TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Tim mahasiswa Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), meraih juara 1 lomba poster ilmiah tingkat nasional.
Kompetisi tersebut diselenggarakan Universitas Widya Husada Semarang dalam rangka Dies Natalis ke-29 pada Mei 2026.
Tim UHO terdiri dari Fadhilah Fajar Rahma Heda, Fatih Muhammad Bintang Possumah, dan Muh Fahril.
Ketiganya merupakan mahasiswa Program Studi Informatika, Fakultas Teknik UHO.
Fadhilah mengatakan, poster yang mereka buat mengangkat topik prediksi risiko stroke menggunakan machine learning, khususnya pendekatan ensemble learning dengan algoritma Random Forest.
Gagasan tersebut diwujudkan melalui PERISAI (Predictive Evaluation of Risk Indicators for Stroke), sebuah konsep Clinical Decision Support System yang dirancang untuk membantu mendeteksi risiko stroke secara lebih dini.
PERISAI memanfaatkan data klinis dan gaya hidup yang kemudian melalui tahapan preprocessing, penyeimbangan data menggunakan SMOTE, pemodelan dengan Random Forest, serta analisis feature importance.
Baca juga: Mengenal 2 Perempuan Pimpin Organisasi Mahasiswa UHO dan UIN Kendari Sulawesi Tenggara
“Kami memilih topik ini karena stroke merupakan salah satu masalah kesehatan yang memiliki dampak besar secara global, dengan jutaan kasus baru dan kematian setiap tahunnya,” kata Fadhilah kepada Tribunnewssultra.com, Jumat (11/9/2026).
Kata dia, lebih dari 80 persen kematian akibat stroke terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah, termasuk Indonesia.
Dari sisi teknologi, tim melihat machine learning dapat dimanfaatkan bukan hanya untuk menghasilkan prediksi, tetapi juga membantu memahami faktor-faktor yang berkontribusi terhadap risiko stroke.
“Karena itu, kami mencoba menggabungkan teknologi dengan kebutuhan kesehatan melalui sebuah sistem yang bersifat prediktif dan dapat mendukung pengambilan keputusan klinis,” ujarnya.
Adapun tips bagi mahasiswa yang ingin menyusun poster ilmiah agar menarik, yakni langkah pertama menentukan persoalan utama yang ingin disampaikan sebelum masuk ke tahap desain.
Setelah itu, susun alur penelitian mulai dari pengumpulan data, preprocessing, penyeimbangan data, pemodelan, evaluasi, hingga implementasi sistem.
Informasi yang dimasukkan ke dalam poster, kata Fadhilah juga perlu dipilih secara selektif.
Tidak seluruh hasil penelitian harus ditampilkan agar pembaca dapat menangkap inti pembahasan dengan mudah.
Dalam poster PERISAI misalnya, tim memilih informasi penting seperti performa model, faktor risiko utama, mekanisme sistem, serta fitur yang ditawarkan.
“Konsep poster kami buat dengan alur masalah, metode, hasil, implementasi, dan kesimpulan. Dengan alur tersebut, pembaca dapat mengikuti isi penelitian secara berurutan tanpa harus membaca keseluruhan paper secara mendalam,” ujarnya.
Dalam aspek desain, keterbacaan menjadi pertimbangan utama.
Poster ilmiah yang memuat banyak informasi sebaiknya tidak dipenuhi teks, tetapi dibagi menjadi beberapa bagian yang jelas.
Pemilihan gambar, warna, tulisan, dan tata letak juga perlu disesuaikan dengan informasi yang ingin disampaikan.
“Kami menggunakan grafik, diagram alur, serta blok informasi untuk membantu menyederhanakan data yang kompleks,” tuturnya.
Fadhilah juga menyarankan agar hasil penelitian yang paling penting dibuat lebih menonjol.
Pada poster PERISAI, mereka menampilkan akurasi 94,24 persen, sensitivitas 96 persen, serta tiga prediktor utama berupa usia, penyakit jantung, dan hipertensi.
“Bagian yang paling ingin kami tonjolkan adalah hasil dan keunggulan PERISAI, terutama performa model dan faktor risiko yang paling berpengaruh. Hal ini karena bagian tersebut menunjukkan hasil nyata dari penelitian, bukan hanya konsep yang kami tawarkan,” katanya.
Selain hasil penelitian, tim turut menampilkan lima fitur PERISAI, yaitu Predict, Insight, Care, Entry, dan Alert.
Menurutnya, penyajian fitur tersebut memperlihatkan bagaimana hasil penelitian dapat dikembangkan menjadi sistem yang lebih aplikatif untuk membantu tenaga medis melakukan deteksi dan pencegahan stroke secara lebih dini. (*)
(TribunnewsSultra.com/Dewi Lestari)