Warga Desa Tertua di Indonesia Dilarang Pelihara Sapi, Ada Mitos di Baliknya
GH News September 10, 2026 11:09 PM
Purworejo -

Desa Bagelen di Purworejo konon merupakan desa tertua di Indonesia. Penduduk desa ini dilarang untuk memelihara sapi. Ternyata, ada mitos di baliknya.

Ada kepercayaan unik di desa Bagelen, Kecamatan Bagelen, Purworejo. Masyarakat Desa Bagelen pantang untuk memelihara sapi, menanam kedelai hitam, dan tidak menggelar hajatan pada hari pasaran Wage.

Sesepuh Desa Bagelen, R Mulato (65), mengungkap mitos ini bermula dari kisah Nyai Bagelen, yang Disebut sebagai putri Prabu Swelacala, pemimpin Kerajaan Medang Kamulan.

Diceritakan kala itu Nyai Bagelen yang tengah menenun kain, dikejutkan oleh seekor anak sapi yang menyusu kepadanya. Dia mengira anak sapi itu adalah anaknya.

Cerita itulah yang mendasari larangan memelihara sapi di wilayah dusun tersebut. Menurut Mulato, ada warga yang pernah melanggar pantangan ini.

"Pernah, pak lik saya sendiri pernah memelihara sapi. Ya sapinya dikasih makan banyak ya kurus-kurus aja. Dan dijual malah merugi, seperti itu. Jadi dia bercerita kepada saya sendiri juga bahwa enggak ada untungnya, rugi," cerita Mulato.

Warga Bagelen juga berpantang menanam kedelai hitam. Pantangan ini dilatari cerita tentang dua anak Nyai Bagelen, Roro Pitrah dan Roro Taker, meninggal akibat tertimbun tumpukan kedelai hitam pada hari Selasa Wage.

Cerita itu pula yang membuat warga setempat kini menghindari menggelar hajatan atau acara besar pada hari pasaran Wage karena dipercaya bisa mendatangkan kesialan.

"Biasanya kalau saya mendengar, masyarakat kalau ada hajatan di hari itu ya umek (kisruh). Urusannya itu kok enggak selesai-selesai, ruwet gitu. Malah pada padu dewe-dewe (bertengkar sendiri-sendiri) seperti itu, kemrungsung," kata dia.

Di sisi lain, Mulato menilai berbagai pantangan ini sebagai bentuk penghormatan sekaligus cara leluhur menjaga harmoni di masa lampau, mengingat sapi merupakan hewan yang disucikan dalam peradaban Hindu yang dulu mendominasi wilayah tersebut.

Sementara itu, pengamat sejarah sekaligus Pangarsa Kearsipan Kadipaten Pakualaman, Dr. Drs. Sudibyo, M.Hum, mengatakan Bagelen memiliki posisi strategis sejak masa Mataram Islam hingga pemerintahan kolonial sebagai wilayah penyangga pusat kekuasaan.

Pada masa Panembahan Senopati dan Sultan Agung, prajurit Bagelen dikenal sebagai pasukan yang loyal kepada raja. Bahkan ketika Keraton Mataram dikuasai Trunajaya, Pangeran Puger membangun istana pengungsian di Purwaganda yang kini berada di wilayah Kecamatan Purwodadi.

Menurut Sudibyo, kisah-kisah di desa Bagelen tersebut memuat nilai-nilai universal seperti keteguhan, kesetiaan, ketangguhan, dan kemandirian perempuan yang masih relevan hingga kini.

"Hanya saja, diperlukan interpretasi baru agar nilai-nilai dalam legenda tersebut tetap relevan bagi generasi masa kini," pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.