Iran Disebut Siapkan Operasi di Indonesia, Selat Malaka hingga Tanjung Priok Masuk Rencana
Sinta Manilasari September 11, 2026 07:44 PM

TRIBUNSTYLE.COM - Iran disebut tengah menyiapkan operasi maritim rahasia yang jangkauannya menyasar kawasan Asia Timur.

Rencana tersebut bahkan disebut mencakup sejumlah jalur perairan dan pelabuhan strategis di Indonesia.

Iran International mengutip dua sumber yang disebut mengetahui aktivitas Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran.

Menurut sumber tersebut, Unit 4000, Divisi Operasi Khusus dari Organisasi Intelijen IRGC, tengah mengembangkan program baru untuk memperluas operasi ke perairan Asia Timur.

Baca juga: Identitas 3 WNI yang Disebut Direkrut Unit 4000 Iran, Jalani Latihan Operasi Rahasia di Teheran

Wilayah Indonesia disebut menjadi salah satu fokus utama.

Unit 4000 disebut mempertimbangkan serangan terhadap kapal komersial, kapal militer hingga kapal pribadi yang melintasi Selat Malaka dan Selat Bangka.

Tak hanya kapal, sejumlah pelabuhan juga disebut masuk dalam rencana.

Di Indonesia, Pelabuhan Tanjung Priok disebut menjadi salah satu lokasi yang ditargetkan.

Sementara di China, rencana tersebut disebut mencakup Pelabuhan Ningbo-Zhoushan dan Shanghai.

Jika benar dijalankan, rencana tersebut akan menjadi perluasan geografis yang signifikan dari aktivitas maritim Iran.

Selama ini, aktivitas maritim Iran yang berkaitan dengan konflik lebih banyak menjadi perhatian di kawasan Timur Tengah.

Unit 4000 tengah mengembangkan operasi maritim di sejumlah wilayah Asia Timur, termasuk Indonesia dan China.
Unit 4000 tengah mengembangkan operasi maritim di sejumlah wilayah Asia Timur, termasuk Indonesia dan China. (Istimewa/Iran Internasional)

Disebut Diawasi Komandan Unit 4000

Menurut laporan Iran International, operasi tersebut diawasi Brigadir Jenderal Rahman Moghaddam, komandan Unit 4000.

Moghaddam sebelumnya dilaporkan tewas dalam serangan Israel di Teheran pada 3 Maret, pada hari-hari awal perang.

Badan keamanan Israel disebut mengidentifikasinya sebagai salah satu tokoh intelijen senior Iran yang tewas dalam serangan tersebut.

Namun, Iran International kini memperoleh informasi berbeda.

Media tersebut melaporkan Moghaddam ternyata selamat dan masih menjalankan perannya.

Menurut sumber yang dikutip Iran International, Moghaddam kini mengawasi fase baru operasi maritim luar negeri Unit 4000.

Moghaddam diketahui pernah menjabat sebagai wakil koordinator di Organisasi Perlindungan dan Intelijen Kementerian Pertahanan.

Ia disebut mengambil alih Unit 4000 sekitar tiga tahun lalu.

Unit tersebut sebelumnya dikaitkan dengan operasi pembunuhan dan sabotase yang menargetkan lawan-lawan Republik Islam Iran serta kepentingan Israel di luar negeri.

Indonesia Jadi Fokus

Sumber Iran International menyebut sebagian besar aktivitas maritim Unit 4000 di Asia Timur yang direncanakan berpusat di Indonesia.

Selain Selat Malaka dan Selat Bangka, Tanjung Priok disebut masuk dalam daftar lokasi yang menjadi sasaran.

Untuk mendukung rencana tersebut, Unit 4000 disebut merekrut warga non-Iran.

Para calon rekrutan disebut dibawa ke Iran untuk menjalani pelatihan sebelum nantinya ditugaskan dalam operasi di Asia Timur.

Iran International melaporkan perekrutan tersebut dilakukan melalui sejumlah tokoh yang disebut memiliki hubungan dengan komunitas Syiah di Thailand dan Indonesia.

Dari Indonesia, dua nama yang disebut adalah Zahir Yahya dan Abdullah Saqqaf.

Sementara di Thailand, perekrutan disebut melibatkan Seyyed Momen Saketicha yang disebut sebagai tokoh komunitas Syiah di negara tersebut.

Iran International menyebut jaringan perekrutan itu menjadi bagian dari upaya Unit 4000 mendapatkan agen non-Iran untuk menjalankan operasi di luar negeri.

Iran Pernah Bicara Perluasan Konflik

Rencana yang dilaporkan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan terkait jalur pelayaran dan konflik Iran.

Sejak perang dimulai pada 28 Februari, Iran disebut berupaya membatasi pelayaran melalui Selat Hormuz.

Di sisi lain, kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman telah mengganggu lalu lintas maritim di sekitar Bab al-Mandab dan Laut Merah.

Pada Juni, Mohsen Rezaei, yang saat itu merupakan penasihat senior pemimpin tertinggi Iran dan kini menjabat sebagai sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, mengatakan kepada CNN bahwa Teheran dapat memperluas konflik jika perang dan blokade angkatan laut Amerika Serikat terus berlangsung.

“Jika perang berlanjut dan blokade angkatan laut tidak dicabut, kita akan menyeret perang ke Samudra Hindia, Selat Bab al-Mandab, Laut Merah, dan Mediterania,” kata Rezaei.

Pada periode hampir bersamaan, Komandan Pasukan Quds Esmail Qaani mengatakan bahwa "sabuk keamanan" baru dari apa yang disebut front perlawanan Iran akan membentang dari Selat Hormuz hingga Bab al-Mandab dan dari Teluk Persia hingga Laut Merah.

Rencana yang dilaporkan Iran International tersebut menunjukkan kemungkinan perluasan aktivitas maritim Iran hingga jalur pelayaran strategis di Asia Tenggara dan Asia Timur.

Namun, rencana serangan terhadap kapal dan pelabuhan di Indonesia maupun China tersebut masih berdasarkan laporan Iran International yang mengutip sumber-sumber yang mengetahui aktivitas Unit 4000 dan belum merupakan informasi yang telah dikonfirmasi secara independen. (TribunStyle.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.