Dari Kosakata Lokal sampai Kepedihan Ekologis: Pembacaan atas Puisi-puisi Mohamad Baihaqi Alkawy
Idham Khalid September 11, 2026 11:20 AM

Oleh: Chaidir Amry
Penulis adalah pegiat sastra NTB
 
TRIBUNLOMBOK.COM, MATARAM - Salah satu yang paling menonjol dari puisi-puisi Baihaqi dalam buku “Tanduk Sapi di Perut Bumi” adalah bagaimana bentang alam dan nama tempat diubah menjadi sebuah sosok yang bernapas atau menyatu dengan tubuh manusia. Dalam judul puisi "Perempuan Pemetik Labuapi", penyair mengolah diksi nama tempat ini secara unik: ia mengembalikan diksi Labuapi ke dalam makna bahasa Indonesia yaitu buah, tetapi tetap mempertahankan bentuk toponiminya dalam arti ia tidak memisahkan kata tersebut menjadi "labu api"

Secara bentuk, puisi-puisi Baihaqi tidak sekadar menggunakan kosakata lokal sebagai ornamen eksotis, melainkan sebuah politik bahasa yang mengganggu kemapanan bahasa Indonesia. Memasukkan diksi Sasak dalam struktur teks berbahasa Indonesia bertindak sebagai strategi desentralisasi bahasa: penyair menolak tunduk pada kebakuan estetik yang berpusat pada hegemoni bahasa nasional. Di sini, bahasa Sasak bekerja sebagai hambatan semantik yang sengaja dipasang untuk merusak kenyamanan pembaca di luar lingkungan tutur Sasak, memaksa mereka berhadapan dengan bahasa atau diksi lokal yang tidak bisa diterjemahkan sepenuhnya tanpa kehilangan daya puitis dan historisnya.

Beberapa diksi bahasa Sasak yang dipakai oleh Baihaqi cenderung terdengar ambigu oleh pembaca yang mengerti bahasa Sasak, tetapi tidak menjadi ambigu jika pembaca tidak mengerti bahasa Sasak, meski bagi kelompok kedua ini, diksi tersebut terasa sebagai entitas asing yang menuntut pembacaan ulang. Ambivalensi ini hadir pada benturan semantik antara bahasa Sasak dan bahasa Indonesia, seperti pada kata tambah, tuak, dan tiang

Seperti kata tambah dalam "Tambah di Tangan Paman", dalam bahasa Indonesia umum bermakna "bertambah" atau "penjumlahan", tetapi dalam bahasa Sasak, nambah merujuk pada kerja fisik menggali atau mencangkul. Ketegangan semantik ini terjadi saat paman memecah bumi hingga air sumur menyusut “paman tumpahkan ke tanah /tempat ia selesai nambah”. Dengan mempertahankan diksi ini, Baihaqi merebut kembali hak penamaan lokal: ia membuktikan bahwa kata-kata dalam bahasa nasional dapat ditekuk oleh realitas pengalaman kerja lokal. 

Penggunaan diksi Sasak lainnya seperti aiq tolok (luapan air sungai) dalam "Jabon Memetik Kangkung", endeng kepeng (meminta uang) dalam "Memecah Kabut Batujai", najuk (membuat lubang benih) dalam "Pergi Najuk ke Segale", penunu (pembakar gerabah) dalam "Bau Mulut Penunu", kao bodak (kerbau albino) dalam "Kao Bodak yang Berjalan Lamban", hingga sumur nine (sumur perempuan) dalam "Sumur Nine". Ini adalah instrumen politik bahasa yang mengikat artikulasi estetik dengan materialitas hidup sehari-hari rakyat Lombok. Bahkan Penyair menolak menerjemahkan Bahasa atau diksi-diksi tersebut, ia membiarkan keasingan itu ada sebagai penanda keunikan kultural yang resisten terhadap penyeragaman bahasa. 

