Aji Batara Agung Dewa Sakti, Raja Kesultanan Kutai Pertama, Tokoh di Balik Lahirnya Tradisi Erau
Briandena Silvania Sestiani September 12, 2026 06:09 PM

TRIBUNKALTIM.CO - Festival Adat Erau Kutai kembali akan digelar di Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Sebelum rangkaian utama dimulai, sejumlah prosesi adat telah disiapkan sejak pertengahan September 2026, mulai dari ziarah makam para sultan hingga berbagai ritual yang berkaitan dengan tradisi Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.

Di balik panjangnya rangkaian tersebut, terdapat sejarah yang tidak terpisahkan dari sosok Aji Batara Agung Dewa Sakti, tokoh yang dalam hikayat Kutai dikenal sebagai raja pertama Kesultanan Kutai Kartanegara sekaligus sosok yang erat dikaitkan dengan awal mula tradisi Erau.

Kisah mengenai Aji Batara Agung Dewa Sakti memang bersumber dari hikayat dan cerita rakyat yang di dalamnya terdapat unsur legenda.

Namun, dalam rangkaian kisah tersebut tetap terdapat nilai-nilai sejarah dan tradisi yang kemudian diwariskan masyarakat Kutai dari generasi ke generasi.

Karena itu, untuk memahami mengapa Erau masih diselenggarakan hingga sekarang, riwayat Aji Batara Agung Dewa Sakti dan cerita mengenai awal pelaksanaan Erau menjadi bagian penting untuk diketahui.

• Rangkaian Pra-Erau 2026, Besok Ziarah Makam Para Sultan

Siapa Aji Batara Agung Dewa Sakti?

Dikutip dari https://erau-kartanegara.id/, Aji Batara Agung Dewa Sakti atau dalam sejumlah penulisan disebut Adji Batara Agung Dewa Sakti, dikenal dalam hikayat Kutai sebagai tokoh penting dalam sejarah awal Kesultanan Kutai Kartanegara.

Dalam cerita rakyat yang berkembang, Aji Batara Agung dikisahkan memiliki latar belakang yang berkaitan dengan dunia para dewa. Ketika masih bayi, ia disebut dititipkan oleh para dewa kepada pasangan suami istri yang merupakan petinggi Jaitan Layar.

Jaitan Layar dalam kisah tersebut menjadi bagian dari latar kehidupan awal Aji Batara Agung. Cerita mengenai dirinya kemudian berkembang dalam berbagai hikayat dan naskah tradisional yang membahas sejarah Kutai.

Karena adanya kisah bahwa dirinya dititipkan oleh para dewa sejak bayi, sebagian masyarakat kemudian meyakini Aji Batara Agung sebagai sosok yang memiliki hubungan khusus dengan dunia kedewataan.

Kisah tersebut tentu berada dalam ranah hikayat dan cerita tradisional. Hikayat sendiri merupakan karya atau kisah lama yang diwariskan dan mengandung cerita sejarah, keteladanan, legenda maupun unsur kepercayaan masyarakat.

Dari kisah inilah kemudian perjalanan Aji Batara Agung dikaitkan dengan lahirnya tradisi Erau.

Erau Disebut Sudah Digelar Sejak Aji Batara Agung Masih Kecil

Menurut hikayat dan naskah yang membahas Aji Batara Agung, pelaksanaan Erau sudah berlangsung ketika ia masih kecil.

Dikisahkan, ketika Aji Batara Agung berusia sekitar lima tahun, para dewa memerintahkan orang tua yang merawatnya untuk membuat sebuah perayaan.

Perayaan tersebut kemudian dikenal sebagai Erau.

Pelaksanaan awalnya berlangsung sangat panjang, yakni 40 hari 40 malam. Dalam kurun waktu tersebut dilaksanakan berbagai ritual adat yang mengiringi perayaan.

Rangkaian awalnya antara lain berupa upacara tijak tanah dan mandi ke tepian.

Tijak tanah secara sederhana dapat dipahami sebagai ritual yang berkaitan dengan momen ketika seseorang mulai menapakkan kaki ke tanah. Sementara mandi ke tepian merupakan ritual yang berkaitan dengan air dan tepian sungai.

