TRIBUNLOMBOK.COM, MATARAM – Mengenal jajanan khas Suku Sasak di Pulau Lombok rasanya belum lengkap tanpa mencicipi temerodok.
Kue kering tradisional berbentuk unik menyerupai bulan sabit berongga ini merupakan penganan khas yang berakar kuat dari Desa Sakra, Kecamatan Sakra, Kabupaten Lombok Timur.
Terbuat dari racikan bahan sederhana seperti tepung ketan, gula, telur, dan garam, temerodok menyajikan cita rasa yang sangat khas.
Bagian luarnya dilumuri lapisan gula pasir halus yang memberikan sensasi manis, renyah, sekaligus lembut saat digigit mirip tekstur gabus yang renyah.
Keunikan temerodok tak hanya terletak pada rasanya, tetapi juga pada teknik pembuatannya yang masih sangat tradisional.
Setiap adonan dibentuk secara manual hanya menggunakan dua jari jempol. Keahlian ini membutuhkan ketelitian dan jam terbang tinggi sehingga tidak sembarang orang bisa mencetaknya dengan sempurna.
Berdasarkan kajian Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Lombok Timur, temerodok memiliki rekam jejak sejarah yang panjang sejak era 1920-an. Kepala Bidang Kebudayaan Dikbud Lombok Timur, Abdul Hayyi, mengungkapkan bahwa kue ini awalnya dipengaruhi oleh kuliner se’ro-se’ro asal Bugis-Makassar yang dibawa pendatang melalui Tanjung Luar.
Kala itu, seorang juru masak lokal bernama Papuq Sarwiti mempelajari teknik pembuatannya. Warga setempat semula mengenalnya sebagai "kue timba" karena bentuknya menyerupai timba dan hanya disajikan dalam gawe sultan atau hajatan besar para pemekel adat di Dusun Dalem Lauk.
Seiring berjalannya waktu, masyarakat Sakra terus mengembangkan resep dan bentuknya hingga menyerupai saluran tenggorokan atau temeroko dalam bahasa Sasak. Dari istilah itulah nama temerodok akhirnya melekat hingga saat ini.
“Kalau dulu temerodok hanya dihidangkan untuk bangsawan, datu, pemekel, dan tamu kerajaan dalam acara adat serta keagamaan. Kini, siapa pun bisa menikmatinya dalam berbagai hajatan, kegiatan keagamaan, bahkan sebagai produk ekonomi kreatif dan oleh-oleh,” ujar Hayyi, Kamis (10/9/2026).
Dalam tradisi Suku Sasak, temerodok tergolong jajanan populer yang hampir selalu hadir dalam acara begawe (pesta adat/hajatan) maupun roah (kenduri). Penganan ini menjadi teman setia saat menikmati teh atau kopi hangat bersama tamu, sekaligus sering dijadikan buah tangan saat para undangan hendak pulang.
Saat ini, temerodok semakin mudah didapatkan di berbagai gerai oleh-oleh, sentra UMKM, hingga pasar tradisional di seluruh wilayah Lombok. Bahkan, para pembuatnya kini mulai berinovasi menghadirkan variasi rasa baru, salah satunya varian beraroma durian.
Kini, kepopuleran temerodok yang telah meluas hingga ke Lombok Tengah dan Kota Mataram mendorong Pemerintah Kabupaten Lombok Timur untuk mendaftarkannya sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia. Langkah ini diambil guna melindungi identitas serta asal-usul temerodok sebagai peninggalan asli masyarakat Sakra.
Kabar baiknya, tim penilai pusat telah memberikan rekomendasi penetapan temerodok sebagai WBTb dalam sidang yang berlangsung pada Jumat (4/9/2026) lalu.
“Panelis di pusat sudah merekomendasikan untuk ditetapkan. Kami tinggal menunggu sertifikat resmi dari Kementerian. Harapannya, dengan ditetapkan sebagai objek warisan budaya, pelestariannya dapat terus terjamin, baik oleh pemerintah maupun masyarakat,” pungkas Hayyi.