Warga Maros Nelangsa: LPG Langka, Pertalite Antre, Air Bersih Menipis, Macet Tak Berujung
Ansar September 11, 2026 12:22 PM

TRIBUN-TIMUR.COM, MAROS - Sejumlah persoalan kebutuhan dasar terjadi bersamaan di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.

Dalam sebulan terakhir, warga mengeluhkan sulitnya mendapatkan gas elpiji, air bersih hingga bahan bakar minyak (BBM).

Kelangkaan Pertalite terjadi di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).

Sementara antrean panjang kendaraan, khususnya truk yang mengisi solar, memicu kemacetan di sejumlah ruas jalan.

Di sisi lain, pemadaman listrik bergilir mulai berdampak terhadap aktivitas usaha warga.

Kondisi tersebut semakin berat bagi sebagian warga yang juga menghadapi kekeringan dan kesulitan mendapatkan air bersih.

Gas Elpiji Sulit Didapat

Sejumlah warga di Kabupaten Maros mengeluhkan kelangkaan tabung gas elpiji, khususnya ukuran 3 kilogram.

Selain sulit ditemukan, harga gas bersubsidi tersebut juga mengalami kenaikan di tingkat pengecer.

Warga Kecamatan Bontoa, Safar, mengatakan sudah sekitar sebulan terakhir kesulitan mendapatkan tabung gas untuk kebutuhan rumah tangga.

Terbaru, ia bahkan harus mendatangi hingga empat toko kelontong untuk mendapatkan gas elpiji 3 kilogram.

“Susah sekali dapat tabung gas sekarang, ke pangkalan kosong, keliling sampai empat toko baru bisa dapat,” ujarnya.

Harga gas melon yang dibelinya juga mengalami kenaikan.

Di toko kelontong, Safar harus membayar Rp22 ribu untuk satu tabung. Padahal sebelumnya hanya sekitar Rp20 ribu.

“Karena langka, jadi harganya mahal, dulu Rp20 ribu saja, sekarang itu sudah Rp22 ribu di toko eceran,” imbuhnya.

Gas tersebut digunakan untuk kebutuhan memasak keluarganya.

Satu tabung biasanya dapat bertahan hingga dua minggu apabila tidak ada acara besar.

Menurut Safar, kelangkaan gas bukan hanya membuat pengeluaran bertambah, tetapi juga menyita waktu.

“Semalam saya makan malam jam 9 gara-gara harus cari tabung gas keliling dulu,” bebernya.

Kesulitan serupa dialami Saddam yang menggunakan gas Bright ukuran 5 kilogram.

Ia mengaku sudah kesulitan mendapatkan gas sejak pekan lalu.

Saddam baru mendapatkan tabung gas setelah mencarinya hingga wilayah perkotaan di Kecamatan Turikale.

Padahal, rumahnya berada di Kecamatan Lau yang berjarak sekitar 3 kilometer dari pusat kota.

“Selain langka, harganya juga naik sekarang Rp260 ribu biasanya hanya Rp240-250 saja,” bebernya.

Ia berharap pemerintah segera turun tangan mengatasi kelangkaan gas tersebut.

“Kalau dibiarkan begini terus, ya ampun juga kita jadi warga,” keluhnya.

Pedagang kelontong di Kecamatan Bantimurung, Irma, juga mengaku stok gas elpiji 3 kilogram di tokonya telah kosong selama lebih dari sepekan.

Banyak warga dari sejumlah kampung bahkan datang ke tokonya untuk mencari gas karena sulit mendapatkannya di tempat lain.

“Sudah lebih dari seminggu kosong. Banyak orang dari berbagai kampung datang cari gas ke sini,” ujarnya.

Dalam sehari, hampir 20 orang datang untuk menanyakan ketersediaan gas melon.

“Kemarin hampir 20 orang datang ke rumah cari gas,” katanya.

Irma mengatakan, biasanya agen mengantarkan gas sebanyak dua kali dalam sebulan.

Namun, selama sebulan terakhir, agen tidak lagi mengantarkan tabung gas ke tokonya.

“Jadi saya ambil di agen dekat rumah, itupun terbatas, hanya bisa dua tabung saja, harganya Rp20 ribu jadi jika dijual kembali Rp23 ribu,” bebernya.

Air Bersih Ikut Menipis

Persoalan kebutuhan dasar lainnya dirasakan warga Dusun Mangara Bombang, Desa Ampekale, Kecamatan Bontoa.

Warga di wilayah tersebut masih kesulitan mendapatkan air bersih.

Kondisi semakin parah karena air di sumur tadah hujan yang menjadi salah satu sumber air warga terus menyusut.

Pantauan Tribun Timur di lokasi, air yang tersisa di sumur tampak bercampur lumut dan lumpur.

Sejumlah plastik bekas juga terlihat mengapung di tepian sumur.

Ketinggian air hanya sekitar betis orang dewasa.

Warga yang mengambil air tidak lagi menggunakan gayung.

Mereka harus turun ke dalam sumur dan menenggelamkan jeriken untuk mengambil air.

Air yang diperoleh pun tampak keruh dan nyaris berwarna cokelat.

Kekeringan di Kecamatan Bontoa bukan persoalan baru.

