SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH — Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Ar-Raniry Banda Aceh meyudisium 126 lulusan Semester Genap Gelombang III Tahun 2026. Para lulusan diminta tidak hanya mengandalkan kemampuan akademik, tetapi juga mampu menghadirkan dakwah yang memanusiakan manusia di tengah perubahan sosial dan perkembangan teknologi digital.
Yudisium berlangsung di Auditorium Ali Hasjmy, Kampus UIN Ar-Raniry, Banda Aceh, Kamis (10/9/2026), dan diikuti para lulusan bersama pimpinan fakultas, pimpinan program studi, dosen, tenaga kependidikan, serta orang tua peserta yudisium.
Dekan FDK UIN Ar-Raniry, Prof Dr Kusmawati Hatta MPd, dalam sambutannya menekankan pentingnya penguatan kompetensi lulusan sesuai kebutuhan zaman. Menurutnya, perkembangan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat memperoleh, memproduksi, dan menyebarkan informasi, termasuk dalam aktivitas dakwah.
“Dakwah zaman sekarang harus beradaptasi dan berkolaborasi dengan teknologi. Kita dituntut mampu memanfaatkan teknologi tersebut agar tidak tergerus zaman,” ujar Prof. Kusmawati.
Ia berharap para lulusan, yang mayoritas berasal dari generasi muda, mampu menjadi pengguna teknologi yang kritis dan bertanggung jawab. Kemampuan memilih, memverifikasi, serta mengolah informasi dinilai penting agar lulusan FDK tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga mampu menghasilkan konten yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Prof. Kusmawati juga mengingatkan para lulusan untuk tetap menjaga integritas dan nama baik almamater setelah memasuki dunia kerja maupun kehidupan sosial.
Wakil Dekan I Bidang Akademik dan Kelembagaan FDK UIN Ar-Raniry, Dr. Mahmuddin, M.Si., dalam laporannya menyampaikan bahwa 126 peserta yudisium terdiri atas 35 laki-laki dan 91 perempuan.
Para lulusan tersebut berasal dari lima program studi. Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam (BKI) menjadi penyumbang lulusan terbanyak dengan 50 orang, disusul Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) sebanyak 33 orang.
Selanjutnya, Program Studi Manajemen Dakwah (MD) meluluskan 18 orang, Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) sebanyak 17 orang, dan Kesejahteraan Sosial (Kesos) sebanyak 8 orang.
Sementara itu, Program Studi Manajemen Haji dan Umrah (MHU) yang merupakan program studi baru belum memiliki lulusan pada gelombang yudisium kali ini.
Dari sisi capaian akademik, sebanyak 57 lulusan atau sekitar 45 persen meraih predikat Cumlaude, 41 lulusan atau sekitar 33 persen memperoleh predikat Pujian, dan 28 lulusan atau sekitar 22 persen meraih predikat Sangat Baik. Tidak terdapat lulusan yang memperoleh predikat Baik.
Meskipun jumlah peserta yudisium kali ini mengalami penurunan dibandingkan gelombang sebelumnya yang mencapai 159 lulusan, kualitas capaian akademik menunjukkan perkembangan positif. Tingginya proporsi lulusan dengan predikat Cumlaude dan Pujian menjadi salah satu indikator capaian tersebut.
Baca juga: Fakultas Psikologi UIN Ar-Raniry Jajaki Kolaborasi dengan Lembaga Kesehatan Jiwa Eropa
Lima lulusan dengan IPK tertinggi yang lulus tepat waktu berasal dari lima program studi. Dari Prodi KPI, Asyraf Andari Harisma meraih IPK 3,81.
Dari Prodi BKI, Risa Rahmadilla memperoleh IPK 3,85, sementara Syifaun Nadia dari Prodi MD meraih IPK 3,82.
Lulusan dengan IPK tertinggi dalam daftar lima lulusan terbaik diraih Khaira Nafisa dari Prodi PMI dengan IPK 3,88. Sementara Ridha Rizka Zebua dari Prodi Kesos meraih IPK 3,85.
Capaian tersebut menunjukkan bahwa lulusan FDK tidak hanya menyelesaikan pendidikan tepat waktu, tetapi juga mampu mempertahankan prestasi akademik yang baik.
Sementara itu, Dr. Fairus, M.Ag., dalam orasi ilmiah bertema “Menjadi Yudisia Dakwah yang Memanusiakan Manusia” mengingatkan para lulusan bahwa ijazah bukanlah tanda berakhirnya proses belajar.
Menurutnya, kelulusan justru menjadi awal dari tanggung jawab baru sebagai bagian dari masyarakat. Terlebih, lulusan FDK memiliki kompetensi yang berkaitan langsung dengan komunikasi, dakwah, konseling, pengelolaan masyarakat, hingga kesejahteraan sosial.
Dr. Fairus menyoroti perubahan lanskap komunikasi masyarakat akibat tingginya penetrasi internet dan penggunaan perangkat digital. Kondisi tersebut membuat aktivitas dakwah memiliki ruang yang jauh lebih luas dibandingkan sebelumnya.
“Saat ini da’i bisa masuk ke ruang pribadi masyarakat melalui layar ponsel. Namun, tidak semua yang viral itu benar dan tidak semua yang banyak ditonton itu baik,” tegasnya.
Karena itu, lulusan FDK dituntut tidak sekadar memiliki kemampuan berbicara di depan publik. Mereka juga harus memiliki kemampuan literasi digital, berpikir kritis, serta mampu memverifikasi informasi sebelum menyebarkannya kepada masyarakat.
“Lulusan FDK tidak cukup hanya pandai berbicara, tetapi juga harus cerdas dan pandai memverifikasi informasi,” lanjut Dr. Fairus.
Pesan tersebut sekaligus menegaskan bahwa tantangan dakwah di era digital bukan hanya bagaimana menyampaikan pesan agar menarik perhatian publik, tetapi juga bagaimana memastikan pesan tersebut benar, etis, edukatif, dan tetap menghargai kemanusiaan.
Yudisium FDK UIN Ar-Raniry Gelombang III Tahun 2026 kemudian dilanjutkan dengan prosesi pemanggilan nama para lulusan dan penyerahan apresiasi kepada lulusan terbaik. Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama antara lulusan, pimpinan fakultas, dosen, tenaga kependidikan, dan orang tua.
Dengan berakhirnya prosesi tersebut, sebanyak 126 lulusan FDK UIN Ar-Raniry secara resmi menyelesaikan tahapan pendidikan mereka. Tantangan berikutnya adalah membawa ilmu, kompetensi, dan nilai-nilai yang diperoleh selama di kampus untuk berkontribusi di tengah masyarakat—dengan menjadikan dakwah bukan sekadar aktivitas menyampaikan pesan, tetapi juga jalan untuk 'memanusiakan manusia'.(rel/*)