Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Kristoforus Bota
POS-KUPANG.COM, BETUN - Penyebab gangguan kesehatan yang dialami siswa SDK Kabukalaran, Kecamatan Weliman, Kabupaten Malaka, belum bisa dipastikan.
Kepala Puskesmas Weliman, Hendriana ML Wangge menyebut mengatakan, informasi siswa keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) masih sebatas dugaaan.
"Saya mengatakan dugaan karena belum ada kepastian bahwa ini merupakan keracunan maupun tidak," kata Hendriana saat ditemui di Puskesmas Weliman, Kamis (10/9/2026).
Ia menegaskan bahwa belum ada hasil pemeriksaan laboratorium yang dapat memastikan apakah keluhan kesehatan yang dialami para siswa benar-benar disebabkan oleh makanan MBG atau faktor lainnya.
Menurut Hendriana, setelah para siswa didatangkan dari SDK Kabukalaran, tim medis Puskesmas Weliman langsung melakukan penanganan sesuai tugas dan fungsi masing-masing. Penanganan terhadap para siswa tersebut dikoordinasikan oleh dokter Sion Benu.
"Jadi setelah pasien-pasien ini didatangkan dari SDK Kabukalaran tim kami langsung melakukan penanganan sesuai tupoksi masing-masing dan langsung dikoordinir oleh dokter Sion Benu," jelasnya.
Baca juga: BREAKING NEWS: Puluhan Siswa SDK Kabukalaran Kabupaten Malaka Diduga Keracunan Usai Santap MBG
Pemeriksaan awal yang dilakukan oleh tim medis merupakan pemeriksaan secara fisik terhadap kondisi pasien. Namun, terdapat sejumlah hal yang belum dapat dipastikan hanya melalui pemeriksaan medis secara langsung.
"Setelah dilakukan pemeriksaan tentunya ada beberapa hal yang tidak bisa dipastikan secara medis tentunya karena itu harus ditunjangi dengan hasil pemeriksaan laboratorium," ujarnya.
Hendriana menambahkan, hasil pemeriksaan medis terhadap pasien merupakan bagian dari rekam medis yang bersifat pribadi. Karena itu, informasi lebih detail mengenai kondisi masing-masing pasien hanya dapat disampaikan oleh dokter yang menangani apabila memang dibutuhkan.
"Jadi pemeriksaan tadi itu hanya berkisaran pada fisik semata dan untuk hasil itu tentunya merupakan privasi dalam rekam medisnya. Tetapi apabila dibutuhkan tentunya dokter Sion Benu sendiri yang akan memberi komentarnya," katanya.
Untuk memastikan apakah kejadian tersebut merupakan keracunan atau bukan, pihak Puskesmas Weliman kini masih menunggu hasil pemeriksaan terhadap sejumlah sampel yang telah dikumpulkan.
Ia mengatakan, tim dari Dinas Kesehatan Kabupaten Malaka telah turun langsung ke dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk mengambil sampel makanan yang disiapkan dan didistribusikan kepada para siswa.
Selain sampel makanan, terdapat pula sampel muntahan pasien yang akan menjadi bagian dari bahan pemeriksaan lebih lanjut.
Baca juga: Puluhan Siswa SDK Kabukalaran Jalani Observasi di Puskesmas Weliman
"Kemudian untuk kepastian keracunan maupun tidak kita menunggu hasil pemeriksaan sampel yang ada karena tadi tim dari dinas kesehatan sudah turun ke dapur SPPG dan sudah mengambil sampel makanan dan di sini juga ada sampel muntahan pasien," jelasnya.
Dengan adanya sampel tersebut, pihak kesehatan berharap pemeriksaan laboratorium dapat memberikan kepastian mengenai penyebab keluhan kesehatan yang dialami para siswa. "Jadi untuk selanjutnya akan kita infokan setelah ada kepastian pemeriksaan laboratorium," kata Hendriana.
Hendriana juga memberikan pembaruan mengenai jumlah siswa yang mendapatkan penanganan medis di Puskesmas Weliman. Berdasarkan data yang diterima dan telah diverifikasi oleh pihak puskesmas, terdapat 20 siswa SDK Kabukalaran yang sempat mendapatkan penanganan medis di fasilitas kesehatan tersebut.
"Menurut data yang kami terima dan data benar-benar valid dalam Puskesmas Weliman ada 20 siswa-siswi Kabukalaran yang sempat kita tangani secara medis di sini dan itu termasuk yang sudah dirujuk ke RSUPP Betun untuk penanganan medis lebih lanjut," ungkapnya.
Dari jumlah tersebut, sebagian siswa mendapatkan penanganan di Puskesmas Weliman dan sudah dipulangkan ke rumah masing-masing siswa, sementara siswa yang membutuhkan pelayanan lebih lanjut kemudian dirujuk ke RSUPP Betun.
Hendriana menjelaskan, pada tahap awal terdapat tiga siswa yang dirujuk ke RSUPP Betun. Namun, setelah dilakukan penanganan dan evaluasi lebih lanjut, satu siswa lainnya kembali dirujuk.
Baca juga: Siswa SDK Kabukalaran yang Keracunan Usai Santap MBG Sempat Muntah di Sekolah
"Jadi yang dirujuk tadi awalnya tiga orang, setelah itu ada satu lagi yang kita rujuk dari belakang. Jadi ada empat orang siswa yang sekarang sudah ditangani di RSUPP Betun," jelasnya.
Menyusul kejadian tersebut, Puskesmas Weliman meningkatkan kesiapsiagaan dengan menambah personel medis. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan adanya pasien lain yang masih membutuhkan penanganan setelah mengalami keluhan kesehatan.
Hendriana mengatakan, kondisi setiap orang berbeda, termasuk daya tahan tubuh masing-masing, sehingga pihaknya tidak ingin mengambil risiko dengan mengurangi kesiapsiagaan tenaga kesehatan.
"Saat ini di Puskesmas Weliman juga kita menambahkan personil medis untuk tetap bersiaga. Jangan sampai nanti masih ada pasien yang didatangkan lagi," katanya.
Ia menyebut kejadian tersebut dapat dikategorikan sebagai kejadian yang membutuhkan kewaspadaan khusus karena melibatkan sejumlah siswa dalam waktu yang berdekatan.
"Karena peristiwa seperti ini bisa dikatakan sebagai kejadian luar biasa dimana imun tubuh masing-masing orang juga beda-beda," ujarnya.
Karena itu, pihak Puskesmas Weliman memastikan tim medis tetap bersiaga selama 48 jam untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya pasien tambahan maupun perkembangan kondisi kesehatan siswa yang sebelumnya telah mendapatkan penanganan.
"Sehingga terkait kejadian ini kita pastikan waktu 48 jam untuk para tim medis tetap bersiaga di Puskesmas ini," tegas Hendriana.
Selain meningkatkan jumlah personel, pelayanan kesehatan di Puskesmas Weliman juga tetap berjalan selama 24 jam tiap hari. Hal tersebut dilakukan agar masyarakat maupun pasien yang membutuhkan pertolongan medis sewaktu-waktu dapat langsung mendapatkan pelayanan.
"Tapi di Puskesmas Weliman ini, tim medis kita biasa selalu stay 24 jam di puskesmas," pungkasnya. (ito)