Bila kita membaca puisi-puisi Baihaqi lebih jauh, puisi-puisinya banyak berbicara tentang realitas sosial-ekonomi masyarakat pekerja dan krisis ekologis. Dalam "Jabon Memetik Kangkung", ritme kerja rakyat kecil dihadapkan pada ancaman alam yang presisi. Penggunaan istilah aiq tolok (luapan air sungai) menandai ketergesaan bertani di pinggir kali: “kangkung sudah mekar / jabon petik sesegera mungkin / sebelum aiq tolok menghanyutkan”. Tangan Jabon dijelaskan secara tajam sebagai "pisau", dan perut yang lapar beresonansi langsung dengan aliran sungai di samping rumah “kali di samping rumah / mengalir tak jauh / ke hilir lekuk perutnya”. Kerja di sini adalah perkara bertahan hidup dari ancaman banjir dan kelaparan. 

Pergulatan materialitas kerja ini meluas dalam "Pergi Najuk ke Segale", di mana ketahanan fisik petani dihadirkan lewat citraan taktil “tangan berduri” saat menugal benih di lubang-lubang tanah Segale. Begitu pula dalam "Bau Mulut Penunu", aroma asap jerami dan gerabah terbakar milik perajin merembes hingga teras ke masjid usai sembahyang, serta dalam "Kusir Malam" yang merekam kecemasan kusir dokar mengejar rezeki sampai malam demi menopang hidup. 

Kritik terhadap realitas ekonomi mencapai puncaknya dalam "Memecah Kabut Batujai" dan "Praya Berubah Jadi Raksasa". Dalam "Memecah Kabut Batujai", manusia diposisikan setara dengan ternak dalam pusaran transaksi ekonomi: “batujai dijejali sekawan domba / sehimpun kepala manusia”. Begitu juga dalam“Ada yang melintas/ kabut menyisih/ Serentak orang mendonga/ endeng kepeng, endeng kepeng” (meminta uang) melukiskan kemiskinan struktural yang merajam, di mana aku lirik hanya bisa “menyalak sampai napas kiamat / berharap dari langit / kepeng dijatuhkan tepat / di tengah pasar yang makin gemetar”. 

Dalam "Praya Berubah Jadi Raksasa", Praya sebagai pusat perkotaan dan administratif digambarkan mengalami metamorfosis menjadi raksasa yang mengerikan dan kumuh. Sosok raksasa ini membawa bau pasar tradisional yang identik dengan rakyat bawah: “menyapa dengan bau / mulut paling kabut: / salak busuk, teri / cumi-cumi, terasi / kerupuk kediri / dan keringat amaq sadri”. Perubahan Praya menjadi raksasa yang “menengadahkan tangan / ke ruas jalan yang dilebarkan” dan “serupa saudagar kembang / keliling terminal” merupakan citraan tajam atas pemekaran kota yang menelan ruang hidup warga lokal demi arus modal dan komersialisasi. 

Dalam "Bongkah Batu Bale Bee" dan "Tambah di Tangan Paman", kepedihan ekologis digambarkan secara lugas. Kesuburan tanah hanyalah “harapan yang gagal / sebab sudah sekian bulan dijanjikan”. Kekeringan dipotret lewat sumur yang dangkal dan keputusasaan petani yang dipaksa melempar batu agar “tanah terkejut melupakan / penanggalan yang terkutuk”. Ancaman alih fungsi ruang ini dipertegas dalam "Ketika Tanah-Tanah Dilebarkan dan Dada Disempitkan”, di mana perluasan lahan mengakibatkan lenyapnya padi di tengah kegelapan malam, serta dalam "Pesta Penambang" yang menggambarkan penikaman bumi “menusuk jantung bumi” dan ditutup ironi kesadaran palsu “memuji tuhan dengan botol di tangan”.

Kumpulan puisi Mohamad Baihaqi Alkawy memperlihatkan paduan yang solid antara kecermatan bentuk estetik, kesadaran politik bahasa, dan kepekaan terhadap realita  sosial-ekonomi dan ekologis. Meski begitu, puisi-puisi Baihaqi yang naratif memasukkan banyak diksi bahasa Sasak di dalamnya ini tetapi secara tutur bahasa Sasak masih belum terasa.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.