Jakarta (ANTARA) - Sekolah Staf dan Pimpinan Tinggi (Sespimti) Polri memperkuat edukasi deteksi dini kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Samboja Barat, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.
Ketua Senat Serdik Sespimti Polri Angkatan 36 Kombes Pol. Dony Alexander dalam keterangan diterima di Jakarta, Jumat, mengatakan bahwa karhutla masih menjadi tantangan serius di berbagai wilayah, termasuk Kalimantan Timur.
Menurutnya, setiap memasuki musim kemarau, ancaman karhutla selalu meningkat pada wilayah yang memiliki kawasan hutan, perkebunan, dan lahan gambut luas, seperti kondisi di Kecamatan Samboja Barat.
Dampak dari karhutla pun tidak dapat dipandang ringan. Selain merusak ekosistem hutan dan menurunkan kualitas lingkungan, karhutla juga menimbulkan kabut asap berdampak pada kesehatan masyarakat.
“Kemudian mengganggu aktivitas pendidikan dan perekonomian, serta dapat menimbulkan kerugian material maupun imaterial yang tidak sedikit,” imbuhnya.
Maka dari itu, Satgas Edukasi Karhutla Sespimti Polri Angkatan 36 turun langsung di tengah masyarakat Kecamatan Samboja Barat untuk mengedukasi cara-cara mendeteksi dini karhutla.
“Guna membangun kesadaran kolektif dan memperkuat kesiapsiagaan dalam menghadapi ancaman karhutla, melalui pendekatan edukasi, dialog, dan kolaborasi lintas sektor,” katanya.
Selain memberikan edukasi, Dony mengatakan bahwa pihaknya juga melakukan langkah-langkah kesiapsiagaan untuk mengantisipasi karhutla di masa mendatang.
Langkah pertama adalah mengidentifikasi secara mendalam wilayah-wilayah yang menjadi titik rawan kebakaran hutan dan lahan di Kecamatan Samboja Barat.
“Sehingga langkah antisipasi dapat dilakukan secara lebih terarah dan tepat sasaran,” ujarnya.
Kedua, merumuskan langkah-langkah strategis dan operasional dalam pencegahan karhutla, termasuk penguatan sistem deteksi dini, patroli terpadu, serta edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya membuka lahan dengan cara membakar.
Ketiga, memperkuat koordinasi dan komunikasi antarlembaga dan antarpihak agar apabila terjadi kebakaran, respons penanganan dapat dilakukan secara cepat, terkoordinasi, dan efektif.
Terakhir, menghimpun masukan, aspirasi, dan rekomendasi dari seluruh peserta sebagai bahan penyusunan program edukasi dan rencana aksi pencegahan karhutla di wilayah Kecamatan Samboja Barat ke depan.





