Jaga Kualitas Gizi dan Ekonomi Lokal, Warga Aceh Tengah Dukung Program MBG Tetap Terpusat di SPPG
Mawaddatul Husna September 11, 2026 05:54 PM

TRIBUNGAYO.COM, TAKENGON - Wacana pengalihan program Makan Bergizi Gratis (MBG) ke kantin sekolah menuai tanggapan dari sejumlah warga di Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh.

Sebagian warga menilai, meski anak-anak sekolah tetap bisa mendapatkan makanan, manfaat ekonomi dan pengelolaan dari program ini akan jauh lebih berkurang jika dipindahkan ke kantin sekolah.

Berdasarkan keterangan Adha Zuhardi dan Jumaris Topan, masyarakat Kampung Simpang Kelaping yang juga orang tua murid penerima manfaat MBG, keberadaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) saat ini dinilai jauh lebih banyak membantu masyarakat luas. 

sppg aceh tengah 1109
SPPG - Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Simpang Kelaping, Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh. (Ist)

Melalui sistem SPPG seperti sekarang, banyak warga sekitar yang mendapatkan pekerjaan, pasokan bahan baku bisa langsung diambil dari petani lokal, dan kualitas gizi makanan sudah pasti terjamin karena di kontrol oleh tenaga ahli gizi.

Pendapat serupa juga disampaikan oleh Kepala SPPG Aceh Tengah Pegasing Simpang Kelaping 02, Rezza Bintang Pamungkas. 

Menurutnya, pelaksanaan MBG harus tetap berpusat dari SPPG karena program ini tidak sekadar soal kenyang, melainkan menyangkut aspek aman, bergizi, dan berdaya.

"Menurut kami, MBG ya tetap harus dari SPPG karena bisa bantu orang banyak, mulai dari petani, pedagang, dan juga bantu masyarakat dapat kerja," ujar Rezza Bintang.

Rezza menegaskan bahwa standar operasional yang diterapkan di SPPG memiliki keunggulan profesional yang tidak bisa disamakan dengan pengelolaan kantin biasa. 

Setidaknya ada delapan standar kualitas yang diterapkan di SPPG, meliputi:

  • Sertifikat Halal dan HACCP: Menjamin proses sesuai syariat Islam serta sistem keamanan pangan bertaraf internasional guna menekan risiko keracunan seminimal mungkin.
  • Sertifikat SLHS (Standar Laik Higiene Sanitasi) & Sanitasi Industri: Dapur telah lolos uji Dinas Kesehatan dengan standar bangunan, air bersih, serta pemisahan area bersih dan kotor yang ketat.
  • SDM Tersertifikasi: Melibatkan relawan penjamah makanan yang kompeten serta kolaborasi antara chef profesional untuk rasa dan ahli gizi untuk memastikan kecukupan kalori serta pencegahan stunting.
  • Pengawasan Bahan Baku dan Efisiensi Anggaran: Menerapkan SOP ketat (seperti sistem FIFO dan pengecekan kesegaran) serta pembelian grosir langsung dari petani lokal untuk efisiensi anggaran negara.
  • Pemberdayaan Ekonomi Lokal: Satu unit SPPG mampu menyerap 20–30 tenaga kerja warga sekitar serta menyerap hasil panen petani lokal secara langsung sehingga perputaran ekonomi desa tetap terjaga.

"Di SPPG itu nilai gizinya sudah terukur. Dalam satu ompreng di situ sudah ada unsur seperti karbohidrat, protein nabati, protein hewani, serat, dan mineral yang sudah dirancang atau dihitung oleh ahli gizinya," jelas Rezza.

Selain itu, sistem ini juga dinilai jauh lebih efektif karena tidak merepotkan tenaga pendidik di sekolah. 

Dengan demikian, tercipta pembagian peran yang ideal, sekolah fokus mendidik, sementara SPPG fokus menghidangkan standar gizi dan keamanan pangan terbaik untuk anak-anak bangsa.(***Alga Mahate Ara***)

Baca juga: Harga Kopi Gayo di Aceh Tengah Merangkak Naik, Ini Rincian di Tingkat Pengepul

Baca juga: Prakiraan Cuaca Aceh Tengah Hari Ini: Didominasi Berawan hingga Berawan Tebal

Baca juga: Perkuat Penanganan Bencana, Aceh Tengah Terima Bantuan Ekskavator Mini dari Pemprov Sumut

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.