SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Cabang Sumatera Selatan (Sumsel) menyerahkan bantuan pompa dan sejumlah peralatan pemadam kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumatera Selatan, Jumat (11/9/2026).
Bantuan tersebut menjadi bagian dari kontribusi aktif GAPKI Sumsel dalam memperkuat kesiapsiagaan serta kapasitas penanganan karhutla di Sumsel, khususnya dalam menghadapi kondisi kemarau dan ancaman kebakaran yang masih menjadi perhatian serius.
Ketua GAPKI Cabang Sumsel, Alex Soegiarto, mengatakan bantuan peralatan tersebut merupakan wujud kepedulian sekaligus komitmen dunia usaha untuk ikut mengambil bagian dalam penanggulangan bencana karhutla.
Menurutnya, penanganan karhutla membutuhkan kolaborasi seluruh pihak, termasuk pemerintah (BPBD, Manggala Agni, dinas terkait), TNI, Polri, perusahaan, dan berbagai pemangku kepentingan.
"GAPKI berharap dengan bantuan peralatan ini dapat menunjang sarana dan prasarana dalam penanganan karhutla. Penanggulangan bencana karhutla perlu dukungan dari semua pihak dan ini merupakan salah satu wujud kontribusi GAPKI,” ujar Alex.
Ia menegaskan, kontribusi GAPKI Sumsel dalam pengendalian karhutla tidak berhenti pada pemberian bantuan peralatan.
Upaya peningkatan kapasitas sumber daya manusia juga terus dilakukan secara rutin.
Alex menyebut, pada Juli 2026 lalu, GAPKI Sumsel kembali melaksanakan pelatihan untuk pelatih (Training of Trainers/ToT) sebagai bagian dari upaya meningkatkan kemampuan personel dalam menghadapi kebakaran di wilayah perkebunan.
“Secara rutin setiap tahun kita juga melakukan upaya pengendalian kebakaran lahan dan kebun. Salah satunya melalui pelatihan untuk pelatih yang dilaksanakan pada Juli lalu,” katanya.
Dukungan tersebut menjadi semakin penting mengingat karhutla masih menjadi salah satu tantangan utama Sumatera Selatan sepanjang musim kemarau 2026.
Berdasarkan data BNPB per 3 September 2026, luas lahan terbakar di Sumatera Selatan telah mencapai sekitar 1.926,23 hektare.
Pada periode yang sama, pemantauan satelit juga mendeteksi 92 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi, 1.424 titik dengan tingkat kepercayaan sedang, dan 40 titik dengan tingkat kepercayaan rendah.
Sejumlah wilayah bahkan menjadi prioritas penanganan, di antaranya Ogan Komering Ilir (OKI), Banyuasin dan Musi Banyuasin, disusul Muara Enim, OKU Timur, Ogan Ilir, Musi Rawas dan Musi Rawas Utara.
Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan juga menyebut sekitar 80 persen lahan yang terbakar merupakan lahan terbengkalai, sehingga persoalan karhutla membutuhkan pendekatan yang tidak hanya berorientasi pada pemadaman, tetapi juga pencegahan dan pengelolaan wilayah rawan kebakaran.
Di tengah kondisi tersebut, keterlibatan dunia usaha dinilai penting untuk memperkuat kemampuan respons di lapangan, terutama melalui dukungan peralatan, sumber daya manusia, edukasi, patroli dan kesiapsiagaan.
Sekretaris BPBD Provinsi Sumatera Selatan, Aksoni, mengapresiasi bantuan yang diberikan GAPKI Sumsel. Menurutnya, tambahan peralatan pemadam akan membantu memperkuat kesiapan personel dalam melakukan penanganan kebakaran di lapangan.
“Kami mengapresiasi dan berterima kasih atas bantuan yang diberikan GAPKI Sumsel. Semoga dengan bantuan pompa dan peralatan ini dapat membantu percepatan pengendalian kebakaran hutan dan lahan,” ujar Aksoni.
Ia juga mengimbau seluruh elemen masyarakat untuk terus membangun kepedulian dan mengambil peran dalam pencegahan karhutla.
Menurutnya, pengendalian karhutla membutuhkan kerja bersama karena kebakaran dapat berkembang dengan cepat, terutama pada kondisi cuaca panas dan kering.
“Kami mengimbau kepada semua elemen masyarakat agar dapat terus bersama-sama berupaya dalam pengendalian karhutla,” katanya.
Kolaborasi antara pemerintah dan dunia usaha seperti yang dilakukan GAPKI Sumsel diharapkan dapat terus diperluas.
Bukan hanya ketika kebakaran terjadi, tetapi juga melalui langkah-langkah pencegahan, peningkatan kapasitas, kesiapsiagaan, edukasi masyarakat dan penguatan sarana pemadaman.
Dengan demikian, peran dunia usaha dalam penanganan karhutla tidak sekadar hadir ketika bencana terjadi, tetapi menjadi bagian dari sistem bersama untuk menjaga lingkungan, melindungi masyarakat, serta mencegah meluasnya kebakaran hutan dan lahan di Sumsel.