Pemkot Manado Salurkan 300 Ribu Kiloliter Air di Wilayah Kekeringan
Dewangga Ardhiananta September 10, 2026 07:37 PM

TRIBUNMANADO.CO.ID - Pemerintah Kota (Pemkot) Manado telah menyalurkan air bersih sebanyak 300-an ribu kiloliter (KL) untuk warga Manado, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), yang terdampak musim kemarau.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Manado melalui Kabid Penanganan Darurat BPBD Manado Angelina Bajodo menuturkan, bantuan air diberikan di wilayah yang mengalami krisis air bersih.

"Sudah 300 ribu lebih yang disalurkan," kata dia kepada Tribun Manado, Kamis (10/9/2026).

Menurut dia, air disalurkan lewat kendaraan untuk yang berada di daratan.

Sedang di kepulauan disalurkan lewat kapal.

"Untuk kepulauan, kami bawa di Bunaken serta Manado Tua," kata dia.

Diketahui sejumlah daerah di Manado alami krisis air akibat musim kemarau.

Daerah daerah tersebut adalah Bunaken Kepulauan, Paniki Dua serta Mapanget Barat.

Krisis Air

Kemarau panjang memicu krisis air di sejumlah wilayah di Manado.

Warga hanya bisa berharap bantuan dari pemerintah serta berdoa pada Tuhan agar hujan dapat segera turun.

Jems, warga Kelurahan Bunaken, Kecamatan Bunaken Kepulauan, kota Manado, provinsi Sulut, terlihat senang saat bantuan air bersih mampir di kampungnya, Selasa (8/9/2026) siang.

"Senang sekali, saya berharap ini akan terus dilakukan selama musim kemarau," katanya.

Menurut dia, warga Bunaken mengalami krisis air yang parah di musim kemarau.

Sumur kering.

"Yang ada airnya berasa asin, tak mungkin kita mandi, masak atau mencuci dengan air yang demikian," kata dia.

Lurah Bunaken Rony Caroles menuturkan, kekeringan utamanya dirasakan warga lingkungan 1,2 dan 3.

"Warga di lingkungan tersebut benar benar terdampak," kata dia.

Sebut dia, warga terdampak berjumlah 500 KK.

Dirinya bersyukur dengan bantuan itu.

Sebut dia, ini bisa meringankan beban warga.

Suasana kurang lebih sama di Kelurahan Mapanget Barat.

Di luar panas terik. Di dalam sebuah rumah di Kelurahan Mapanget Barat, Lingkungan 1, Kecamatan Mapanget, Kota Manado, Carolina tengah berupaya menidurkan bayinya, beberapa waktu lalu.

Untuk mengusir rasa gerah, Carolina memasang kipas angin yang berjarak beberapa meter dari si bayi.

Angin dari kipas angin sedikit menentramkan si bayi. Matanya mulai menutup.

Carolina lega sebab bayinya segera tertidur. "Suhu gerah sekali," kata dia.

Kelurahan itu berbatasan langsung dengan Bandara Sam Ratulangi Manado.

Rumah Carolina hanya terpisah ratusan meter dari landasan bandara.

Teriknya sinar matahari yang mengenai landasan membuat suhu di sekitar kian tinggi.

Tak lama kemudian, datang seorang pria dengan sepeda motor.

Ia mengangkut dua galon air yang ditaruh pada bagian depan sepeda motor matic tersebut.

"Ini air isi ulang yang kami beli," kata pria itu.

Diketahui, Kelurahan Mapanget Barat merupakan salah satu daerah di Manado yang mengalami krisis air bersih akibat musim kemarau panjang.

Sumur milik warga sudah mengering, sehingga warga terpaksa mengandalkan air isi ulang serta air sungai.

Carolina mengatakan, dirinya sekeluarga membeli air isi ulang untuk keperluan minum serta mandi.

"Untuk sumur masih ada sedikit sekali air, tapi sudah agak kotor. Terpaksa kami pakai air isi ulang karena ada bayi," kata dia.

Ia menyebutkan bahwa air isi ulang tersebut diambil dari warga yang memiliki sumur bor dengan harga yang bervariasi.

"Kalau ambil langsung harganya Rp 3.000," kata dia.

Membeli air isi ulang ini tak pelak membuat ia harus merogoh kocek lebih dalam.

Lani, warga lainnya, mengaku terpaksa mencuci dan mandi di sungai meskipun kondisi air sungai sudah tidak terlalu baik. "Untuk minum, kami pakai air isi ulang," kata dia.

