- Masalah kabut asap yang masuk ke negara tetangga akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukanlah hal baru.
Pada era pemerintahan sebelumnya, Malaysia dan Singapura juga turut terdampak.
Namun, belakangan publik menyoroti respons Presiden RI dalam menyikapi permasalahan tersebut.
Hingga saat ini, Presiden Prabowo Subianto belum menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada Malaysia terkait masalah kabut asap.
Pejabat pemerintah yang menyampaikan permintaan maaf adalah Wakil Presiden Gibran Rakabuming.
Namun, permintaan maaf tersebut ditujukan kepada warga Banjarbaru, Kalimantan Selatan.
Sementara itu, Prabowo sendiri memilih menginstruksikan penindakan hukum secara tegas terhadap perorangan maupun korporasi yang membakar lahan.
Pemerintah juga mengerahkan tambahan personel TNI dan armada pemadam untuk mengatasi titik-titik api.
Sejumlah unggahan di media sosial membandingkan respons Prabowo tersebut dengan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono.
Pada Juni 2013, ia secara terbuka menyampaikan permohonan maaf kepada Malaysia dan Singapura terkait kabut asap.
SBY menegaskan bahwa Indonesia tidak memiliki niat buruk dan akan bertanggung jawab penuh untuk mengatasi kebakaran tersebut.
Kemudian, pada era Presiden ke-7 RI Joko Widodo, kabut asap kembali masuk ke wilayah Malaysia dan Singapura.
Ia tidak secara terbuka meminta maaf atas masalah tersebut.
Namun, Jokowi menyampaikan rasa penyesalan atas dampak kabut asap yang sampai ke Malaysia.
Hal tersebut dikonfirmasi oleh Perdana Menteri Malaysia Najib Razak saat berkunjung ke Istana Bogor pada Oktober 2015.