Antrean Solar Makin Panjang, DPRD Sebut Ekonomi Lampung Mulai Terganggu
soni yuntavia September 11, 2026 10:19 PM

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung  – Antrean panjang kendaraan untuk mendapatkan BBM jenis solar di sejumlah SPBU Lampung semakin menjadi sorotan.

Baca juga: DPRD Pertanyakan Sebab Antrean Solar Mengular di Lampung, Padahal Kuota Bertambah

Berjam-jam mengantre, bahkan ada kendaraan bermuatan yang rela menginap di SPBU, dinilai mulai mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat.

Anggota Komisi IV DPRD Provinsi Lampung, Budi Hadi Yunanto, mengatakan kelangkaan pasokan solar berdampak langsung pada masyarakat yang menggantungkan aktivitas usahanya pada BBM tersebut.

Petani, pelaku UMKM, pedagang hingga perusahaan besar disebut ikut terdampak karena waktu dan aktivitas operasional mereka tersita untuk mendapatkan solar.

“Dengan adanya pasokan solar yang terbatas dan harus mengantre, aktivitas ekonomi menjadi terhambat dan perputarannya tidak bisa berjalan cepat,” ujar Budi, Jumat (11/9/2026).

Budi meminta Pertamina dan pemerintah daerah segera duduk bersama mencari solusi.

Menurutnya, persoalan ini tidak boleh berlarut karena bisa semakin menekan perputaran ekonomi masyarakat.

Nelayan Juga Terpukul

Tak hanya antrean di SPBU, persoalan solar juga dirasakan para nelayan.

Budi mengungkapkan, ada kelompok nelayan yang hanya mendapatkan sekitar sepertiga dari kebutuhan solar harian. Akibatnya, sebagian nelayan bahkan terpaksa tidak melaut.

“Kalau kebutuhan solar nelayan hanya terpenuhi sekitar sepertiga, tentu ini sangat mengganggu. Bahkan ada nelayan yang akhirnya tidak bisa melaut,” katanya.

Ia pun mendorong pemerintah menambah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) di wilayah yang membutuhkan.

Salah satu yang menjadi perhatian adalah Lampung Tengah, khususnya Bandar Surabaya dan Cempaka.

Budi menyebut jumlah nelayan di wilayah tersebut cukup banyak, tetapi mereka harus menempuh jarak hampir 30 kilometer untuk mendapatkan solar.

Namun, penambahan SPBN menurutnya harus dibarengi dengan kepastian pasokan.

“Jangan sampai SPBN bertambah, tetapi pasokan BBM yang tersedia tetap tidak mampu memenuhi kebutuhan nelayan,” tegasnya.

Budi berharap distribusi solar tidak hanya dihitung berdasarkan kebutuhan harian.

Cadangan pasokan juga dinilai penting, sehingga masyarakat tidak kembali kelimpungan ketika terjadi keterbatasan BBM.

“Kalau bisa, pasokannya juga dilebihkan sehingga ada cadangan.

Jangan sampai kebutuhan masyarakat justru tidak terpenuhi karena pasokan yang terbatas,” pungkasnya.

( Tribunlampung.co.id / Riyo Pratama )

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.