SURYA.CO.ID, PONOROGO - Kemarau ekstrem yang memicu ancaman fenomena El Nino rupanya tak membuat sektor pertanian di Kabupaten Ponorogo tumbang.
Di tengah susutnya pasokan air permukaan, para petani di Bumi Reog justru mampu menjaga produktivitas lahan secara maksimal.
Infrastruktur irigasi perpompaan, puluhan ribu sumur submersible, hingga siasat beralih ke tanaman tahan kering menjadi kunci sukses ketahanan pangan lokal.
Baca juga: Langit Jatim Diguyur 3,2 Ton Garam Modifikasi Cuaca, Hujan Akhirnya Basahi Wilayah Kekeringan
Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (Dipertahankan) Kabupaten Ponorogo mengonfirmasi belum ada laporan kerusakan lahan.
“Jadi untuk yang di pertanian, khususnya di Kabupaten Ponorogo, berkaitan dengan kekeringan ini belum ada laporan gagal panen dari teman-teman lapangan ya, dari UPT maupun teman-teman penyuluh,” ungkap Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura Dipertahankan Ponorogo, Tri Budi Widodo, Jumat (11/9/2026).
“Ini belum ada yang melaporkan dampak kekeringan El Nino ini terkait dengan yang terjadi untuk kekeringan pada tanaman padi maupun jagung,” lanjutnya.
Keberhasilan itu merupakan buah dari langkah antisipasi dini yang disiapkan pemerintah daerah bersama para petani lokal.
“Beberapa kegiatan dari pusat maupun dari provinsi ini ada antisipasi yaitu berupa ada irigasi perpompaan, jaringan irigasi, maupun sumur dalam yang dibangun,” jelasnya.
Meski debit air Waduk Bendo di Kecamatan Sawoo menyusut, pasokan alternatif telah disiagakan dengan matang.
“Petani ada yang sudah mandiri dengan submersible ataupun dengan beberapa bantuan dari pemerintah daerah,” klaim Budi.
Baca juga: Sudah 903 KK Minta Pembaruan Data Status Kesejahteraan di Ponorogo, Berharap Desil Berubah
Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura Dipertahankan Ponorogo, Tri Budi Widodo menyatakan, pihaknya telah mengantongi peta kawasan rawan krisis air yang terkonsentrasi di wilayah pinggiran hutan.
“Daerah yang rawan kekeringan dan berdampak langsung adalah di Kecamatan Jenangan, Bungkal, Ngrayun, Sawoo, Slahung, Balong maupun Jambon,” paparnya.
Siasat cerdik diterapkan para petani di zona rawan dengan beralih membudidayakan komoditas jagung.
Secara mengejutkan, Budi membeberkan bahwa fenomena kemarau ekstrem justru mendongkrak kualitas hasil panen.
“Bagus karena penyinarannya juga bagus, kalau airnya juga cukup, ini justru akan meningkatkan produksi padi, jagung juga sama,” tambahnya saat ditemui di Kantor Dipertahankan, Jalan Urip Sumoharjo.
Luas lahan baku sawah Ponorogo sekitar 35 ribu hektar mampu mencatatkan akumulasi luas panen hingga 87 ribu hektar dalam setahun.
Rata-rata produktivitas jagung yang biasanya 6,5 hingga 7 ton per hektar bahkan berpotensi melonjak saat kemarau.
“Terus pengairannya bagus, pemupukan bagus, otomatis ini juga akan meningkatkan produksi, jadi kualitas beratnya per bulir ini juga akan meningkat,” jabarnya.
Baca juga: Kemarau Panjang Hantam Madiun, 72 Titik Rawan Kekeringan Jadi Sorotan Utama
Permasalahan krisis air yang sempat melanda Desa Jenangan beberapa tahun lalu akibat kerusakan dam kini telah teratasi sepenuhnya.
“Tapi dia tidak banyak, paling sekitar ada 2 hektar, 3 hektar,” tegas Budi.
Kehadiran program listrik masuk sawah dan bantuan sumur dalam menjadi penyelamat utama sektor pertanian setempat.
“Total ada 25 ribu sumur dalam maupun sumur dangkal,” tegasnya.
Pemanfaatan sumur submersible bahkan sudah mencapai hampir 100 persen di wilayah Babadan dan Sukorejo untuk menutupi keterbatasan irigasi teknis.
“Jadi kan sangat kurang, jadi kan terbantu,” terangnya.
Aktivitas panen di Ponorogo pun dipastikan terus bergulir sepanjang tahun tanpa mengenal musim.
“Agustus September yang mulai panen ini adalah di wilayah Babadan, Jenangan, Sukorejo, Badegan, Babadan, kalau nanti setelah ini kan bergeser lagi ke wilayah Jetis,” pungkasnya.