Muhadjir Effendy Ajak Masyarakat Miliki Penguasaan Taktis Terhadap Kebencanaan
Glery Lazuardi September 12, 2026 01:38 AM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Penasihat Khusus Presiden Prabowo Subianto dan mantan Menko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Prof DR Muhadjir Effendy mengajak masyarakat memiliki penguasaan taktis dalam menangani insiden kebencanaan di Indonesia.

Hal ini sangat penting mengingat bencana alam kerap terjadi di Tanah Air dan Indonesia memiliki 127 gunung berapi yang bisa erupsi sewaktu-waktu seperti terjadi pada Gunung Semeru di Jawa Timur, Gunung Ili Lewotolok di Lembata Nusa Tenggara Timur dan terbaru, Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda.

"Penguasaan taktis di lapangan itu harus dimiliki, soal penguasaan teorinya belakangan saja. Kita banyak melakukan penanganan bencana, solusi selalu didapatkan dari penguasaan di lapangan," ungkap Prof Muhadjir Effendy saat menjadi pembicara di acara diskusi membahas penanganan kebencanaan bertajuk Tansformation Learning, Human Development for Resilience: Education, Social Movement and Shared Responsibility di pameran Asia Disaster Management & Civil Protection Expo & Conference (ADEXCO) di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Jumat, 11 September 2026.

Baca juga: Mendikdasmen Ungkap 3 Prioritas Revitalisasi Sekolah, Minta Penggunaan Anggaran Diawasi

Muhadjir mencontohkan pengalaman saat menangani pandemi Covid.  "Saat Covid kita disebut kekurangan oksigen. Tapi di lapangan persoalannya ternyata lebih dari itu, misalnya saya menemukan ada tarik-menarik antara rumah sakit dengan perusahaan pemilik oksigen."

"Misalnya kasus kematian (pasien Covid akibat tak ada oksigen tersedia), bukan karena tidak ada oksigen di rumah sakit tapi karena vendor yang lama tidak bisa lagi memasok oksigen ke rumah sakit tersebut karena kalah saat proses bidding," bebernya.

Muhadjir mengajak seluruh elemen masyarakat Indonesia memahami bahwa mereka tinggal di negara yang kerap dilanda bencana. "Ini untuk memunculkan sikap positif di masyarakat dalam menanggapi bencana," sebutnya.

"Penduduk yang tinggal di daerah-daerah yang berada di sekitar gunung berapi yang jadi langganan bencana jumlahnya mencapai 40 juta orang. Mereka harus mendapatkan sosialisasi dan diberi penyadaran penuh bahwa mereka tinggal di daerah bencana yang harus selalu siap kapan saja," kata Muhadjir Effendy.

Dorong Revisi Kurikulum Sekolah Agar Lebih Melokal

Agar pemahaman terhadap kebencanaan ini menyeluruh dan terinternalisasi di jiwa masyarakat, Muhadjir yang juga akademisi, guru besar dan mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan periode 2016–2019 ini mendorong agar Kementerian Dasar dan Menengah RI merevisi kurikulum ajar di sekolah dasar dan sekolah menengah.

Untuk anak didik yang tinggi di wilayah rawan bencana erupsi gunung berapi, diberikan kurikulum tentang apa dan bagaimana mengantisipasi ketika terjadi erupsi. Langkah mitigasi sederhana apa yang perlu dilakukan bersama keluarganya.

"Misal di sektor pendidikan, anak-anak harus mendapatkan kurikulum bahwa mereka tinggal di wilayah bencana," kata Prof Muhadjir. Strategi ini diyakini akan mendorong sikap positif masyarakat sejak remaja terhadap kebencanaan alam.

Prof Muhadjir menilai positif penyelenggaraan ADEXCO untuk mengajak semua elemen masyarakat tanggap terhadap bencana. "Saya mengapresiasi penyelenggaraan ADEXCO ini nbaik dari perspektif masyarakat, penyelenggara penanggulangan bencana yakni BNPB. Kegiatan ini bagus untuk dilaksanakan secara berkelanjutan," ungkapnya.

"Kegiatan ini kan sebenarnya tindak lanjut dari pertemuan internasional di Bali yang merupakan pertemuan internasional pertama setelah Covid yang dihadiri tamu-tamu dari luar negeri dan menjadi kesempatan Indonesia menyatakan telah bebas pandemi Covid sebelum UNESCO menyatakannya," kata Prof Muhadjir Effendy.

"Ini harus kita syukuri kalau nanti bisa berlanjut karena Indonesia ini negara yang menjadi pelanggan bencana, ini harus dimaintain agar endurasi tanggap bencana itu selalu terjaga," imbuhnya.

Baca juga: BGN Coret 1.653 Sekolah dari Penerima MBG, Wakil Ketua Komisi IX Usul Sekolah Negeri Tetap Dapat

Dr. Raditya Jati, S.Si., M.Si., Deputi Bidang Sistem dan Strategi (Deputi 1) di Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menilai, penyelenggaraan ADEXCO merupakan bentuk kolaborasi antara sektor swasta bersama pemerintah dan CSO.

Siapapun yang bergerak dalam penanggulangan bencana, memperkuat dunia usaha dengan industrialisasi kebencanaan.

Industrialisasi kebencanaan ini adalah bagaimana desain teknologi bisa diarahkan ke hilirisasi untuk digunakan dalam penanganan saat pra dan saat kejadian bencana.

"Kita contohkan, bantuan harus ada saat bencana terjadi. butuh tenda cepat, butuh bangku. Juga teknologi early warning system, detector dan sebagainya. Semua ini dikerjakan oleh industri. Kita dorong sains dan kemandirian teknologi itu menjadi industri agar kita tidak tergantung pada teknologi asing," kata Radityo.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.