Anak Agus Salim Ungkap Sosok Tersangka Pembunuhan Kepahiang, Orang Kepercayaan-Sempat Ikut Evakuasi
Hendrik Budiman September 10, 2026 07:41 PM

 

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, M. Bima Kurniawan

TRIBUNBENGKULU.COM, KEPAHIANG - Anak Agus Salim, Abdi Negara, mengungkap sosok WH (30), tersangka dalam kasus kematian ayahnya di Desa Pagar Gunung, Kabupaten Kepahiang.

Tak disangka, WH ternyata merupakan orang yang selama ini dipercaya dan cukup dekat dengan keluarga, bahkan sempat ikut berkumpul bersama keluarga setelah Agus Salim ditemukan meninggal dunia.

Abdi Negara, anak Agus Salim, mengenang sosok ayahnya sekaligus menceritakan hari-hari terakhir sebelum sang ayah ditemukan meninggal dunia di saluran irigasi belakang rumah warga, Sabtu (5/9/2026) pagi.

Bagi Abdi, salah satu hal yang paling sulit diterima keluarga adalah sosok yang kini menjadi tersangka dalam perkara tersebut ternyata bukan orang asing.

WH (30), tersangka dalam kasus kematian Agus Salim, disebut selama ini cukup dekat dengan korban dan keluarga.

ANAK KORBAN - Abdi Negara, anak Agus Salim, saat ditemui di rumahnya di Desa Pagar Gunung, Kecamatan Kepahiang, Kamis (10/8/2026). Abdi Negara tak menyangka WH, orang yang disebut sangat dekat dan dipercaya keluarganya, kini menjadi tersangka pembunuhan ayahnya, Agus Salim.
ANAK KORBAN - Abdi Negara, anak Agus Salim, saat ditemui di rumahnya di Desa Pagar Gunung, Kecamatan Kepahiang, Kamis (10/8/2026). Abdi Negara tak menyangka WH, orang yang disebut sangat dekat dan dipercaya keluarganya, kini menjadi tersangka pembunuhan ayahnya, Agus Salim. (Tribun Bengkulu/Bima Kurniawan)

"Kalau berceritanya lumayan sering. Karena sepertinya beliau sangat akur. Lumayan dekat dengan si pelaku," kata Abdi kepada TribunBengkulu.com.

Kedekatan itu salah satunya terjadi karena Agus Salim tengah mempersiapkan diri untuk menunaikan ibadah haji.

Ayah Abdi disebut kerap berbincang dan bertanya kepada WH mengenai persiapan haji. Saat itu, WH diketahui merupakan pengurus travel umrah.

"Karena beliau sering bercerita, sering bertanya-tanya tentang haji. Karena dia kan sebagai pengurus travel umrah," ujarnya.

Sebelum peristiwa tersebut, Abdi juga mengaku tidak pernah mendengar adanya konflik antara ayahnya dan WH.

"Tidak ada," kata Abdi.

Tersangka Sempat Berkumpul Bersama Keluarga

Kedekatan antara korban dan tersangka membuat keluarga Agus Salim tidak menaruh kecurigaan ketika WH berada di sekitar mereka setelah korban ditemukan meninggal dunia.

Abdi bahkan masih mengingat WH sempat berkumpul bersama keluarga di depan rumah.

"Bahkan kita kumpul-kumpul depan rumah, dia ikut gabung bercerita. Tidak ada kita menaruh kecurigaan," ungkap Abdi.

Polisi sebelumnya menyebut WH juga sempat ikut membantu proses evakuasi hingga pemakaman Agus Salim.

Karena itu, ketika keluarga akhirnya mengetahui WH telah ditetapkan sebagai tersangka, Abdi mengaku sangat marah sekaligus kecewa.

Baca juga: Pengakuan Pembunuh Lansia di Pagar Gunung Kepahiang: Pakai Uang Titipan Rp10 Juta untuk Judol

"Ya, kita sangat marah lah. Orang yang sangat dipercaya, sangat dekat dengan keluarga, tahu-tahunya berbuat seperti ini, kan sangat kecewa kita lihatnya, kan," katanya.

Keluarga sama sekali tidak menduga orang yang selama ini dekat dengan mereka justru terseret dalam perkara tersebut.

"Ya, kita sangat tidak menyangka, ya. Di luar perkiraan lah," ujar Abdi.

Hubungan baik, menurut Abdi, juga terjalin antara keluarga korban dan keluarga tersangka.

"Bahkan dengan keluarga tersangka, terutama istrinya, neneknya, orang tuanya dulu. Sampai sekarang kita masih sangat akur," katanya.

Malam Terakhir, Agus Salim Masih Ceria Bahas Haji

Sebelum ditemukan meninggal dunia, Agus Salim tengah mempersiapkan keberangkatannya untuk menunaikan ibadah haji.