Warga mengaku kondisi serupa terus berulang dari tahun ke tahun.

Salah satu warga, Burhan, mengatakan kekeringan mulai dirasakan sejak sekitar dua bulan terakhir.

Untuk mendapatkan air, ia harus menggunakan gerobak untuk mengangkut jeriken dari sumur tadah hujan.

Namun, air tersebut hanya digunakan untuk kebutuhan mencuci dan mandi.

“Cuci piring dan pakaian,” katanya saat ditemui di sumur tadah hujan, Kamis (20/8/2026).

Sementara untuk kebutuhan minum, Burhan masih mengandalkan air hujan yang sebelumnya telah ditampung.

Meski sudah cukup lama tidak turun hujan, ia mengaku masih memiliki sedikit persediaan air untuk kebutuhan minum.

Di sekitar tempat tinggalnya juga tidak terdapat penjual air.

Warga harus mencari sumber air lain jika persediaan mulai menipis.

Jarak rumah Burhan dengan sumur tadah hujan juga cukup jauh, sekitar satu kilometer.

“Rumah saya kan jauh, kalau jarak dari sumur tadah hujan sekitar 1 kilometer,” bebernya.

Jika membeli air, warga harus mengeluarkan sekitar Rp80 ribu untuk satu mobil air.

“Kalau Rp80 ribu itu bisa dipakai seminggu,” bebernya.

Pertalite Langka, Warga Rela Antre

Kelangkaan BBM jenis Pertalite juga dirasakan sejumlah pengendara di Maros.

Kekosongan stok terjadi di sejumlah SPBU.

Ketika Pertalite tersedia, antrean kendaraan justru mengular hingga ke tepi jalan.

Salah satu pengendara, Muh Ilyas, baru mendapatkan Pertalite setelah mengantre sekitar 20 menit di SPBU Ballu-ballu, Kecamatan Mandai, Jumat (11/9/2026).

Ia menyebut ada sekitar 30 sepeda motor yang berada di depannya.

“Panjang sekali antrean, 20 menitan baru bisa dapat,” sebutnya kepada Tribun Timur.

Ilyas mengatakan beberapa SPBU yang dilintasinya tidak menyediakan Pertalite.

“Di SPBU Buttatoa kosong, di Batangase antreannya lebih panjang lagi, jadinya saya mengisi di Ballu-ballu,” bebernya.

Pengendara lainnya, Asty Utami, bahkan memilih membeli Pertalite eceran karena tidak ingin menghabiskan waktu mengantre.

Ia sempat mencoba mencari BBM di SPBU Jawi-jawi, Kecamatan Bantimurung.

Namun, antrean yang panjang membuatnya mengurungkan niat.

“Saya pilih beli di pengecer yang botolan, capek mengantre,” ujarnya.

Asty juga sempat mencari Pertalite di SPBU Pattunuang, Kecamatan Simbang.

Namun, stok Pertalite di SPBU tersebut kosong dan terdapat pengumuman mengenai proses pengiriman.

“Beberapa saya dapati memang kosong pertalite, jadi mending beli yang ada saja,” katanya.

Ia akhirnya membeli BBM eceran dengan harga Rp13 ribu per liter.

“Itupun sisa dua botol yang ada, karena kalau mau ditunggu pertamina, bisa-bisa saya telat bekerja,” sebutnya.

Asty menegaskan dirinya tidak melakukan panic buying.

“Apanya mau panic buying kalau memang yang mau dibeli tidak ada?,” sebutnya.

Ia berharap kelangkaan BBM segera diatasi.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat pengendara dirugikan karena harus menghabiskan lebih banyak waktu untuk mencari BBM.

“Karena kalau begini terus, karena kami yang rugi, rugi waktu, bagus kalau mengatre lama, dapat barangnya, tapi kadang malah habis,” bebernya.

Antrean Solar Picu Kemacetan

Persoalan BBM juga berdampak pada arus lalu lintas di Jalan Poros Maros-Makassar.

Kemacetan panjang terjadi hampir setiap hari dan salah satu pemicunya adalah antrean truk yang mengular di sejumlah SPBU.

Kendaraan berukuran besar tersebut kerap parkir hingga memakan sebagian badan jalan.

Antrean bahkan terjadi di kedua arah jalan.

Truk yang mengantre dari arah Makassar maupun menuju Maros kerap membuat kendaraan lain ikut tersendat.

Saat pasokan solar tersedia, para sopir truk bergerak satu per satu menuju dispenser pengisian.

Warga mengaku kondisi tersebut semakin parah dalam dua bulan terakhir.

Salah satu pengendara, Yuliana, mengatakan antrean kendaraan di SPBU Ballu-ballu, Kecamatan Mandai, bahkan mengular hingga lebih dari satu kilometer.

“Antrean SPBU Ballu-ballu sudah sampai Maccopa,” ujarnya kepada Tribun Timur, Kamis (10/9/2026).

Menurutnya, sebelumnya kemacetan hanya terjadi pada jam sibuk, terutama pagi dan sore.

Kini, kemacetan dapat terjadi sepanjang hari.

“Mau pagi, siang, sore, malam macet terus,” sebutnya.

Kondisi tersebut turut berdampak pada aktivitas Yuliana. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.