TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SEKADAU - Kemarau panjang yang melanda Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat, mulai dirasakan dampaknya oleh petani kelapa sawit.
Selain menyebabkan debit Sungai Kapuas menyusut, kondisi tersebut turut mengganggu aktivitas pengangkutan Crude Palm Oil (CPO) menggunakan tongkang melalui jalur air.
Dampaknya, sejumlah perusahaan yang mengandalkan jalur sungai untuk aktivitas distribusi disebut sementara menghentikan penerimaan buah kelapa sawit dari petani.
Seorang petani sawit di Sekadau, Gunawan, mengatakan kondisi tersebut membuat petani kesulitan mencari tempat untuk menjual buah sawit hasil panen.
Menurutnya, sebagian petani kini terpaksa membawa hasil panen ke wilayah lain, seperti Balai Karangan dan Ngabang, karena perusahaan yang biasanya menerima buah melalui jalur air sudah tidak beroperasi sementara.
"Jadi mereka itu ada yang ngantarnya ke Balai Karangan, ke Ngabang karena perusahaan yang dekat sini tutup. Ini mereka ngantar buah dari darat," kata Gunawan saat dikonfirmasi pada Kamis, 10 September 2026.
Ia mengatakan, perusahaan yang biasanya menerima buah melalui jalur air sudah tidak lagi menerima TBS sejak sekitar 5 September 2026.
Kondisi itu membuat petani harus mencari alternatif tempat penjualan, meski jaraknya lebih jauh dan harus menghadapi antrean.
Baca juga: Akurat dan Tepat Sasaran, Dinsos P3A Sekadau Mutakhirkan Data Ribuan Peserta BPJS PBI JK
"Kalau yang biasa ngantar lewat jalur air itu tutup, sudah tidak terima buah lagi. Off total kalau tidak salah dari tanggal 5 September kemarin," ujarnya.
Gunawan menuturkan, sebagian petani masih bisa menjual hasil panen ke sejumlah ram sawit yang masih beroperasi.
Namun, harga yang diterima petani jauh lebih rendah dibandingkan harga di daerah lain.
"Sekarang ini jual paling ke ram-ram sawit yang masih ada jalurnya buka, cuma harganya anjlok. Ram itu kemarin ngambil cuma di harga Rp2.200," ungkapnya.
Sementara itu, petani yang memilih mengangkut buah hingga Balai Karangan disebut masih mendapatkan harga sekitar Rp3.000 per kilogram.
Namun, jarak yang lebih jauh dan antrean membuat pilihan tersebut tidak mudah bagi petani.
"Ada mereka itu yang ngantar buah ke Balai Karangan, harganya masih Rp3.000, cuma ya antre sekarang dan lumayan jauh juga kalau dari sini," katanya.
Menurut Gunawan, kendala utama saat ini terjadi karena debit sungai menyusut akibat kemarau sehingga tongkang pengangkut CPO tidak dapat beroperasi secara normal.
Di sisi lain, tangki penampungan CPO di sejumlah perusahaan juga disebut sudah penuh sehingga aktivitas penerimaan buah dari petani ikut dihentikan sementara.
"Yang lewat jalur air kayak tongkang gitu sudah tidak bisa lewat lagi karena kemarau, lalu tangki-tangki untuk CPO juga sudah penuh katanya. Jadi sekarang ini off sementara perusahaan yang terima buah itu," jelasnya.
Ia memperkirakan kondisi tersebut sudah berlangsung sekitar satu pekan dan cukup menyulitkan petani dalam menjual hasil panennya.
Tidak hanya persoalan pemasaran, kemarau panjang juga disebut turut memengaruhi hasil panen sawit.
Gunawan mengatakan, kondisi buah sawit saat musim kemarau cenderung memiliki bobot lebih rendah sehingga turut berdampak terhadap pendapatan petani.
"Musim kemarau ini juga buah jadi agak kurang beratnya, jadi berkurang juga penghasilannya," tuturnya.
Ia berharap kondisi tersebut dapat segera kembali normal sehingga aktivitas pembelian dan pengangkutan TBS dari petani bisa kembali berjalan.
"Semoga bisa cepat kembali normal dan ada solusi untuk mengatasi ini, karena susah juga kalau buah ini tidak bisa dijual nantinya," pungkasnya.
Kabupaten Sekadau merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Kalimantan Barat. Kabupaten ini resmi menjadi daerah otonom pada 18 Desember 2003 setelah dimekarkan dari Kabupaten Sanggau berdasarkan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2003.
Ibu kota Kabupaten Sekadau berada di Kecamatan Sekadau Hilir.
Secara geografis, Kabupaten Sekadau memiliki luas sekitar 5.444,3 kilometer persegi.
Wilayahnya berbatasan dengan Kabupaten Sintang di sebelah utara dan timur, Kabupaten Ketapang di sebelah selatan, serta Kabupaten Sanggau di sebelah barat.
Kabupaten Sekadau saat ini terdiri atas 7 kecamatan, yakni:
Sekadau Hilir – ibu kota kecamatan Sekadau
Sekadau Hulu – ibu kota Rawak
Nanga Taman – ibu kota Nanga Taman\
Nanga Mahap – ibu kota Nanga Mahap
Belitang Hilir – ibu kota Sungai Ayak
Belitang – ibu kota Nanga Belitang
Belitang Hulu – ibu kota Balai Sepuak.
Dalam perkembangan administrasinya, jumlah desa di Kabupaten Sekadau bertambah dari 87 desa menjadi 94 desa setelah pemekaran wilayah pada 2022.
Data Pemerintah Kabupaten Sekadau mencatat jumlah tersebut masih menjadi struktur administratif kabupaten pada 2024. (*)