BANJARMASINPOST.CO.ID - Gadis ini memiliki pengalaman dalam penulisan ilmiah, studi literatur, kepemimpinan, administrasi, public speaking, teamwork, dan problem solving.
Berbagai kemampuan itu salah satu modalnya adalah suka membaca.
Bagi Fauziah, buku menjadi salah satu cara untuk terus berkembang.
Dan tidak semua hal dipelajari dari ruang kelas, jadi perlu membaca untuk memberikan kesempatan belajar dari pengalaman, pemikiran dan perjalanan orang lain.
Finalis Indonesian Student Geological Competition (ISGC) 2026 ini menyukai berbagai jenis bacaan, terutama buku pengembangan diri, motivasi, perjalanan hidup, psikologi populer, serta buku yang dapat memberikan perspektif baru mengenai kehidupan.
"Selain itu, saya juga cukup sering membaca literatur akademik dan berbagai referensi yang berkaitan dengan geologi, penelitian, serta topik yang sedang saya pelajari," ujar gadis asal Tabalong, Kalsel, yang berkuliah di Teknik Geologi, Universitas Pertamina, Jakarta ini.
Baca juga: Pelaku Tabrak Lari di Jalan S Parman Banjarmasin Bawa Sabu dan Inex, Ternyata Jadi Target Polisi
Baca juga: Daftar Kawasan Terdampak Penghentian Suplay Leding di Banjarbaru, 24 Jam Tak Mengalir
Salah satu buku yang menarik perhatiannya adalah The Obstacle Is the Way karya Ryan Holiday. Buku ini membahas bagaimana hambatan yang kita hadapi tidak selalu harus dipandang sebagai sesuatu yang menghentikan perjalanan.
"Justru, sebuah kesulitan dapat menjadi kesempatan untuk belajar, beradaptasi, dan menemukan cara baru untuk bergerak maju," kata gadis kelahiran Tabalong, 21 April 2008 ini.
Lanjutnya, tertarik dengan buku ini karena gagasan utamanya sangat dekat dengan kehidupan dirimya sebagai mahasiswa. Dalam perjalanan pendidikan dan pengembangan diri, ia menemukan bahwa tidak semua proses berjalan sesuai dengan rencana.
"Ada tugas yang sulit, kegagalan dalam suatu proses, persaingan, keterbatasan waktu, maupun keadaan yang terkadang berada di luar kendali," ungkap Semifinalis Geoscience Student Competition (GSC) ITB 2026 ini.
Fauziah yang juga Semifinalis National Essay Competition Universitas Brawijaya 2026, melanjutkan, bahwa buku ini membuatnya melihat hambatan dari sudut pandang yang berbeda.
Sebuah masalah tidak selalu harus menjadi alasan untuk berhenti. Masalah dapat menjadi bagian dari proses yang mengajarkan kita untuk berpikir, beradaptasi, dan mencari jalan keluar.
Hal tersebut cukup relevan dengan pengalamannya mengikuti berbagai kompetisi. Ia pernah terlibat dalam kompetisi esai, studi kasus, dan paper berbasis geologi.
Dalam proses tersebut, tentu terdapat tantangan dalam membagi waktu, mencari referensi, menyusun gagasan, bekerja dalam tim, dan menyelesaikan tulisan dalam batas waktu tertentu.
Namun, pengalaman tersebut justru membantunya berkembang dan menjadi lebih terbiasa menghadapi tekanan akademik.
"Bagi saya, pesan terpenting dari buku ini adalah kita mungkin tidak selalu dapat mengendalikan apa yang terjadi, tetapi kita dapat menentukan bagaimana kita meresponsnya," terang
Fauziah belajar bahwa kegagalan tidak selalu berarti akhir dari sebuah perjalanan.
Terkadang, kegagalan memberikan informasi tentang apa yang perlu diperbaiki. Kesulitan dapat melatih kemampuan kita untuk berpikir lebih matang. Hambatan dapat membuat kita menemukan kemampuan yang sebelumnya tidak kita sadari.
"Hal ini juga mengubah cara saya memandang proses. Saya tidak ingin hanya mengejar hasil akhir, tetapi juga menghargai proses yang membuat saya menjadi lebih mampu," tukasnya.
Baginya, jalan menuju tujuan tidak selalu harus bebas dari hambatan. Justru, bagaimana kita melewati hambatan itulah yang membentuk diri kita.
Baca juga: Nasib Enam Anak Sekolah Pasca Rumah di Sungai Jaranih HST Kalsel Terbakar, Jenjang SD Sampai SMA
Dari membaca banyak buku itulah, Fauziah kemudian punya motto; Jangan menunggu keadaan menjadi mudah, tetapi belajar menjadi lebih kuat dalam menghadapi setiap keadaan.
Mengenai awal tertarik membaca, Fauziah memulai sejak sekolah, meskipun pada awalnya membaca baginya hanya sebagai kegiatan untuk menambah pengetahuan.
Seiring bertambahnya usia, ia mulai menyadari bahwa membaca bukan hanya tentang mengetahui lebih banyak hal, tetapi juga tentang memahami berbagai sudut pandang dan pengalaman hidup.
