Guru MAN 3 Nganjuk Meninggal Seusai Cekcok dengan Siswa, Polisi Ungkap Riwayat Hipertensi dan Stroke
taryono September 10, 2026 08:39 PM

Tribunlampung.co.id, Nganjuk - Guru MAN 3 Nganjuk, S (56), meninggal dunia lima hari setelah sempat terlibat cekcok dengan seorang siswa di lingkungan sekolah.

Baca juga: Melawat ke Markas Dewa United, Bhayangkara FC Incar Clean Sheet

Polisi menyebut S memiliki riwayat hipertensi dan stroke. Pihak keluarga juga menerima kejadian tersebut sebagai musibah dan menolak dilakukan visum.

Kasi Humas Polres Nganjuk AKP Fajar Kurniadhi mengatakan, informasi mengenai kondisi kesehatan S diperoleh dari rekam medis.

Menurutnya, tidak ditemukan keterangan yang mengarah pada kematian akibat tindak kekerasan dari siswa.

"Polres Nganjuk sudah ke kediaman Almarhum di Kediri. Keluarga menerima kejadian itu sebagai musibah. Dari rekam medis, almarhum sakit hipertensi dan stroke," kata Fajar.

Sebelum meninggal, S memang sempat mengalami cekcok dengan seorang siswa pada Selasa (1/9/2026). Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 10.30 WIB dan bermula ketika S menggunakan kamar mandi siswa yang berada di samping ruang kelas.

Saat S berada di dalam toilet, seorang siswa datang dan hendak menggunakan fasilitas tersebut. Siswa itu kemudian menggedor beberapa pintu kamar mandi, termasuk pintu yang sedang digunakan S.

Humas MAN 3 Nganjuk Ihwanus Sofa mengatakan, kejadian tersebut diduga membuat S tersulut emosi. Setelah keluar dari kamar mandi, S kemudian mencari siswa yang sebelumnya menggedor pintu.

Sofa menyebut S diduga hendak menjewer siswa tersebut sebagai bentuk teguran. Namun, siswa bersangkutan menolak dan menangkis tangan S hingga tubuh guru tersebut terhuyung dan nyaris terjatuh.

"Mungkin, (S) mau menjewer atau gimana, tapi si anak itu menolak. Akhirnya (S) terhuyung dan hampir jatuh. Guru dan siswa yang ada di sekitar situ menolongnya," ujar Sofa.

Setelah kejadian itu, kondisi di lokasi disebut kembali tenang. S juga sempat berniat melanjutkan aktivitasnya dengan kembali ke ruang kelas untuk mengajar.

Namun, ketika berjalan menuju kelas, kondisi S tiba-tiba berubah. Ia berhenti dan kemudian muntah sebelum akhirnya tidak sadarkan diri.

"Sesudah itu, almarhum tidak sadarkan diri. Almarhum dibawa ke Puskesmas terdekat kemudian dirujuk ke Rumah Sakit," tutur Sofa.

S kemudian menjalani perawatan di rumah sakit selama kurang lebih lima hari. Ia akhirnya meninggal dunia pada Sabtu (5/9/2026).

Sofa menegaskan, pihak sekolah tidak memperoleh informasi mengenai adanya pemukulan atau tindakan kekerasan yang dilakukan siswa terhadap S hingga menyebabkan guru tersebut meninggal.

Ia menyebut, saat pemeriksaan awal, tekanan darah S tercatat sangat tinggi. Kondisi tersebut, menurutnya, turut menjadi informasi yang diperhatikan pihak sekolah dalam memahami kondisi kesehatan S setelah kejadian.

"Ketika pemeriksaan awal itu tensinya 240. Kalau kekerasan saya rasa kok tidak ya," ungkapnya.

Pihak sekolah maupun kepolisian pun sama-sama menyampaikan bahwa cekcok antara S dan siswa tersebut memang terjadi.

Namun, berdasarkan informasi yang diterima, tidak ada keterangan yang menunjukkan bahwa siswa melakukan kekerasan yang menyebabkan kematian S.

sumber: TribunJatim.com

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.