Menurut Abdi, ayahnya sangat bersemangat menceritakan berbagai persiapan tersebut kepada keluarga.

"Beliau sangat semangat untuk menceritakan tentang persiapannya melaksanakan ibadah haji ini. Karena mungkin menunggunya sudah sangat lama," ujarnya.

Komunikasi terakhir Abdi dengan ayahnya terjadi pada Jumat (4/9/2026) malam, beberapa jam sebelum Agus Salim ditemukan meninggal.

Keduanya berkomunikasi melalui panggilan video.

Dalam percakapan tersebut, Agus Salim mengatakan akan berangkat ke Bengkulu pada Sabtu untuk mengurus paspor dan berencana menginap di Bengkulu.

"Saya komunikasinya di malam kejadian. Malam dia menelepon, video call. Mengatakan bahwa dia akan ke Bengkulu sebenarnya hari Sabtu itu," kata Abdi.

"Untuk mengurus paspor itu. Untuk menginap di Bengkulu," lanjutnya.

Tidak ada hal yang dianggap aneh dalam percakapan terakhir tersebut.

Abdi mengatakan ayahnya masih terlihat ceria ketika bercerita mengenai rencana ibadah haji.

"Biasa. Tidak ada tanda-tanda yang aneh. Beliau masih ceria untuk bercerita tentang persiapannya. Sangat ceria beliau," tuturnya.

Namun, rencana tersebut tidak pernah terlaksana.

Sabtu (5/9/2026) sekitar pukul 06.00 WIB, Agus Salim ditemukan meninggal dunia di saluran irigasi di belakang rumah warga Desa Pagar Gunung.

Awalnya Diduga Meninggal karena Serangan Jantung

Saat kabar kematian ayahnya diterima, Abdi sedang berada di Bengkulu. Ia tengah bersiap menghadiri acara pernikahan anggota keluarganya.

Keluarga kemudian menghubunginya dan menyampaikan bahwa Agus Salim meninggal setelah ditemukan jatuh di siring.

Mendengar informasi tersebut, Abdi awalnya menduga ayahnya meninggal akibat kondisi kesehatan.

"Jadi saya berpikir ini pasti kena serangan jantung atau darah tinggi," kata Abdi.

Ia kemudian segera berangkat menuju Kepahiang.

Namun, saat masih dalam perjalanan, keluarga kembali menghubunginya dan meminta agar Abdi tidak langsung menuju rumah.

Ia diminta langsung menuju rumah sakit.

"Karena saya kan ditelepon di tengah perjalanan, jangan langsung ke rumah, tapi langsung ke rumah sakit," ujarnya.

Abdi sempat menanyakan alasan keluarga meminta dirinya langsung ke rumah sakit.

Namun, keluarga meminta Abdi tetap fokus dalam perjalanan.

"Saya tanya kenapa. Kata keluarga yang menelepon, nanti saja kami ceritakan, fokus saja di jalan, langsung ke rumah sakit," katanya.

Setelah melihat kondisi tubuh ayahnya, keluarga mulai mendapati sejumlah kejanggalan.

"Kalau penyebabnya, yang jelas ada kejanggalan yang kami lihat. Karena melihat luka dan apa segala macam itu, pasti bukan meninggal yang normal," ujar Abdi.

Keluarga Bantah Korban Suka Menyinggung Tersangka

Dalam perkembangan penyidikan, polisi sebelumnya mengungkap dugaan motif yang menjadi awal terjadinya peristiwa tersebut.

Peristiwa itu disebut bermula ketika Agus Salim datang ke konter milik WH pada Jumat (4/9/2026) sekitar pukul 23.00 WIB.

Korban awalnya disebut menanyakan mengenai paspor untuk keperluan ibadah haji.

Percakapan kemudian berkembang hingga membahas kehidupan pribadi tersangka.

Polisi menyebut korban sempat menyinggung kondisi WH yang telah menikah selama enam tahun tetapi belum memiliki rumah, termasuk pekerjaan tersangka.

Ucapan tersebut diduga membuat WH tersinggung.

Namun, keluarga Agus Salim memiliki pandangan berbeda mengenai dugaan percakapan tersebut.

Abdi mengaku kecewa mendengar keterangan tersebut karena selama ini keluarga mengenal ayahnya sebagai sosok yang tidak terbiasa mengeluarkan perkataan seperti itu.

"Kalau kita sangat kecewa mendengar pengakuan dia, ya," katanya.

"Karena kami sangat yakin dan percaya orang tua kami tidak akan mengeluarkan kata-kata seperti itu," lanjut Abdi.

Meski demikian, keluarga menyerahkan pendalaman mengenai motif kepada kepolisian.

"Untuk pendalaman motif kita masih percayakan kepada pihak kepolisian, ya. Kita tunggu saja bagaimana kabar selanjutnya," katanya.