Ia mengungkapkan bahwa sumur di rumahnya sudah kosong sama sekali.

Kebanyakan warga di sana memang mengandalkan sumur untuk memenuhi kebutuhan air bersih.

"Dan kebanyakan sudah kering, bahkan ada sumur bor yang airnya sudah berkurang," katanya.

Lani membeberkan bahwa krisis air di daerah itu kian parah dan wilayah yang terdampak kekeringan terus meluas.

"Ini sudah hampir terjadi di semua tempat," katanya.

Sementara itu, Ika, warga lainnya, mengaku harus menumpang mandi ke rumah kerabat karena tidak mampu membeli air isi ulang dalam jumlah banyak.

"Kalau saya sih mandinya numpang di keluarga terdekat," katanya.

Ia enggan menggunakan air sungai karena kapasitasnya sudah terbatas dan sudah terlalu banyak orang yang mandi di sana. Menurut Ika, perigi di tanahnya sudah kering total.

"Padahal sudah kami gali tambah dalam, tapi tetap saja kering," keluhnya.

Dia sangat berharap pemerintah dapat segera mendistribusikan bantuan air bersih di kelurahan tersebut.

Menurutnya, Kelurahan Mapanget Barat merupakan salah satu wilayah dengan krisis air terparah di Manado.

"Bukan hanya untuk keperluan sehari-hari, tapi warga di sini umumnya petani sehingga air sangat dibutuhkan," pungkasnya.

Kiriman Air Bersih

Yohana dan sejumlah warga Kelurahan Paniki Dua, Lingkungan 1, Kecamatan Mapanget, Kota Manado, menanti truk pembawa air, Selasa (25/8/2026) pagi.

Mereka duduk di pekarangan rumah, sembari menatap ke arah jalan masuk pemukiman.

Suara kendaraan akan membuat mereka bersikap awas, jangan jangan itu kendaraan truk yang dinanti.

"Kami menanti pembawa air," kata dia.

Ia mengaku stok air warga sudah menipis.

Mereka sangat butuh pasokan air bersih.

Warga Paniki Dua Lingkungan 1 mengalami krisis air bersih di musim kemarau ini.

Semua perigi kering.

Selama ini warga mengandalkan perigi untuk beroleh air bersih.

PDAM tak masuk kesana.

"Perigi kering," katanya.

Yohana menunjukkan perigi miliknya di samping kanan rumah.

Penutupnya digeser dan tampaklah isinya berupa lubang hitam dengan tanah pada dasarnya.

"Perigi ini dalamnya empat meter, kami tutup terus agar bisa ada air, tapi akhirnya kering juga," kata dia.

Ungkap dia, truk pengangkut air datang tak tentu.

Frekuensinya rata rata sepekan sekali.

Jika tak ada pasokan air dari truk, warga terpaksa beli air.

"Harganya Rp 120 ribu per tong," katanya.

Kadang pula, sebut dia, warga minta air pada SPPG di seputaran pemukiman itu.

Air di SPPG berasal dari sumur bor.

"Mereka kasih, tapi kan tak selalu buka," katanya.

Yohana berharap agar ada bantuan air yang lebih intens di pemukiman tersebut.

Warga, sebut dia, sudah sangat menderita karena kekurangan air.

"Kami juga berdoa kepada Tuhan agar segera menurunkan hujan, agar perigi kami kembali penuh," kata dia.

Mayer warga lainnya mengaku kerap merasa senang saat lihat awan hitam di langit.

Awan itu tampak beberapa hari yang lalu.

"Namun hujan belum juga turun," kata dia.

Ungkap dia, kekurangan air membuat warga bersiasat.

Untuk mandi, ia mencontohkan, air dicicil. Satu orang untuk tiga hingga empat gayung.

"Begitu pun untuk mencuci," katanya.

Warga juga bergotong royong dalam mengatasi kekurangan air.

Yang berlebih membagi kepada yang kekurangan.

"Kadang tetangga yang dapat banyak air membagi ke yang sedikit," katanya.

Seorang warga lainnya yang enggan disebut namanya mengatakan, pasokan air dari truk kadang tak cukup.

Karena jumlah warga yang butuh terbilang banyak.

Pernah ia hanya kebagian satu ember saja.

"Mungkin ini harus ditambah airnya, karena banyak warga disini yang betul betul menderita karena kekurangan air," katanya.

(TribunManado.co.id/Art)

WhatsApp TribunManado.co.id : KLIK

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.