Tribunlampung.co.id, Palembang - Detik-detik Bripda Rizki Ardianto, anggota Ditsamapta Polda Sumatera Selatan, terjatuh dari kapal saat menjalankan tugas hingga kini belum diketahui secara pasti.
Baca juga: Antrean Solar Makin Panjang, DPRD Sebut Ekonomi Lampung Mulai Terganggu
Tidak ada saksi mata yang melihat langsung peristiwa tersebut, sementara jaringan komunikasi di kawasan perairan Sungai Mesuji, Lampung, dilaporkan tidak stabil.
Bripda Rizki sebelumnya ditugaskan mengawal kapal LCT milik PT Prime Agri Resources (PAR). Polisi berusia 23 tahun itu kemudian dilaporkan hilang setelah diduga terjatuh dari kapal ketika menjalankan tugas pengawalan.
Kabid Humas Polda Sumsel Kombes Pol Nandang Mu’min Wijaya membenarkan bahwa Bripda Rizki merupakan personel Dit Samapta Polda Sumsel yang mendapat tugas pengamanan kapal tersebut.
"Benar, anggota Dit Samapta Polda Sumsel yang sebelumnya dilaporkan hilang telah ditemukan. Sebelumnya berdasarkan surat tugasnya, korban ditugaskan melaksanakan pengawalan kapal LCT milik PT PAR," kata Nandang.
Upaya pencarian dilakukan sejak korban dilaporkan hilang dengan melibatkan tim gabungan. Personel Polres OKI, Ditpolairud Polda Sumsel, Polsek Sungai Menang, Basarnas, BPBD Kabupaten Mesuji, hingga masyarakat menyisir kawasan perairan yang menjadi lokasi pencarian.
Komandan Pos SAR Tulang Bawang Feriansyah Putra mengatakan, pencarian pada hari kedua dimulai sejak pagi. Sebelum penyisiran, seluruh personel terlebih dahulu melakukan briefing dan koordinasi untuk menentukan strategi pencarian.
"Operasi pencarian hari kedua dimulai sejak pagi hari sebelum akhirnya jasad korban berhasil dievakuasi dan dilarikan ke RS Bhayangkara Sumatera Selatan," kata Feriansyah, Jumat (11/9/2026).
Sekitar pukul 10.00 WIB, tim akhirnya menemukan Bripda Rizki di sekitar tanaman nipah. Lokasi penemuan berada sekitar 4,5 kilometer dari titik awal korban diperkirakan terjatuh dari kapal.
Menurut Feriansyah, jasad korban ditemukan pada koordinat 3°9'39,179" LS dan 105°27'11,343" BT. Kondisi medan perairan yang luas menjadi salah satu tantangan selama proses pencarian.
Lebar Sungai Mesuji di kawasan tersebut mencapai sekitar 70 meter. Kondisi itu membuat penyisiran membutuhkan peralatan khusus, termasuk Aqua Eye dan Underwater Search Device (UWSD), selain perahu karet bermotor dan personel penyelam.
Saat ditemukan, Bripda Rizki masih mengenakan perlengkapan yang dibawanya ketika bertugas. Senjata api V2 Sabhara masih berada dalam pelukannya, sementara tas ransel berwarna hitam dan handphone juga masih melekat pada tubuh korban.
Feriansyah mengatakan, belum adanya saksi mata menjadi salah satu kendala untuk mengetahui secara pasti apa yang terjadi sebelum korban menghilang dari kapal.
"Jaringan komunikasi di area perairan tersebut tidak stabil, tidak ada saksi mata yang melihat langsung detik-detik korban terpeleset atau terjatuh dari atas kapal," ujar Feriansyah.
Setelah ditemukan, jenazah Bripda Rizki dievakuasi dan dibawa ke RS Bhayangkara Moh Hasan Palembang untuk menjalani pemeriksaan forensik. Hingga Jumat sore, proses pemeriksaan terhadap jenazah masih berlangsung.
Dengan ditemukannya korban, operasi pencarian resmi dihentikan. Namun, rangkaian peristiwa sebelum Bripda Rizki menghilang dari kapal masih menyisakan pertanyaan, terutama mengenai bagaimana polisi tersebut bisa terjatuh ke perairan hingga akhirnya ditemukan beberapa kilometer dari lokasi awal.
sumber: TribunSumsel.com