Seorang wanita asal Australia telah memperhatikan perubahan pada tubuhnya selama bertahun-tahun. Namun, dia tidak pernah membayangkan bahwa perubahan tersebut mengarah pada kanker usus.
Dikutip dari laman People, selama hampir tujuh tahun, gejala-gejala yang dia abaikan di antaranya perubahan kebiasaan buang air besar, ketidaknyamanan perut, dan perubahan berat badan. Namun, pada tahun 2021, saat berusia 25 tahun, wanita bernama Keliie Finlayson ini didiagnosis mengidap kanker usus stadium 4.
"Sangat sulit untuk memahami apa itu kanker usus karena sangat mirip dengan siklus menstruasi, jadi sangat mudah untuk mengabaikannya dan menyalahkan hal lain," katanya.
Finlayson berulang kali mengalami masalah pada buang air besar. Namun, setiap kali muncul keluhan, selalu ada penjelasan lain yang dianggap masuk akal. Saat berkonsultasi dengan dokter untuk mencari tahu penyebabnya, ia memilih menerima penjelasan yang diberikan dan tidak meminta pemeriksaan lebih lanjut.
"[Ini] juga kesalahan saya karena saya tidak menganggap serius apa pun, tetapi setiap kali mereka mengatakan bahwa saya terlalu muda, bugar, dan sehat, saya menerimanya begitu saja," jelas Finlayson.
"Saya hanya minum obat dan membiarkan mereka, saya kira, memberi tahu saya apa yang salah dengan tubuh saya tanpa pernah benar-benar melakukan tes apa pun, yang, seperti yang saya katakan, sekali lagi, saya tidak menganggapnya serius, jadi saya tidak mendesak untuk mendapatkan jawaban."
Ia hanya menangani setiap gejala yang muncul. Ketika mengalami sembelit, ia mengonsumsi obat pencahar, sementara saat buang air besar terlalu lunak, ia menggunakan obat antidiare.
Diagnosa Kanker setelah Melahirkan
Tiga bulan setelah melahirkan putrinya, diagnosa penyakit Finlayson akhirnya diketahui. Awalnya, ia diberi tahu bahwa dirinya mengidap kanker usus stadium 3. Namun, hasil pemindaian dalam waktu 48 jam menunjukkan bahwa kanker tersebut telah menyebar sehingga kondisinya dinyatakan sebagai stadium 4, yang menurutnya secara teknis sudah masuk kategori terminal atau kondisi serius yang tidak bisa disembuhkan.
Dia menjalani operasi, termasuk kolostomi sementara, dilanjutkan dengan lebih dari 80 putaran kemoterapi intensif dan perawatan lainnya. Pada satu waktu, dia menghabiskan 12 hari di ruang perawatan intensif karena pembatasan COVID.
Pada awalnya, pengobatan yang dijalani Finlayson tampak berhasil. Pada Juli 2022, hasil pemindaian menunjukkan tidak ada lagi tumor yang terlihat, meski sel kanker mikroskopis masih ditemukan di tujuh kelenjar getah bening.
Namun, pada akhir tahun yang sama, kanker tersebut kembali muncul di paru-paru Finlayson. Ia kemudian menjalani rencana pengobatan baru, termasuk kemoterapi dan operasi paru-paru. Sejak saat itu, kondisi kankernya terus ditangani melalui pengobatan dan pemeriksaan pemindaian secara rutin.
Kini, Finlayson yang sudah berusia 30 tahun masih hidup dengan kanker usus metastatik. Pengobatannya difokuskan untuk menjaga agar penyakit tetap stabil, sekaligus mempertahankan kualitas hidupnya.
Meski penyakit itu mungkin telah mengubah hampir setiap bagian hidupnya, dia telah belajar bagaimana hidup berdampingan dengan penyakit tersebut dan tetap hadir untuk putrinya.
"Saya sudah sangat mahir dalam hal itu, yang merupakan hal aneh untuk dikuasai, tetapi saya senang telah menguasainya," kata Finlayson.





