Harga Minyak Dunia Melambung Lagi, Harga BBM Subsidi Dipastikan Tak Berubah
Vito September 12, 2026 12:14 AM

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Pemerintah memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi tidak akan mengalami kenaikan, meski harga minyak mentah dunia melonjak hingga menembus level 108 dolar AS per barel. 

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia mengatakan, keputusan menahan harga itu diambil guna menjaga daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah di tengah ketidakpastian geopolitik dan gejolak pasar energi global. 

"Pemerintah sampai dengan hari ini memutuskan untuk tetap menjaga harga minyak subsidi tidak ada kenaikan," katanya, saat ditemui di Gedung Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (11/9). 

Menurut dia, pihaknya terus berkoordinasi secara intensif dengan Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa atas arahan langsung Presiden Prabowo Subianto untuk memantau pergerakan harga komoditas global. 

Meski demikian, langkah mempertahankan harga BBM subsidi diakui merupakan beban yang cukup berat bagi postur anggaran negara akibat potensi pembengkakan belanja subsidi energi. 

Bahlil menekankan, opsi pelebaran alokasi anggaran subsidi tetap diambil sebagai langkah taktis pemerintah demi menjaga stabilitas ekonomi masyarakat. 

"Memang ini adalah sesuatu yang tidak ringan, ini sesuatu yang berat. Kenapa? Karena pasti (anggaran) subsidinya nambah. Tetapi Bapak Presiden Prabowo berpandangan bahwa membela dan menjaga daya beli masyarakat untuk menengah ke bawah itu jauh lebih penting," bebernya. 

Ia menuturkan, tekanan terhadap APBN masih relatif terkendali, lantaran rata-rata harga patokan minyak Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) secara akumulatif sejak awal tahun masih berada di kisaran aman. 

Secara keseluruhan, realisasi rata-rata ICP periode Januari hingga September 2026 masih mencatatkan angka di kisaran 85-90 dolar AS per barel, sehingga dampaknya dinilai masih terukur.

Adapun, Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan, anggaran pemerintah masih cukup untuk mempertahankan harga BBM subsidi, seperti yang telah diperhitungkan sebelumnya. 

"Anggarannya masih cukup seperti yang kami hitung sebelumnya. Tapi kami waspadai terus perkembangannya. Jangan sampai naik lebih tinggi lagi," katanya, Kamis (10/9). 

Belum tambah anggaran

Ia pun menyebut pemerintah belum perlu menambah alokasi anggaran subsidi BBM sebagai dampak lonjakan harga minyak dunia. 

"Enggak, kan kita sekarang dengan asumsi pada waktu itu kan defisit 2,85 persen PDB (produk domestik bruto), itu asumsi sekitar 100 dolar AS per barel walaupun diturunkan sedikit," jelasnya. 

Dia menambahkan, asumsi harga minyak dunia yang digunakan dalam APBN saat ini masih sekitar 90 dolar AS per barel. Dengan demikian, masih terdapat ruang dalam anggaran pemerintah. 

"Kan rata-rata sekarang masih dibuat 90 dolar AS kalau nggak salah harga minyak dunianya, yang kita bayar ya untuk asumsi APBN itu. Jadi masih ada ruang," tuturnya. 

Purbaya berharap harga minyak dunia tidak kembali mengalami kenaikan lebih tinggi. Namun, jika harga minyak bertahan di level saat ini, pemerintah dinilai masih mampu mengelola anggaran agar tetap berkesinambungan. 

"Mudah-mudahan kita (BBM-Red) enggak naik, harga minyak dunia enggak naik lebih tinggi lagi. Tapi seandainya naik ke level yang sekarang, (atau) bertahan di sini pun, kita kan sudah pernah mengalami, jadi kita akan atur anggaran kita tetap berkesinambungan dengan defisit tetap ditekan di bawah 3 persen," paparnya. 

Ia juga memastikan kondisi defisit APBN masih terkendali. Hingga Juli 2026, defisit tercatat sebesar 0,91 persen terhadap PDB, sementara hingga Agustus diperkirakan sekitar 0,95 persen.

"Sekarang defisitnya baru 0,91 persen pada Juli, Agustus 0,95 persen, tidak naik banyak," terangnya. 

Purbaya mengungkap, dampak kenaikan harga minyak terhadap daya beli masyarakat dapat diredam melalui APBN.

Menurutnya, masyarakat pengguna BBM bersubsidi seperti Pertalite masih mendapatkan subsidi yang anggarannya telah disediakan sejak awal tahun.

"Kalau di-absorb di APBN kan enggak kan. Sebagian mungkin yang pertama kita akan terkena, tapi kan masyarakat umum yang pakai Pertalite kan masih disubsidi. Dana kan sudah disediakan dari awal tahun itu. Sebagian dana awal kan disisihkan ke situ," tukasnya. (Kontan/Arif Ferdianto/Nurtiandriyani Simamora)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.