WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA — Di tengah gempuran jump scare dan dominasi makhluk halus yang menyesaki layar lebar, angin segar akhirnya berembus membasuh dahaga perfilman keluarga Indonesia.
Tepat pada Kamis (10/9/2026), film musikal anak bertajuk "Iyus Jenius" resmi mengudara di bioskop Tanah Air.
Film ini membawa sebuah misi besar: mendobrak hegemoni genre horor sekaligus merajut kembali memori indah masa kecil.
Di balik layar, ada nama Gandhi Fernando yang tak hanya duduk di kursi produser, tetapi juga merangkap sebagai sutradara dan penulis skenario.
Gandhi memilih mengambil "jalan sunyi" yang menantang.
Alih-alih terus mengekor tren pasar yang menggiurkan, ia meracik sebuah oase bagi anak-anak yang kian krisis tontonan edukatif sesuai umur.
"Aku pengin melawan arus dengan membuat genre film yang saat ini jarang banget dibuat. Meskipun aku sendiri tetap memproduksi film horor, aku merasa memiliki tanggung jawab moral untuk menghadirkan sesuatu yang berbeda," ujar Gandhi di kawasan Semanggi, Jakarta Selatan, menyoroti kegelisahannya terhadap industri film Tanah Air.
Denyut Emosi di Balik Petualangan Iyus
Lebih dari sekadar nyanyian dan tarian yang penuh warna, "Iyus Jenius" menyimpan denyut emosi yang kuat.
Film ini memotret rapuhnya dunia Iyus (diperankan oleh Kevin Abadio), seorang bocah berusia 10 tahun yang cahayanya redup usai sang ayah berpulang dalam sebuah kecelakaan tragis.
Terjebak dalam ruang duka, mengalami krisis kepercayaan diri, hingga menjadi korban perundungan (bullying), hidup Iyus seolah menemui jalan buntu.
Namun, secercah harapan perlahan hadir saat ia bersinggungan dengan sosok Babah T. Bob. Lewat petualangan imajinatif dan magisnya kekuatan nada, Iyus dituntun untuk kembali merajut serpihan keberanian dan keceriaannya yang sempat hilang.
Mesin Waktu Lintas Generasi: Tribute untuk Papa T. Bob
Mahakarya visual ini sekaligus digarap sebagai tribute emosional bagi mendiang legenda pencipta lagu anak, Papa T. Bob.
Tembang-tembang abadi era '90-an yang melegenda seperti Diobok-obok, Jangan Marah, hingga Katanya dihidupkan kembali.
Dikemas dengan aransemen musik yang lebih modern, deretan lagu tersebut tetap mempertahankan ruh aslinya, siap mengajak penonton bernyanyi bersama.
Babah T. Bob, putra kandung sang legenda yang turut beradu akting dalam film ini, menyebut "Iyus Jenius" sebagai jembatan emas lintas generasi.
"Lagu-lagu Papa T. Bob sudah menjadi bagian dari masa kecil banyak orang tua di Indonesia. Mulai hari ini, kami mengajak para orang tua untuk membawa anak-anak mereka ke bioskop dan mengenalkan lagu-lagu legendaris ini lewat sajian cerita yang seru dan relevan," tuturnya hangat.
Langkah Awal Kebangkitan Sinema Anak
Meski tak memonopoli alokasi layar utama layaknya film-film blockbuster, karya dari Gandhi Fernando dan produser Adnan Djani ini tetap membentangkan asa.
"Iyus Jenius" tayang di puluhan jaringan bioskop, mulai dari Cinema XXI, CGV, Cinepolis, Platinum Cineplex, hingga bioskop independen seperti FLIX Bekasi, Denpasar Cineplex, hingga Dakota di berbagai daerah.
Proses penggarapan yang menuntut ketelitian tinggi pada alur cerita, musik, dan penokohan justru membuat Gandhi dan Adnan ketagihan. Ini bukanlah sekadar penayangan satu kali lewat, melainkan sebuah ikrar panjang.
"Kami melihat masih banyak ruang untuk menghadirkan film anak Indonesia yang berkualitas. Semoga Iyus Jenius menjadi langkah awal untuk menghadirkan lebih banyak cerita yang dekat dengan kehidupan anak-anak Indonesia," tegas Adnan.
Harapannya, "Iyus Jenius" tak sekadar menjadi tontonan akhir pekan, melainkan tonggak kebangkitan sinema anak Indonesia yang telah lama dirindukan keberadaannya.