Kekeringan Meluas di Tulungagung, 8 Desa Kekurangan Air Bersih hingga Kaki Gunung Wilis
faridmukarrom September 11, 2026 09:50 PM

TRIBUNMATARAMAN.COM, TULUNGAGUNG - Kekeringan semakin meluas di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Sebanyak 8 desa kini mengalami kekurangan air bersih akibat kemarau yang belum berakhir.

Kondisi ini tidak hanya terjadi di wilayah pegunungan selatan yang selama ini menjadi langganan kekeringan. Kekurangan air bersih juga mulai melanda sejumlah desa di kaki Gunung Wilis yang dikenal memiliki banyak sumber mata air.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tulungagung, Sudarmaji, mengatakan terdapat tiga desa yang baru mengalami kekurangan air bersih dan telah meminta bantuan pengiriman air.

Ketiga desa tersebut adalah Desa Mulyosari, Kecamatan Pagerwojo, Desa Picisan, Kecamatan Sendang, serta Desa Sidem, Kecamatan Gondang.

“Tiga desa itu sudah minta kiriman air bersih, sudah dibantu sama Baznas dan BBWS,” ujar Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tulungagung, Sudarmaji, Jumat (11/9/2026).

Baca juga: Cek SPPG, Wali Kota Blitar Mas Ibin Pastikan Semua Berjalan Sesuai SOP dan Aman untuk Masyarakat

Kekeringan di Desa Sidem terjadi di satu dusun yang lokasinya sulit dijangkau kendaraan. Pengiriman air bersih ke wilayah tersebut harus dilakukan dengan cara dilansir karena mobil tangki tidak bisa masuk.

Warga berharap pemerintah dapat memberikan bantuan sumur bor sebagai solusi jangka panjang untuk mengatasi kesulitan air bersih.

“Sumber airnya sudah debitnya sangat kecil, tidak mencukupi untuk kebutuhan,” tambahnya.

Kekurangan Air Bersih Juga Melanda Selatan Tulungagung
Selain tiga desa di wilayah barat laut, kekurangan air bersih juga terjadi di Dusun Tumpuk, Desa Besuki, Kecamatan Besuki, Tulungagung.

BPBD Kabupaten Tulungagung telah mengirimkan bantuan air bersih ke wilayah tersebut. Pengiriman dilakukan secara bergilir dengan desa-desa lain yang lebih dulu terdampak kemarau ekstrem.

Sebelumnya, terdapat lima desa di wilayah pegunungan selatan Tulungagung yang mengalami kekurangan air bersih. Kelima desa tersebut adalah Desa Kresikan dan Pakisrejo di Kecamatan Tanggunggunung, Desa Keboireng di Kecamatan Besuki, Desa Kalidawe di Kecamatan Pucanglaban, serta Desa Sebalor di Kecamatan Bandung.

Wilayah tersebut berada di kawasan pegunungan dengan ketinggian tertentu. Kondisi itu membuat ketersediaan air sangat bergantung pada curah hujan.

“Kalau hujan tidak turun, maka desa-desa itu akan terus membutuhkan bantuan air bersih,” tegas Sudarmaji.

Kekeringan di Mulyosari Berdampak pada Peternakan Sapi Perah
Kepala Desa Mulyosari, Kecamatan Pagerwojo, Agil Wuisan, mengatakan kekurangan air bersih terjadi di 9 RT yang berada di Dusun Sumberingin.

Wilayah tersebut berada di ketinggian sehingga sumber air berada cukup dalam. Seiring kemarau, debit air terus mengalami penurunan.

Namun, menurut Agil, kekurangan air di wilayahnya saat ini lebih banyak berdampak pada kebutuhan peternakan sapi perah.

“Ada sekitar 300 warga yang terdampak. Di sana memang sentra peternakan sapi perah,” ungkapnya.

Peternakan sapi perah membutuhkan pasokan air yang cukup besar. Sementara itu, sumber air dari sumur warga sudah tidak mampu memenuhi seluruh kebutuhan peternakan.

Untuk kebutuhan sehari-hari, warga masih dapat mencukupi kebutuhan air bersih. Meski demikian, Agil khawatir kondisi tersebut akan semakin memburuk apabila hujan tidak kunjung turun.

"Tahun lalu sudah mengalami kekeringan juga. Harapan segera turun hujan agar kondisinya membaik," ucapnya.

Jumlah Desa Terdampak Kekeringan Sempat Menurun
Kekeringan bukan persoalan baru bagi Kabupaten Tulungagung. Pada kemarau tahun 2024, sebanyak 20 desa di 10 kecamatan mengalami kekurangan air bersih.

Sementara itu, pada 2025 terjadi kemarau basah sehingga jumlah desa yang terdampak menurun menjadi 9 desa di 6 kecamatan.

Bantuan sumur bor di sejumlah desa rawan kekeringan turut membantu mengurangi ketergantungan warga terhadap pengiriman air bersih.

Polres Tulungagung, misalnya, membuat 22 sumur bor di desa-desa rawan kekeringan pada 2025.

Bantuan juga datang dari berbagai pihak, termasuk Alumni Unair dan tokoh kepolisian asal Tulungagung, Irjen Gupuh Setiyono.

Dampak bantuan tersebut langsung terasa. Sejumlah desa yang sebelumnya rutin meminta bantuan air bersih berhenti mengajukan permintaan setelah memiliki sumber air alternatif.

Namun, meluasnya kekeringan hingga kaki Gunung Wilis menunjukkan bahwa kebutuhan air bersih di Tulungagung masih menjadi persoalan yang perlu diantisipasi, terutama apabila hujan belum juga turun.

(David Yohanes/Tribunmataraman.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.