Citizen Reporter
Mujirin M. Yamin
Tim Pengabdian Unsulbar
TRIBUN-SULBAR.COM, POLMAN - Tim Pengabdian kepada Masyarakat Fakultas Ekonomi Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar), melaksanakan kegiatan pemberdayaan bagi Kelompok Tani Bahagia Bersama di Desa Patampanua, Kecamatan Matakali, Kabupaten Polewali Mandar, pada 18 Agustus 2026.
Kegiatan yang berlangsung di rumah Ketua Kelompok Tani tersebut diikuti sebanyak 25 peserta, terdiri atas seluruh anggota Kelompok Tani Bahagia Bersama, ibu rumah tangga, serta pendamping penyuluh pertanian.
Baca juga: Tim Unsulbar Sosialisasikan Konsep Green Accounting di Desa Kunyi Polman
Baca juga: ESDM Sulbar Ajak Korporasi Bantu Program Listrik Gratis Lewat CSR untuk 36 Ribu Kepala Keluarga
Program pengabdian ini diketuai oleh Mujirin M. Yamin, bersama anggota tim Wahyu Maulid Adha dan Indra Basir, serta melibatkan mahasiswa dari Program Studi Manajemen dan Akuntansi Fakultas Ekonomi Unsulbar.
Fokus kegiatan diarahkan pada penguatan produksi, peningkatan literasi keuangan, serta perluasan akses pasar berkelanjutan bagi kelompok tani.
Kegiatan tersebut mengusung tema “Mewujudkan Kelompok Tani Resilien: Penguatan Produksi, Literasi Keuangan, dan Akses Pasar Berkelanjutan pada Kelompok Tani Bahagia Bersama.” Program ini dirancang untuk memperkuat kemampuan kelompok tani agar mampu bertahan, beradaptasi, dan berkembang di tengah berbagai tekanan usaha tani, seperti fluktuasi harga, keterbatasan modal, perubahan pasar, serta risiko produksi.
Dalam kondisi pertanian saat ini, tantangan petani tidak lagi hanya berkaitan dengan produksi dan harga jual. Musim kemarau, ketidakpastian pola hujan, perubahan kondisi lingkungan, serta keterbatasan ketersediaan air juga dapat memberikan tekanan terhadap proses produksi dan pendapatan rumah tangga petani.
Situasi tersebut membuat konsep kelompok tani resilien semakin relevan. Ketahanan kelompok tani tidak hanya diukur dari kemampuan mempertahankan aktivitas produksi, tetapi juga dari kemampuan menyesuaikan pola usaha, mengelola risiko, menggunakan input secara efisien, mengatur keuangan, serta mencari peluang pasar yang lebih baik.
Ketua Tim Pengabdian, Mujirin M. Yamin, mengatakan bahwa penguatan kelompok tani perlu dilakukan secara menyeluruh karena tantangan pertanian semakin kompleks.
“Petani tidak hanya menghadapi persoalan harga dan pasar, tetapi juga kemarau, ketidakpastian musim, serta risiko produksi. Karena itu, kelompok tani perlu diperkuat agar lebih adaptif, produktif, mandiri, dan mampu menjaga keberlanjutan usahanya,” ujar Mujirin.
Menurutnya, peningkatan kemampuan produksi harus berjalan bersamaan dengan penguatan manajemen usaha dan pemasaran.
Dengan demikian, petani tidak hanya mampu menghasilkan produk pertanian, tetapi juga dapat mengelola biaya, pendapatan, serta keputusan usahanya secara lebih baik.
Dalam pelaksanaannya, peserta memperoleh penguatan pada tiga aspek utama, yakni produksi, manajemen usaha, dan pemasaran.
Pada aspek produksi, kegiatan diarahkan pada peningkatan pemahaman mengenai penggunaan input produksi secara lebih efisien, penerapan praktik budidaya yang lebih terarah, serta penanganan hasil dan pascapanen yang lebih baik.
Penguatan ini diharapkan dapat membantu petani menjaga produktivitas dan mutu hasil sekaligus meningkatkan kemampuan beradaptasi terhadap risiko produksi.
Pada aspek manajemen usaha, tim pengabdian memberikan edukasi mengenai pentingnya pencatatan biaya produksi, hasil penjualan, serta keuntungan usaha tani secara sederhana.
Peserta juga didorong untuk mulai memisahkan keuangan usaha tani dari keuangan rumah tangga agar kondisi riil usaha dapat diketahui dengan lebih jelas.
Literasi keuangan menjadi penting terutama ketika petani menghadapi kondisi produksi yang tidak menentu maupun perubahan harga. Dengan pencatatan yang baik, petani dapat mengetahui besarnya biaya usaha, menghitung hasil yang diperoleh, merencanakan kebutuhan modal, serta mengatur penggunaan pendapatan secara lebih terukur.
Sebagai alat bantu, tim memperkenalkan buku kas tani sederhana yang dapat digunakan untuk mencatat biaya produksi, pengeluaran usaha, hasil penjualan, pemasukan, hingga saldo usaha.
Buku kas tersebut diharapkan dapat membantu petani membangun kebiasaan pengelolaan keuangan yang lebih tertib sekaligus mulai memisahkan keuangan usaha dengan kebutuhan rumah tangga.
Keterlibatan ibu rumah tangga dalam kegiatan juga menjadi bagian penting dari proses pemberdayaan.
Pendapatan hasil pertanian memiliki hubungan langsung dengan kondisi ekonomi keluarga, sehingga pengelolaan keuangan rumah tangga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari ketahanan usaha tani.
Pada aspek pemasaran, peserta memperoleh pemahaman mengenai pentingnya menjaga mutu hasil, memperoleh informasi harga, membangun pemasaran bersama, serta memanfaatkan media komunikasi sederhana untuk memperluas jaringan pasar.
Selama ini, pemasaran hasil pertanian masih cenderung dilakukan secara individual dan tradisional, sementara akses terhadap informasi harga dan jaringan pembeli belum sepenuhnya optimal. Kondisi tersebut dapat memperlemah posisi tawar petani serta membatasi peluang memperoleh nilai tambah dari hasil usaha tani.
Untuk mendukung akses pasar, program ini juga mendorong penggunaan media komunikasi kelompok berbasis WhatsApp sebagai sarana berbagi informasi harga, kebutuhan pasar, jadwal penjualan, serta peluang pemasaran antaranggota kelompok. (*)