TRIBUNPAPUABARAT.COM, SORONG - Pelaksanaan Sensus Ekonomi (SE2026) Provinsi Papua Barat Daya (PBD) memasuki tahap akhir, namun capaian pendataan daerah ini masih berada di tiga posisi terendah secara nasional.
Kondisi tersebut menjadi alarm serius bagi partisipasi masyarakat dan pelaku usaha.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Papua Barat, Merry, menyampaikan hal itu di Kota Sorong, Jumat (11/9/2026).
Ia menegaskan bahwa petugas SE2026 terus melakukan penyisiran hingga 15 September 2026 untuk mendata rumah tangga maupun unit usaha yang belum terjangkau.
Baca juga: Mendagri dan BPS Serukan Kolaborasi Pemda se-Papua dalam Sensus Ekonomi 2026
“Papua Barat Daya masih berada di tiga terendah se-Indonesia. Karena itu saya sangat membutuhkan dukungan penuh dari masyarakat dan pelaku usaha agar sensus ekonomi ini tidak berakhir dengan capaian rendah,” kata Merry.
Penolakan Jadi Kendala
Merry mengungkapkan, salah satu hambatan utama di lapangan adalah penolakan warga maupun pengusaha untuk memberikan data.
“Kendalanya tentu penolakan. Ada pengusaha maupun warga yang tidak mau didata. Kami berharap mereka mau membuka diri,” ujarnya.
Ia menegaskan, informasi yang dikumpulkan dalam SE2026 sangat krusial bagi pembangunan Papua Barat Daya.
Baca juga: SE2026 Papua Barat Capai 30 Persen, BPS Targetkan Pendataan Rampung Akhir Agustus
Data tersebut akan memetakan kondisi sosial ekonomi keluarga sekaligus perkembangan usaha mikro, kecil, menengah, hingga usaha besar.
“Data yang diberikan masyarakat sangat bermanfaat. Dari sensus ini kita bisa melihat berapa banyak usaha besar, menengah, mikro, dan kecil, serta memperbarui potret kondisi sosial ekonomi keluarga di Papua Barat Daya,” jelasnya.
Dengan waktu yang semakin sempit, Merry kembali mengajak masyarakat dan pelaku usaha untuk menerima petugas sensus serta memberikan data yang benar.
“Sampai tanggal 15 kami masih melakukan penyisiran. Mudah-mudahan semua yang terlewat dapat mendukung pendataan ini. Partisipasi masyarakat akan menentukan wajah pembangunan daerah ini (Papua Barat Daya),” pungkasnya. (tribunsorong.com/taufik nuhuyanan)