TRIBUNKALTARA.COM, NUNUKAN - Perekonomian Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, kembali mencatat pertumbuhan positif.
Badan Pusat Statistik (BPS) Nunukan mencatat ekonomi daerah itu tumbuh 3,95 persen pada Triwulan II 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Tak hanya secara tahunan, ekonomi Nunukan juga mengalami pertumbuhan secara triwulanan.
Dibandingkan Triwulan I 2026, ekonomi Nunukan tumbuh 1,66 persen pada Triwulan II 2026.
Kepala BPS Kabupaten Nunukan, Iskandar Ahmaddien, mengatakan capaian tersebut menunjukkan aktivitas ekonomi di Nunukan masih bergerak positif.
Baca juga: Disdukcapil Nunukan: Anak 17 Tahun Wajib Rekam KTP, Bisa Pengaruhi Kartu Keluarga
Menurutnya, pertumbuhan tersebut tercermin dari aktivitas produksi, konsumsi masyarakat hingga investasi yang tetap berjalan selama periode April hingga Juni 2026.
“Pertumbuhan ekonomi Triwulan II menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi di Nunukan masih bergerak positif. Pertumbuhan tidak hanya ditopang satu sektor, tetapi juga terlihat dari berbagai lapangan usaha dan komponen pengeluaran,” ujar Iskandar Ahmaddien, Jumat (11/9/2026).
Berdasarkan data BPS, nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Nunukan atas dasar harga berlaku pada Triwulan II 2026 mencapai Rp11,59 triliun.
Sementara itu, PDRB atas dasar harga konstan 2010 tercatat sebesar Rp4,95 triliun.
Sejumlah sektor jasa mencatat pertumbuhan cukup tinggi pada periode tersebut.
Lapangan usaha Jasa Perusahaan menjadi sektor dengan pertumbuhan tertinggi, yakni mencapai 24,78 persen.
Pertumbuhan tinggi berikutnya terjadi pada sektor Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum yang tumbuh 21,17 persen, disusul Real Estat sebesar 20,35 persen.
Iskandar menilai perkembangan tersebut menjadi sinyal bahwa aktivitas ekonomi Nunukan tidak hanya bertumpu pada sektor berbasis sumber daya alam.
“Kita melihat ada perkembangan pada sektor jasa, akomodasi, makan minum, dan real estat. Ini menunjukkan adanya aktivitas ekonomi yang semakin beragam di Nunukan,” katanya.
Meski demikian, struktur ekonomi Nunukan hingga kini masih sangat kuat bergantung pada sektor pertambangan.
Pertambangan dan Penggalian menjadi lapangan usaha dengan kontribusi terbesar terhadap PDRB Nunukan, yakni 47,26 persen.
Sementara sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan memberikan kontribusi 21,04 persen.
Dengan demikian, kedua sektor tersebut secara bersama-sama menyumbang lebih dari dua pertiga struktur perekonomian Nunukan.
Lima sektor terbesar, yakni Pertambangan dan Penggalian; Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan; Konstruksi; Industri Pengolahan; serta Perdagangan Besar dan Eceran, bahkan menyumbang 90,36 persen terhadap PDRB Nunukan.
Menurut Iskandar, kondisi tersebut sekaligus menjadi tantangan bagi daerah untuk terus memperkuat sektor-sektor ekonomi lainnya.
“Struktur ekonomi kita memang masih didominasi pertambangan dan pertanian. Ke depan, diversifikasi ekonomi penting dilakukan agar pertumbuhan semakin kuat dan tidak terlalu bergantung pada beberapa sektor utama,” jelasnya.
Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi Nunukan juga mendapat dorongan dari sejumlah komponen utama.
Pengeluaran Konsumsi Pemerintah mencatat pertumbuhan paling tinggi, yakni 18,11 persen.
Kemudian Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau yang berkaitan dengan investasi tumbuh 5,64 persen, sedangkan Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga tumbuh 4,82 persen.
Kondisi ini menunjukkan aktivitas pembangunan pemerintah, investasi, serta konsumsi masyarakat turut menjaga pergerakan roda ekonomi daerah.
“Pertumbuhan konsumsi pemerintah, investasi, dan konsumsi rumah tangga menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi dari sisi pengeluaran juga tetap berjalan. Ini menjadi bagian penting dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Nunukan,” ungkap Iskandar.
Meski tumbuh positif, laju ekonomi Nunukan pada Triwulan II 2026 masih berada di bawah pertumbuhan ekonomi Kalimantan Utara.
Ekonomi Kalimantan Utara tumbuh 4,96 persen secara tahunan, sedangkan Nunukan tumbuh 3,95 persen atau terpaut 1,01 poin persentase.
Secara triwulanan, ekonomi Kalimantan Utara tumbuh 2,53 persen.
Dari sisi kontribusi, Nunukan tetap memiliki peran besar terhadap perekonomian provinsi.
PDRB Nunukan menyumbang sekitar 27,05 persen terhadap PDRB Kalimantan Utara.
Artinya, meskipun laju pertumbuhan Nunukan belum menjadi yang tertinggi, aktivitas ekonomi di kabupaten perbatasan tersebut tetap memberikan pengaruh signifikan terhadap perekonomian Kalimantan Utara.
Iskandar mengatakan capaian tersebut perlu menjadi momentum untuk memperkuat fondasi ekonomi daerah.
“Yang perlu kita jaga bukan hanya angka pertumbuhannya, tetapi juga kualitas pertumbuhan. Bagaimana sektor produktif semakin berkembang, investasi meningkat, dan potensi ekonomi daerah bisa memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi masyarakat,” pungkasnya.
(*)
Penulis: Fatimah Majid