Uang Rp10 Juta Disebut Digunakan untuk Judol

Penyidikan polisi kemudian menemukan perkembangan lain terkait perkara tersebut.

Polisi mengungkap pengakuan tersangka bahwa uang Rp10 juta yang dititipkan Agus Salim kepadanya untuk dimasukkan ke rekening atau ATM diduga justru digunakan untuk judi online.

WH diketahui memiliki usaha konter sekaligus melayani transaksi dompet digital atau BRILink. Dalam aktivitas tersebut, tersangka juga mengetahui PIN ATM korban.

Kasat Reskrim Polres Kepahiang Iptu Bintang Yudha Gama sebelumnya mengatakan, hasil pemeriksaan terhadap sejumlah saksi menguatkan dugaan bahwa tersangka telah menggunakan uang milik korban sebelum peristiwa terjadi.

"Setelah kami kroscek terhadap para saksi ditemukan bahwa memang sebelumnya terdapat dugaan pencurian sebanyak Rp10 juta," ungkap Bintang.

Polisi menduga korban kemudian sempat meminta WH mengecek jumlah saldo di ATM.

Situasi tersebut diduga membuat tersangka khawatir perbuatannya diketahui korban.

"Disaat ada moment kesempatan yang bersangkutan menghabisi nyawa korban, kemudian pelaku mengambil HP dan ATM korban," kata Bintang.

Polisi juga menyebut telepon genggam korban dibuang tersangka ke dalam sumur, sementara buku tabungan dibuang ke saluran irigasi.

Agus Salim Dikenal Penyabar dan Suka Menolong

Di mata Abdi, Agus Salim merupakan sosok ayah yang penyabar, ramah dan jarang marah.

Ayahnya juga dikenal gemar bercanda serta berbincang dengan keluarga dan tetangga.

"Orang tua kami ini orang yang sangat penyabar. Kesehariannya sangat jarang marah dengan orang, ramah. Karena beliau sukanya guyon dengan adik sana ataupun tetangga ini," tutur Abdi.

"Sangat akrab orang tua kami ini," lanjutnya.

Hubungan Agus Salim dengan keluarga juga disebut sangat dekat. Ia dikenal senang mengobrol dan bergaul dengan orang-orang di sekitarnya.

"Kalau dengan keluarga ini semuanya akur, sangat akrab. Karena beliau ini hobi ngobrol orangnya," katanya.

Salah satu pesan Agus Salim yang masih diingat Abdi adalah agar anak-anaknya sebisa mungkin membantu orang yang membutuhkan pertolongan.

"Bahwa beliau selalu berpesan, sebisa mungkin kalau ada orang minta tolong itu harus dibantu," ujar Abdi.

"Itu dulu yang saya teringat," lanjutnya.

Bagi Abdi, perjuangan sang ayah untuk keluarga menjadi kenangan yang tidak akan dilupakan.

"Beliau bagi saya sosok yang luar biasa. Perjuangannya tentang keluarga kami itu luar biasa," katanya.

Tersangka Terancam Hukuman Maksimal 15 Tahun

Dalam perkara tersebut, polisi telah menetapkan WH sebagai tersangka.

Penyidik juga telah memeriksa enam orang saksi yang berasal dari warga sekitar tempat kejadian perkara serta keluarga tersangka.

Sejumlah barang bukti turut diamankan, di antaranya rekaman CCTV, pakaian korban dan tersangka, sepasang sandal Wedermen, batu berwarna hitam dengan panjang sekitar 40 sentimeter, serta satu unit handphone Samsung A075F warna biru.

WH dijerat Pasal 458 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP dengan ancaman pidana maksimal 15 tahun penjara.

Polisi juga menyiapkan sangkaan subsider Pasal 468 ayat (2) dengan ancaman pidana maksimal 10 tahun penjara.

Abdi mengatakan keluarga masih mempercayakan proses hukum kepada kepolisian dan berharap perkara tersebut dapat diungkap secara terang.

"Kami masih sangat yakin dengan kinerja kepolisian dan kita percayakan lah dengan pihak kepolisian untuk mengungkap kasus ini. Semoga terang benderang lah," ujarnya.

Keluarga juga berharap tersangka mendapat hukuman sesuai perbuatannya dan seberat-beratnya.

"Kami sangat berharap semoga pelaku dapat diberikan hukuman yang seberat-beratnya karena luar biasa sakitnya keluarga kami dibuat ini, ya," kata Abdi.

Di tengah proses hukum yang masih berjalan, Abdi memilih mengingat ayahnya sebagai sosok yang ceria, ramah dan dekat dengan warga sekitar.

"Ya, orang tua kami yang kami kenal sangat ceria dan sangat ramah lah dengan warga-warga sekitar," pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.