Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Albert Aquinaldo
TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE – Rencana kepulangan drh. Alfonsius Albinus Mehan (35) ke kampung halamannya di Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Desember 2026 mendatang kini tinggal kenangan.
Dokter hewan yang mengabdi sebagai aparatur sipil negara (ASN) di Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, itu justru kembali ke rumah orang tuanya dalam keadaan terbujur kaku setelah gugur dalam insiden penembakan saat menjalankan tugas.
drh Alfonsius merupakan salah satu dari tiga ASN dan calon pegawai negeri sipil (CPNS) yang tewas ditembak di Kampung Muliama, Distrik Muliama, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, Rabu (9/9/2026).
Ketiga korban tewas ketika sedang menjalankan tugas bersama rombongan Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya untuk menyalurkan bantuan pangan serta bibit ternak kepada masyarakat.
Baca juga: Prosesi Adat Warnai Pengembangan PLTP Mataloko, PLN Tegaskan Komitmen Hormati Masyarakat Ngada
Peristiwa tragis itu terjadi sekitar pukul 15.00 hingga 15.47 WIT. Dari delapan orang yang berada dalam rombongan, lima orang dilaporkan berhasil selamat, sementara tiga lainnya menjadi korban penembakan.
Ketiga korban yang meninggal dunia masing-masing Aprida Rapi (49), drh. Alfonsius Albinus Mehan (35), dan Willi Mbuik (24).
drh Alfonsius meninggal dunia di lokasi kejadian setelah mengalami luka tembak kritis pada bagian kepala.
drh Alfonsius merupakan putra asli Maumere, Kabupaten Sikka, NTT. Sekitar tahun 2018, ia pergi ke Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, untuk mengabdikan dirinya sebagai dokter hewan pada Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya.
Ia kemudian menjalankan tugasnya sebagai ASN di daerah tersebut.
Pria yang merupakan alumni SMA Swasta Frateran Maumere angkatan ke-4 itu dikenal sebagai bagian dari pelayanan pemerintahan di bidang peternakan dan kesehatan hewan.
drh Alfonsius merupakan anak ketujuh dari delapan bersaudara dari pasangan Maria Sukardiam dan Paulus Robertus.
Kabar kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga di Maumere.
Henderikus Evenitus, kakak sulung Alfonsius, saat ditemui di rumah duka di Wailiti, Kelurahan Wailiti, Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka, Jumat (11/9/2026), mengatakan Alfonsius meninggalkan seorang istri dan anak laki-laki yang masih berusia hampir lima tahun.
"Istrinya orang Batak, anaknya laki-laki usianya baru mau lima tahun, istrinya juga sarjana peternakan," ujar Henderikus.
Kepulangan Alfonsius ke Maumere sebenarnya telah direncanakan bersama keluarganya.
Menurut Henderikus, adiknya itu berencana berlibur ke Maumere bersama istri dan anaknya pada Desember 2026 mendatang.
Namun, rencana tersebut tidak pernah terwujud.
Takdir berkata lain. Alfonsius lebih dahulu kembali ke tanah kelahirannya dalam sebuah perjalanan yang tidak pernah dibayangkan keluarganya.
Ia datang menemui orang tuanya bukan dengan membawa cerita tentang pekerjaannya di Jayawijaya, melainkan dalam keadaan sudah terbujur kaku.
Istri dan anaknya turut mengantarkan jenazah Alfonsius ke rumah orang tuanya di Wailiti, Maumere.
Bagi keluarga, kepulangan yang seharusnya menjadi momen penuh sukacita menjelang akhir tahun itu kini berubah menjadi kepulangan terakhir.
Jenazah drh. Alfonsius Albinus Mehan akan disemayamkan terlebih dahulu di rumah orang tuanya di Wailiti, Kelurahan Wailiti, Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka.
Almarhum dijadwalkan dimakamkan pada Senin (14/9/2026).
Kepergian Alfonsius tidak hanya meninggalkan duka bagi istri, anak, orang tua, dan delapan bersaudara, tetapi juga menjadi kehilangan bagi jajaran pemerintahan Kabupaten Jayawijaya serta masyarakat yang selama ini menerima pengabdiannya sebagai dokter hewan.
Ia pergi menjalankan tugas untuk melayani masyarakat. Ia tidak pernah kembali untuk menjalani rencana liburan bersama istri dan anaknya.
Yang tersisa kini adalah kenangan tentang seorang putra Maumere yang memilih mengabdi jauh dari tanah kelahirannya, hingga akhirnya gugur dalam menjalankan tugas di Jayawijaya. (Bet)