Keluarga Mengaku Diteror Usai Penembakan Tiga Pegawai Dinas Pertanian Jayawijaya
Glery Lazuardi September 11, 2026 05:34 AM

TRIBUNNEWS.COM - Tiga pegawai Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, tewas dalam penembakan di Distrik Muliama, Rabu (9/9/2026).

Salah satu korban, Wili Mbuik (24), merupakan warga asal Nusa Tenggara Timur (NTT).

Setelah peristiwa tersebut, keluarga Wili di Kota Kupang dan Kabupaten Rote Ndao mengaku mendapat teror melalui telepon seluler. Keluarga menduga teror tersebut dilakukan oleh pihak yang berkaitan dengan penembakan.

Hal itu disampaikan paman Wili, Johanis Baba, saat ditemui di kediamannya di Kelurahan Oesapa, Kota Kupang, Kamis (10/9/2026) malam.

Johanis mengatakan, keluarga menerima sejumlah panggilan, termasuk video call, dari pihak yang tidak dikenal.

"Kami dapat teror, maupun keluarga di Rote," ujar Johanis.

Menurut Johanis, pihak yang menghubungi keluarga diduga menggunakan nomor-nomor yang tersimpan di telepon seluler milik Wili. Ia menduga telepon seluler tersebut telah diambil setelah insiden penembakan.

Kekhawatiran keluarga bertambah setelah nomor telepon Wili tidak lagi dapat dihubungi.

"Kami coba hubungi nomor Wili, tapi sudah tidak aktif," katanya.

Johanis mengatakan, meski nomor Wili sudah tidak aktif, sejumlah nomor keluarga yang sebelumnya tersimpan di telepon seluler tersebut justru mendapat panggilan dari pihak yang diduga berkaitan dengan pelaku penembakan.

Baca juga: Mentan Minta TNI-Polri Usut Tuntas Pelaku Penembakan 3 Pegawai Dinas Pertanian di Papua Pegunungan 

Tiga Pegawai Tewas

Penembakan terjadi ketika rombongan pegawai Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya dalam perjalanan kembali menuju Kota Wamena setelah meninjau program cetak sawah di wilayah Distrik Muliama.

Rombongan tersebut berjumlah 11 orang. Berdasarkan keterangan yang dihimpun, delapan orang lainnya diduga dipisahkan dari tiga pegawai yang menjadi korban penembakan.

Ketiga korban adalah Aprida Rapi (49), Alfonsius Albinus Meha (35), dan Wili Mbuik (24). Ketiganya disebut sebagai pegawai Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya.

Aprida Rapi disebut menjabat Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya. Sementara Alfonsius Albinus Meha dan Wili Mbuik merupakan pegawai pada instansi tersebut.

Aprida dan Alfonsius meninggal di lokasi kejadian. Sementara Wili sempat dievakuasi ke RSUD Wamena untuk mendapatkan perawatan sebelum dinyatakan meninggal dunia.

Aparat gabungan kemudian melakukan pengamanan dan olah tempat kejadian perkara (TKP), serta menyisir sejumlah lokasi yang diduga menjadi jalur pelarian pelaku.

Delapan orang yang berada dalam rombongan juga dimintai keterangan untuk membantu penyelidikan.

Kepala Operasi Damai Cartenz-2026, Irjen Pol Faizal Ramadhani, mengatakan kepolisian masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap kronologi dan mengidentifikasi pelaku.

"Kami memastikan proses penyelidikan dilakukan secara menyeluruh untuk mengungkap kronologi, mengidentifikasi para pelaku, serta memastikan mereka mempertanggungjawabkan perbuatannya," tegas Faizal.

Klaim Kelompok Bersenjata

Kelompok yang menyebut diri sebagai Komnas TPNPB melalui juru bicaranya, Sebby Sambom, mengklaim bertanggung jawab atas penembakan tersebut.

Dalam pernyataan tertulisnya, kelompok tersebut menyebut ketiga korban sebagai agen intelijen militer pemerintah Indonesia. Klaim itu belum terverifikasi secara independen.

"Kami bertanggung jawab atas penembakan tiga orang agen intelijen militer pemerintah Indonesia yang berprofesi sebagai ASN di Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya," ujar Sebby Sambom.