"Ketika memasuki dunia perkuliahan, ketertarikan saya terhadap membaca semakin berkembang. Sebagai mahasiswa Teknik Geologi, saya terbiasa membaca berbagai literatur untuk memahami materi, mengerjakan studi kasus, menyusun tulisan ilmiah, dan mengembangkan gagasan dalam kompetisi," ujarnya.
Pengalaman mengikuti berbagai kompetisi juga membuatnya semakin memahami bahwa kemampuan mencari, membaca, dan mengolah informasi merupakan bagian penting dalam proses belajar.
Ia biasanya membaca ketika memiliki waktu luang, terutama ketika pekerjaan kuliah dan kegiatan organisasi sudah mulai lebih tenang.
Membaca juga menjadi salah satu kegiatan yang ia lakukan ketika ingin mengurangi waktu menggunakan gawai dan memberikan waktu kepada diri sendiri untuk berpikir dengan lebih tenang.
Baginya, tidak ada durasi yang benar-benar tetap karena aktivitas perkuliahan, organisasi, dan berbagai kegiatan lainnya cukup dinamis. Namun, ia berusaha menyempatkan diri membaca meskipun hanya beberapa halaman dalam satu waktu.
Menurut Fauziah, konsistensi lebih penting daripada memaksakan diri membaca dalam waktu yang sangat lama.
Sedikit tetapi dilakukan secara rutin tetap dapat memberikan perkembangan dibandingkan membaca banyak tetapi hanya dilakukan sesekali.
Baginya, membaca memberikan manfaat yang lebih besar daripada sekadar mendapatkan informasi. Membaca membantunya memahami suatu persoalan dari berbagai sudut pandang, meningkatkan kemampuan berpikir kritis, memperkaya kosakata, serta membantu menyusun gagasan dengan lebih terstruktur.
Dalam perjalanan sebagai mahasiswa, kemampuan tersebut sangat membantu ketika harus melakukan studi literatur, menyusun karya ilmiah, mengikuti kompetisi, maupun bekerja dalam sebuah tim. Pengalaman dalam beberapa kompetisi akademik juga membuatnya semakin menyadari pentingnya kemampuan membaca dan mengolah informasi.
Fauziah juga tidak memiliki waktu khusus untuk membeli buku. Biasanya membeli buku ketika menemukan judul yang benar-benar menarik perhatian dan merasa bahwa isi buku tersebut dapat memberikan manfaat.
Ia juga cenderung mempertimbangkan isi dan relevansi buku terlebih dahulu sebelum membelinya. Baginya, membeli buku bukan hanya tentang menambah koleksi, tetapi juga tentang memilih sesuatu yang benar-benar ingin ia baca dan pelajari.
Fauziah membeli buku secara online maupun offline. Namun, jika memiliki kesempatan, ia lebih menikmati membeli buku secara langsung di toko buku karena dapat melihat sampul, membaca bagian awal, dan mengetahui gambaran isi buku sebelum memutuskan untuk membelinya.
Tidak ada jumlah pasti dalam membeli buku. Ia lebih mengutamakan kualitas dan ketertarikan terhadap isi buku daripada menentukan target jumlah buku yang harus dibeli.
Adapun koleksi bacaan lebih banyak berkaitan pengembangan diri, motivasi, novel, psikologi populer, serta buku-buku akademik dan pembelajaran. Ia juga memiliki berbagai bahan bacaan yang mendukung proses belajar dan pengembangan kemampuan sebagai mahasiswa.
Supaya betah membaca, menurut Fauziah, pilih buku yang benar-benar sesuai dengan ketertarikan. Jangan memaksakan diri membaca buku yang tidak sesuai dengan minat karena dapat membuat membaca terasa seperti kewajiban.
Mulai dari target kecil. Tidak harus langsung membaca puluhan halaman. Beberapa halaman setiap hari sudah cukup untuk membangun kebiasaan.
"Pilih waktu yang paling nyaman. Saya lebih menyukai membaca ketika suasana sedang tenang dan tidak terlalu banyak aktivitas yang harus dilakukan," ujarnya.
Kurangi gangguan saat membaca. Salah satunya dengan menjauhkan ponsel atau mematikan notifikasi agar perhatian tidak mudah teralihkan.
Tidak perlu memaksakan diri menyelesaikan buku yang tidak cocok. Jika setelah beberapa bagian ternyata bukunya tidak sesuai dengan minat, kita dapat mencari bacaan lain yang lebih menarik.
"Bawa buku ketika memiliki waktu luang. Dengan begitu, waktu menunggu atau perjalanan dapat dimanfaatkan untuk membaca," pesan Fauziah.
Catat bagian yang menurut kita penting. Dengan mencatat gagasan yang menarik, isi buku akan lebih mudah diingat dan dapat direnungkan kembali.
Jadikan membaca sebagai proses belajar, bukan perlombaan. Tidak perlu membandingkan jumlah buku yang dibaca dengan orang lain. Yang lebih penting adalah apa yang kita dapatkan setelah membaca.
"Bagi saya, membaca bukan sekadar membuka halaman demi halaman. Membaca adalah salah satu cara untuk mengenal dunia, memahami orang lain, dan pada akhirnya memahami diri sendiri," pungkasnya. (banjarmasinpost.co.id/salmah saurin)