Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati menghentikan sementara Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Gembong 1. Hal ini menyusul 236 siswa dan tenaga pendidik dari dua sekolah di Kecamatan Gembong mengalami keluhan kesehatan usai menyantap hidangan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Pati, Joko Leksono Widodo, mengatakan SPPG Gembong 1 mulai disetop sementara sejak Rabu (9/9/2026).
“Per kemarin (Rabu) di-suspend dulu. Kita teliti dari awal, biar tidak ada trauma lagi tentang MBG,” ungkap Joko kepada wartawan, Kamis (10/9/2026).
Penghentian operasional tersebut diberlakukan minimal tiga bulan. Namun, masa penghentian dapat diperpanjang hingga enam bulan, bergantung pada hasil pemeriksaan dan evaluasi.
Selama masa penghentian, SPPG Gembong 1 dilarang memproduksi maupun mendistribusikan makanan untuk program MBG.
Sementara itu, pemerintah masih melakukan investigasi untuk mengetahui penyebab munculnya keluhan kesehatan yang dialami ratusan siswa dan tenaga pendidik tersebut. Sampel makanan yang diduga berkaitan dengan kejadian telah dikirim ke laboratorium untuk diperiksa lebih lanjut.
Hasil pemeriksaan nantinya menjadi salah satu dasar untuk mengevaluasi keamanan pangan serta proses produksi dan distribusi makanan MBG dari SPPG Gembong 1.

Sebelumnya, kepanikan luar biasa terjadi di lingkungan MTs Negeri 3 Pati dan SMP Negeri 1 di Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Ratusan siswa di dua sekolahan tersebut tumbang diduga keracunan.
Mereka mengalami gejala gangguan pencernaan secara massal, Rabu (9/9/2026) siang. Kondisi itu diduga terjadi usai mereka menyantap menu makan bergizi gratis (MBG) yang dibagikan di dua sekolah tersebut, Selasa (8/9/2026).
Ratusan siswa mengalami sejumlah keluhan yang sama. Yakni mulai dari mual, pusing, sakit perut, muntah hingga diare. Kondisi tersebut membuat sejumlah siswa harus dievakuasi menggunakan ambulans dan kendaraan kepolisian untuk mendapatkan penanganan medis.
Informasi dihimpun, awalnya MBG terlambat didistribusikan ke sekolah, Selasa (8/9/2026). Biasanya mobil pengantar MBG datang ke MTs Negeri 3 Pati dan diterima pukul 11.20 WIB.
Namun pada hari tersebut makanan baru tiba pukul 12.00 WIB. Kala makanan tiba, para siswa bergegas menyantap menu MBG, usai melaksanakan salat zuhur berjemaah di musala MTs Negeri 3 Pati.
Keluhan kesehatan tidak langsung dirasakan siswa MTs. Gejala mulai muncul pada Selasa sore hingga malam hari.
“Keluhannya (para siswa) mulai muncul sore sampai malam, ada yang mual, pusing, sakit perut, muntah dan diare,” ungkap Kepala MTsN 3 Pati, Zaenal Arifin, Rabu (9/9/2026).
Situasi pun semakin mengkhawatirkan pada Rabu pagi. Sebagian siswa masih datang ke sekolah, tetapi keluhan kesehatan kembali bermunculan. Aktivitas siswa menuju toilet bahkan disebut mengalami peningkatan cukup drastis.
Pihak guru MTs Negeri 3 Pati yang melihat kondisi siswa mereka, kemudian berkoordinasi dengan petugas kesehatan. Sejumlah ambulans dan kendaraan kepolisian dikerahkan membawa siswa yang mengalami keluhan menuju Puskesmas Gembong.
Karena jumlah pasien yang datang cukup banyak, Puskesmas Gembong mengalami kelebihan kapasitas. Sebagian siswa kemudian dirujuk ke RSUD RAA Soewondo Pati. Mereka menjalani pemeriksaan dan mendapatkan penanganan medis.
Menu MBG yang dikonsumsi para siswa meliputi nasi bakar ayam suwir, telur ceplok, orak-arik tempe dan lalapan. Selanjutnya ada kerupuk udang dan irisan buah semangka.
Sebelum munculnya keluhan kesehatan, kata Zaenal, sejumlah siswa sempat mengaku bahwa makanan MBG tersebut memiliki rasa yang enak. Bahkan, beberapa siswa disebut sempat menambah porsi makanan.
Namun demikian, pihak MTS Negeri 3 Pati belum dapat memastikan bahwa makanan MBG tersebut merupakan penyebab munculnya gangguan kesehatan yang dialami para siswa.
“Anak-anak ada yang bilang makanannya enak, bahkan ada yang menambah. Tapi itu belum bisa menjadi dasar untuk menyimpulkan penyebabnya,” terang Zaenal.