Kelompok tersebut juga menyatakan ketiga korban ditembak setelah berusaha melarikan diri ketika rombongan dihentikan.

"Karena panik dan kaget ketiga korban akhirnya melarikan diri, oleh sebab itu kami tembak mati," demikian pernyataan Sebby Sambom.

Baca juga: Keluarga Sempat Berharap Wili Mbuik Selamat Usai Ditembak KKB, Tapi Jenazahnya yang Tiba di Kupang

Jenazah Wili Dipulangkan ke NTT

Jenazah Wili Mbuik diberangkatkan dari Wamena menuju Kupang pada Kamis (10/9/2026).

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Papua Kombes Pol Cahyo Sukarnito mengatakan jenazah diberangkatkan dari Apron II Bandara Wamena menggunakan pesawat Trigana Air Cargo dengan nomor registrasi PK-YSV.

"Keberangkatan jenazah korban kekerasan oleh OTK di Distrik Muliama tersebut dilakukan untuk selanjutnya dimakamkan oleh pihak keluarga di Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur," ujar Cahyo.

Pesawat tiba di Bandara Wamena sekitar pukul 10.30 WIT. Jenazah kemudian dimuat ke dalam pesawat pada pukul 10.58 WIT dan pesawat lepas landas menuju Jayapura sekitar pukul 11.20 WIT.

Setibanya di Bandara Sentani, Jayapura, jenazah dipindahkan ke fasilitas kargo untuk menunggu penerbangan lanjutan menuju Kupang melalui Makassar dan Jakarta.

"Kepolisian bersama pihak terkait melakukan pengamanan dan monitoring di setiap tahapan pemulangan untuk memastikan perjalanan jenazah berjalan aman, tertib, dan lancar hingga diterima pihak keluarga," tegas Cahyo.

Keluarga Minta Perlindungan

Kabar meninggalnya Wili juga mendapat perhatian dari keluarga dan sejumlah warga NTT. Pihak keluarga menyampaikan kesedihan sekaligus kekhawatiran atas situasi keamanan di wilayah tempat Wili bertugas.

Bibi Wili, Selvi Mbuik, mengatakan keluarga di Rote Ndao sempat berharap Wili dapat diselamatkan setelah mengetahui korban masih dalam kondisi kritis.

"Kami sudah syok begitu karena dikirimi foto kena di bagian kiri dada. Kami itu langsung telepon keluarga di situ. Anak kami ini kritis. Mereka bawa ke rumah sakit. Mereka sempat tangani ke dokter di ruangan itu. Kami di sini sudah histeris. Kami mohon Tuhan tolong, kami punya anak semoga dia sehat-sehat saja tapi selang beberapa menit kami lagi doa, kabar ada lagi kami punya anak tiada. Itu sudah sekitar setengah 5," katanya, Kamis dihubungi dari Kupang.

Guru asal NTT, Onesimus Puling, juga menyampaikan surat terbuka yang berisi permintaan agar pemerintah mengevaluasi perlindungan bagi ASN dan pekerja publik yang bertugas di wilayah rawan konflik.

"Mereka datang bukan untuk berperang, melainkan membawa pelayanan kesehatan dan harapan untuk masyarakat Papua. Kekerasan tidak akan pernah menyelesaikan konflik," tegas Onesimus, Kamis (10/9/2026).

"Setiap nyawa warga negara adalah tanggung jawab negara. Kami mendesak pemerintah memberikan perlindungan keamanan yang memadai, pemetaan risiko yang jelas serta jalur evakuasi yang siaga agar tidak ada lagi abdi negara yang pulang dalam peti jenazah," lugasnya.

Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma turut mengecam penembakan tersebut dan meminta aparat menangkap pihak yang bertanggung jawab.

"Mereka mengabdi untuk masyarakat Papua tap dibunuh secara keji. Saya sebagai Wagub NTT mengecam keras tindakan biadab dari OPM tersebut, dan meminta aparat keamanan utk menindak tegas para pelaku," ujarnya, Kamis (10/9/2026).

"Bukan hanya mengecam tapi juga mengutuk keras OPM pelaku kejahatan kemanusiaan," kata mantan Kapolda NTT ini.

Sementara itu, penyelidikan aparat masih berlangsung untuk memastikan kronologi kejadian, identitas pelaku, serta motif penembakan terhadap tiga pegawai Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya tersebut.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.