Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Jangan terkecoh jika hujan mulai turun di sejumlah wilayah Lampung. BMKG Lampung menyebut hujan yang terjadi masih cenderung bersifat lokal dan berdurasi singkat, sehingga belum menandai berakhirnya musim kemarau secara menyeluruh.
Baca juga: Cegah Peredaran Narkotika, BNN Usul Vape Dilarang Total
Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Lampung, Rudi Harianto, mengatakan peluang hujan memang masih terbuka dalam beberapa waktu ke depan. Namun, distribusinya diperkirakan tidak merata di seluruh wilayah Lampung.
"Potensi hujan ringan hingga sedang yang bersifat lokal dan berdurasi singkat terutama pada siang hingga sore dan malam hari," kata Rudi, Kamis (10/9/2026).
Berdasarkan prospek operasional BMKG Lampung, cuaca di wilayah Lampung secara umum masih didominasi kondisi cerah berawan hingga berawan. Hujan dapat muncul di sejumlah daerah, tetapi belum cukup luas dan konsisten untuk mengubah pola musim secara keseluruhan.
BMKG juga memprakirakan potensi hujan sedang hingga lebat pada skala kabupaten/kota belum signifikan selama periode mendatang.
Kondisi tersebut berkaitan dengan dinamika atmosfer yang saat ini belum sepenuhnya mendukung pertumbuhan awan hujan dalam skala luas di Lampung.
Secara global, indeks ENSO masih menunjukkan fase El Nino dengan nilai anomali di wilayah Nino 3.4 sebesar +2,54. Fenomena tersebut secara umum berkaitan dengan kecenderungan kondisi yang lebih kering di Indonesia.
"Secara global, kondisi indeks ENSO berada pada fase El Nino dengan nilai anomali di NINO 3.4 sebesar +2,54," ujar Rudi.
Sementara itu, indeks Indian Ocean Dipole (IOD) berada pada nilai +0,25. Kondisi tersebut diprakirakan belum memberikan pengaruh signifikan terhadap peningkatan aktivitas konvektif di Indonesia.
Dari faktor intraseasonal, aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) saat ini berada pada Fase 8 yang mencakup wilayah Western Hemisphere dan Afrika. Posisi tersebut belum memberikan dukungan kuat terhadap peningkatan aktivitas hujan di Lampung.
Di tingkat regional, terdapat belokan angin dan konvergensi di sejumlah wilayah Indonesia, antara lain Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Kalimantan hingga Papua.
Namun, pola atmosfer tersebut belum cukup kuat untuk memicu pertumbuhan awan hujan secara luas di Lampung.
Di sisi lain, suhu muka laut di sejumlah perairan Indonesia masih cukup hangat dengan anomali SST berkisar -3,0 hingga +3,6 derajat Celsius. Kondisi laut yang hangat dapat meningkatkan penguapan dan menambah kandungan uap air di atmosfer.
Sejumlah wilayah yang berpotensi menyumbang tambahan massa uap air antara lain Samudra Hindia sebelah barat Sumatra, perairan timur Aceh-Sumatra Barat, Selat Malaka, Selat Sunda serta beberapa perairan lainnya.
Meski ketersediaan uap air meningkat, hal tersebut tidak serta-merta menghasilkan hujan yang merata. Pertumbuhan awan tetap dipengaruhi oleh berbagai faktor atmosfer lain, termasuk pola angin, konvergensi dan kondisi dinamika atmosfer regional.
Karena itu, hujan yang turun secara sporadis di sejumlah wilayah Lampung belum dapat dijadikan tanda bahwa musim kemarau telah berakhir.
Masyarakat diimbau tetap memantau informasi cuaca terbaru dari BMKG, khususnya sebelum melakukan aktivitas di luar ruangan. Perkembangan cuaca juga perlu diperhatikan oleh petani, nelayan dan masyarakat yang aktivitasnya bergantung pada kondisi atmosfer.
(Tribunlampung.co.id / Dominius Desmantri Barus)