Temuan Sidak Dinkes, Ada Tempe Diletakkan di Depan Toilet SPPG
M Syofri Kurniawan September 11, 2026 06:14 AM

TRIBUNJATENG.COM, BLORA - Dinas Kesehatan Daerah (Dinkesda) Kabupaten Blora mengungkapkan adanya bahan makanan berupa tempe untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diletakkan di depan toilet Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sukorejo 2, Tunjungan, Blora.

Kepala Dinkesda Blora, Edy Widayat mengatakan, penyimpanan bahan makanan tersebut sangat tidak sesuai prosedur keamanan pangan. 

Edi mengungkapkan, pihaknya mendatangi dapur SPPG tersebut setelah menerima laporan dugaan keracunan makanan yang dirasakan oleh penerima manfaat dari dapur itu.

Pihaknya memang menerjunkan tim surveilans untuk mengecek langsung kondisi dapur SPPG Sukorejo 2 yang diduga menjadi penyebab para siswa mengalami keracunan makanan.

"Pada awal penanganan kasus dan pendataan kasus yang terdampak dengan diduga keracunan dari dapur SPPG dan kami juga menurunkan tim dari surveilans, dari tenaga gizi, dari kesehatan lingkungan, dan dari laboratorium untuk langsung checking ke dapur," terang Edy, Kamis (10/9/2026). 

Edy yang juga menjabat sebagai sekretaris Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Penyelenggaraan Program MBG Kabupaten Blora ini mengaku, pihaknya sudah mengambil sampel makanan dari SPPG tersebut untuk dikirim ke Laboratorium Kesehatan Provinsi Jawa Tengah.

Selain itu, pihaknya mendatangi dapur SPPG tersebut juga untuk melakukan inspeksi kesehatan lingkungan dan kesehatan makanan. 

"Harapan kami, dapur-dapur yang beroperasional bukan hanya menyajikan makanan, tapi mulai dari pemilihan bahan makanan, cara penyimpanan bahan makanan yang kering, cara penyimpanan makanan basah, cara penyimpanan daging, ayam, dan lain-lain harus sesuai dengan prosedur. Karena, dari situlah berawal higiene makanan dan keamanan pangan dimulai," jelas dia. 

Selaku satgas MBG, pihaknya juga sudah membuat laporan sementara kepada Badan Gizi Nasional (BGN) agar SPPG Sukorejo 2 direkomendasikan untuk ditutup permanen.

"Langkah awal begitu ada keracunan kami membuat data awal, terus melakukan sidak, kami membuat laporan sementara ke BGN karena laporan akhir adalah setelah hasil lab turun. Kami buat laporan dan merekomendasikan untuk penutupan, dan penutupan memang wewenang dari BGN," kata dia. 

Mereka mengalami kondisi lemas, diare, muntah, mual hingga pusing. Hingga saat ini, total korban yang diduga keracunan menu MBG dari dapur SPPG tersebut 216 orang. 

Hasil laboratorium 

Sementara itu, hasil uji laboratium mengungkap penyebab ratusan siswa MAN 2 Banyumas yang diduga keracunan MBG, Agustus silam.

Uji laboratorium dilakukan di Balai Laboratorium Kesehatan Masyarakat dan Pengujian Alat Kesehatan Provinsi Jawa Tengah.

Dari sampel menu ayam woku, dinyatakan positif mengandung bakteri Bacillus cereus dan Escherichia coli.

Sebelumnya, pada 10 Agustus silam, 165 siswa MAN 2 Banyumas, mengalami gejala pusing, mual, dan diare, seusai menyantap menu MBG.

Setelah peristiwa tersebut, sampel menu MBG yang saat itu dikonsumsi kemudian dikirimkan untuk uji laboratorium. 

Humas MAN 2 Banyumas, Muhammad Fahmi mengungkapkan, pihaknya sudah menerima hasil uji laboratorium sampel MBG.

Hasilnya, dari sampel menu ayam woku dinyatakan positif mengandung bakteri Bacillus cereus dan Escherichia coli.

"Dari SPPG terkait juga sudah menyampaikan hasil evaluasi, ada kesalahan atau human eror. Ada proses yang tidak sesuai, sehingga menimbulkan bakteri," kata Fahmi, Kamis (10/9/2026).

Menurut Fahmi, sejak kejadian keracunan tersebut pada 10 Agustus 2026, pengiriman menu MBG sampai saat ini sementara berhenti ke MAN 2 Banyumas.  

Dari MAN 2 Banyumas, menunggu konfirmasi dan keputusan BGN, akan dilanjutkan atau tidak.

Pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan Kantor Kemenag setempat, arahannya untuk mengikuti hasil uji laboratorium dan keputusan BGN.

"Belum ada keputusan dari pihak BGN, dihentikan atau bagaimana, itu urusan di sana. Kami hanya pelaksana, kalau jalan lagi, ya kami ikuti saja," ujarnya. 

Fahmi mengatakan, meski begitu, MAN 2 Banyumas tidak akan memaksakan orang tua atau siswa untuk menerima MBG.

Pihaknya akan melakukan polling, mana yang bersedia dan tidak.

Dia khawatir, ada orang tua dan siswa yang masih trauma atas kejadian keracunan kemarin.

"Hasil uji lab ini juga akan kami sampaikan ke orangtua melalui komite sekolah. Besok (hari ini—Red) akan ada rapat pleno dan akan kami sampaikan," jelasnya. (Fajar Bahruddin Achmad/Kompas.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.