Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Kristoforus Bota
POS-KUPANG.COM, BETUN - Kepala SDK Kabukalaran, Antonius Nahak Tahu meminta pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) lebih serius dan profesional dalam memastikan makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) aman dikonsumsi siswa-siswi.
Permintaan tersebut disampaikan Antonius menyusul kejadian gangguan kesehatan yang dialami 27 siswa SDK Kabukalaran setelah menyantap MBG, Kamis (10/9/2026).
SDK Kabukalaran berada di Desa Lakulo, Kecamatan Weliman, Kabupaten Malaka. Jarak dari ibu kota kecamatan ke Desa Lakulo 9 Km.
Sementara jarak dari Betun, ibu kota Kabupaten Malaka ke Desa Lakula 28 Km. Jarak tempuh dengan berkendaraan sekitar 50 menit.
"Selaku pihak sekolah, kami minta ketegasan supaya pihak SPPG tolong lihat dan bekerja yang sungguh-sungguh profesional. Perhatikan makanan yang dibagikan ke anak-anak. Karena hal seperti ini nanti merugikan kesehatan anak-anak bangsa," tegas Antonius saat ditemui di RSUPP Betun.
Antonius bersama sejumlah guru menjenguk siswa SDK Kabukalaran yang dirawat di RSUPP Betun. Ada empat siswa dirawat di rumah sakit tersebut.
Keempat siswa tersebut terlihat mendapatkan penanganan medis dan berada dalam pendampingan orang tua masing-masing.
Saat kejadian berlangsung, Antonius tidak berada di lingkungan sekolah karena harus menghadiri pertemuan dengan Wakil Bupati Malaka di Betun.
Ia berangkat dari rumah sekitar pukul 07.00 Wita. Sebelum menuju lokasi pertemuan, Antonius masih sempat datang ke sekolah dan memastikan aktivitas para siswa berjalan seperti biasa.
Baca juga: Siswa SDK Kabukalaran yang Keracunan Usai Santap MBG Sempat Muntah di Sekolah
Setelah tiba di Betun dan mengikuti pertemuan, Antonius kemudian mendapat informasi mengenai kondisi para siswa. Ia mengaku terkejut ketika Wakil Bupati Malaka memanggil dan menyampaikan bahwa terjadi persoalan di sekolahnya.
"Setelah sampai di Betun sini, saat pertemuan, tiba-tiba Pak Wakil panggil saya. Katanya sekolah saya ada bermasalah, anak-anak ada gangguan kesehatan," tuturnya.
Antonius kemudian mengetahui bahwa sejumlah siswa mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan MBG yang dibagikan di sekolah.
Menurut Antonius, program MBG di SDK Kabukalaran sebenarnya telah berjalan selama beberapa bulan dan selama ini tidak pernah menimbulkan persoalan serupa.
"Sekolah kami itu terima program MBG ini belum sampai satu tahun. Selama ini anak-anak terima MBG tiap hari dan aman-aman saja. Baru hari ini ada kejadian begini," katanya.
Ia juga menyebut kualitas makanan MBG yang diterima sekolah selama ini dinilai baik. Menu yang diberikan kepada para siswa juga bervariasi dari hari ke hari.
"Terkait kualitas MBG yang diterima selama ini sangat baik," ujarnya.
Namun, pada Kamis (10/9/2026), terjadi kondisi berbeda setelah para siswa mengonsumsi menu MBG yang dibagikan. Berdasarkan keterangan pihak sekolah, sebanyak 27 siswa mengalami gangguan kesehatan dan kemudian mendapatkan penanganan medis.
Baca juga: Kepala Puskesmas Weliman: Belum Bisa Dipastikan Siswa SDK Kabukalaran Keracunan MBG
"Tadi ada 27 orang yang alami gangguan kesehatan. Sekarang yang lain sudah dipulangkan ke rumah masing-masing karena kondisi mereka sudah sehat kembali. Sekarang masih ada empat orang ini yang masih perlu perawatan di RSUPP Betun ini," jelas Antonius.
Keempat siswa tersebut merupakan bagian dari siswa yang sebelumnya mendapatkan penanganan di Puskesmas Weliman sebelum akhirnya dirujuk ke RSUPP Betun untuk mendapatkan pelayanan medis lebih lanjut.
SDK Kabukalaran sendiri selama ini menjadi salah satu sekolah penerima program MBG dengan jumlah penerima yang cukup banyak. Antonius mengatakan terdapat sekitar 170 siswa yang menerima makanan MBG setiap hari.
"SDK Kabukalaran, Desa Lakulo, Kecamatan Weliman, Kabupaten Malaka ada 170 siswa yang selama ini terima MBG setiap hari," ungkapnya.
Untuk menu yang dibagikan sebelum kejadian tersebut, Antonius menyebut menu makanan yang dikonsumsi para siswa berupa telur. Sementara pada hari-hari sebelumnya, menu MBG yang diterima siswa cukup beragam.
"Menu MBG yang dikonsumsi hari ini berupa telur. Sebelumnya biasa bervariasi," katanya. (ito)