya: kalau Firmino bisa menjalankan peran itu, mengapa Havertz tidak bisa melakukan hal serupa untuk Arsenal?

Neville punya jawaban singkat dan cukup telak.

Menurutnya, Havertz belum berada di level Firmino.

Waduh.

Perdebatan pun makin panas.

Padahal awalnya cuma membahas striker Arsenal.

Ujung-ujungnya malah seperti sidang pembelaan Firmino.

Penyerang Liverpool asal Brasil, Roberto Firmino mencetak dua gol dan tiga assist saat Liverpool membantai Bournemouth 9-0 di laga pekan ketiga Liga Inggris 2022.
Penyerang Liverpool asal Brasil, Roberto Firmino mencetak dua gol dan tiga assist saat Liverpool membantai Bournemouth 9-0 di laga pekan ketiga Liga Inggris 2022. (@TheAnfieldTalk)

Firmino Memang Bukan Striker Biasa

Firmino menjadi bagian penting dari era emas Liverpool bersama Salah dan Mane.

Bersama dua pemain tersebut, ia membentuk trio yang menjadi salah satu lini depan paling ditakuti di Premier League.

Selama memperkuat Liverpool, Firmino mencatat 111 gol dalam 362 pertandingan.

Ia ikut membantu Liverpool memenangkan Liga Champions pada 2019 dan mengakhiri penantian panjang klub untuk menjuarai Premier League pada 2020.

Karena itu, argumen Neville sebenarnya punya dasar.

Firmino memang tidak selalu menjadi pemain yang paling banyak mencetak gol. Tetapi kontribusinya jauh lebih luas.

Ia turun menjemput bola, membuka ruang, menghubungkan lini tengah dengan lini depan, sekaligus membuat Salah dan Mane punya ruang untuk bergerak.

Jadi, kalau ada yang melihat statistik gol saja, mungkin memang mudah menganggap Firmino kalah garang.

Tapi kalau melihat cara Liverpool bermain ketika trio tersebut masih lengkap, ceritanya berbeda.

Arsenal Malah Comeback

Di tengah perdebatan soal striker, Arsenal memberikan jawabannya di lapangan.

The Gunners justru harus tertinggal lebih dulu.

Chelsea langsung mengejutkan tuan rumah ketika Morgan Rogers mencetak gol pada menit kedua.

Berawal dari tendangan bebas yang gagal dibersihkan Arsenal, bola jatuh ke Jorrel Hato. Ia kemudian mengirimkannya kembali ke kotak penalti dan Rogers menyambar dengan tendangan voli.

Chelsea unggul 1-0.

Arsenal langsung bereaksi.

Mereka sempat menyamakan kedudukan pada menit ke-12 lewat Riccardo Calafiori, tetapi gol tersebut dianulir VAR karena Ezri Konsa berada dalam posisi offside dalam proses terjadinya gol.

Arsenal tidak menyerah.

Pada menit ke-25, Kai Havertz akhirnya benar-benar mencetak gol.

Menerima umpan Declan Rice dari sisi kanan, Havertz melewati penjagaan pemain Chelsea sebelum melepaskan tembakan yang melewati sela kaki Maxence Lacroix dan bersarang di pojok kiri gawang Emiliano Martinez.

Skor menjadi 1-1.

Odegaard Membalikkan Keadaan

Chelsea sebenarnya punya peluang untuk kembali unggul sebelum turun minum.

Pedro Neto bahkan sempat melepaskan tembakan dalam situasi serangan balik yang membuat bola membentur tiang.

Tetapi Arsenal berhasil bertahan.

Babak pertama berakhir 1-1.

Lima menit setelah jeda, giliran Arsenal yang membuat Chelsea kelimpungan.

Christos Tzolis membangun serangan dari sisi kiri dan melihat celah di pertahanan Chelsea.

Umpan terobosannya masuk ke kotak penalti.

Havertz melakukan gerak tipu dan bola kemudian jatuh ke Martin Odegaard.

Kapten Arsenal itu langsung menyambar dari jarak dekat.

Gol. Arsenal berbalik unggul 2-1.

Kali ini Chelsea yang harus mengejar.

Raya Jadi Penyelamat

Arsenal sebenarnya punya peluang untuk menambah keunggulan.

Pada menit ke-69, Bukayo Saka memaksa Martinez melakukan penyelamatan.

Semenit kemudian, Chelsea kembali harus bekerja keras setelah sundulan Havertz di depan gawang dibuang Reece James.

Chelsea baru benar-benar mendapatkan peluang emas pada menit ke-89.

Estevao menusuk dan melepaskan tembakan ke arah tiang jauh.

Namun, David Raya masih sigap.

Kiper Arsenal tersebut merentangkan badan dan berhasil menepis bola.

Chelsea terus menekan sampai menit akhir, tetapi Arsenal mampu mempertahankan keunggulan.

Peluit panjang berbunyi.

Arsenal menang 2-1.

Havertz Menjawab Kritik dengan Cara Sendiri

Menariknya, di tengah perdebatan soal apakah Havertz cukup bagus menjadi ujung tombak Arsenal, pemain asal Jerman itu justru mencetak satu gol dan terlibat dalam proses gol kedua.

Ia bukan Firmino.

Dan memang tidak perlu menjadi Firmino.

Perbandingan keduanya juga lahir dari konteks yang berbeda.

Firmino merupakan bagian dari trio yang sudah teruji bersama Salah dan Mane.

Havertz kini menjalankan peran berbeda dalam sistem Arsenal bersama Saka, Odegaard, dan pemain-pemain lainnya.

Tetapi setidaknya pada malam itu, Havertz punya jawaban yang cukup sederhana.

Satu gol dan satu gerak tipu yang membantu Arsenal mencetak gol kemenangan.

Tidak perlu debat panjang.

Arsenal Sempurna, Chelsea Mulai Tersandung

Kemenangan atas Chelsea membuat Arsenal mengawali Liga Inggris dengan catatan sempurna.

The Gunners mengoleksi sembilan poin dari tiga pertandingan dan berada di posisi kedua klasemen, hanya kalah produktivitas gol dari Manchester City.

Chelsea sementara itu harus menerima kekalahan pertamanya.

Mereka mengoleksi enam poin dan turun ke posisi keempat.

Jadi, ada dua cerita yang berjalan bersamaan di Emirates.

Arsenal membuktikan mental comeback mereka dengan membalikkan skor dari 0-1 menjadi 2-1.

Sementara di luar lapangan, Gary Neville sibuk memastikan satu hal: jangan macam-macam kalau sudah membicarakan Roberto Firmino.

Carragher mungkin cuma sedang berdebat soal striker.

Neville sepertinya datang dengan misi tambahan: membela Bobby Firmino habis-habisan!

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.