Masyarakat juga diundang untuk hadir dalam perayaan tersebut. Mereka disuguhi berbagai macam makanan, sedangkan Gamelan Gajah Pertawa ditabuh selama berlangsungnya kegiatan.

Gamelan merupakan perangkat musik tradisional yang terdiri atas berbagai instrumen logam dan perkusi. Dalam konteks Erau, bunyi gamelan menjadi bagian dari suasana upacara dan perayaan.

Sejak awal, gambaran Erau dalam hikayat memperlihatkan adanya unsur ritual dan pesta yang berlangsung secara bersamaan.

Dari Perayaan Masa Kecil hingga Penobatan Raja

Kaitan Aji Batara Agung dengan Erau tidak berhenti ketika ia masih berusia lima tahun.

Dalam kisah selanjutnya, Erau kembali dilaksanakan ketika Aji Batara Agung Dewa Sakti dinobatkan sebagai Raja Kesultanan Kutai pertama.

Setelah itu, tradisi tersebut berkembang menjadi perayaan yang kembali dilaksanakan dalam momentum pergantian atau penobatan raja baru.

Hubungan tersebut membuat Erau menjadi bagian dari tradisi kerajaan. Pelaksanaannya bukan sekadar pesta, tetapi berkaitan dengan berbagai momentum penting dalam kehidupan kerajaan dan masyarakat Kutai.

Aji Batara Agung kemudian dikisahkan menikah dengan Putri Karang Melenu, tokoh yang juga memiliki keterkaitan dalam kisah tradisional Kutai dan perjalanan adat kerajaan.

Nama Putri Karang Melenu sendiri tidak terpisahkan dari berbagai hikayat mengenai asal-usul dan perjalanan tokoh-tokoh kerajaan Kutai.

Dengan demikian, dalam kisah tradisional Kutai, Erau memiliki hubungan panjang dengan kehidupan Aji Batara Agung sejak masa kanak-kanak, penobatannya sebagai raja hingga perkembangan tradisi kerajaan pada generasi berikutnya.

Apa Itu Erau?

Erau merupakan salah satu tradisi budaya masyarakat Kutai yang kemudian berkembang menjadi festival budaya di Kabupaten Kutai Kartanegara.

Istilah Erau berasal dari bahasa Kutai, terutama dari kata “eroh”, yang bermakna ramai, riuh, penuh kegembiraan, sukacita atau pesta.

Makna tersebut sesuai dengan karakter pelaksanaan Erau sejak masa lampau. Masyarakat dari berbagai daerah datang ke pusat kerajaan sambil membawa hasil bumi, makanan hingga ternak.

Mereka kemudian berkumpul bersama dan mengikuti perayaan bersama raja.

Karena itulah Erau sejak awal memiliki dua sisi. Di satu sisi terdapat unsur ritual dan adat, sementara di sisi lain terdapat suasana perayaan dan kebersamaan antara masyarakat dengan kerajaan.

Dalam sejumlah catatan tradisional, Erau dahulu dapat berlangsung hingga 40 hari 40 malam. Seiring perkembangan zaman, pelaksanaannya menjadi lebih singkat dan tradisi adat tersebut kini dikenal berlangsung dalam rangkaian sekitar delapan hari delapan malam.

Selain berkaitan dengan penobatan raja, Erau juga digunakan untuk pemberian gelar kepada tokoh-tokoh masyarakat yang dianggap berjasa.

Tradisi tersebut juga memiliki makna yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat Kutai, seperti harapan terhadap kedamaian, kemakmuran dan kesuburan tanah, ladang, hutan serta perairan.

Erau Menjadi Tradisi Kerajaan dan Ruang Pertemuan Rakyat

Pada masa kerajaan, kehadiran masyarakat dalam Erau mempunyai arti penting.

Warga dari berbagai wilayah datang membawa hasil bumi dan kebutuhan untuk perayaan. Kegiatan tersebut membuat pusat kerajaan menjadi tempat berkumpulnya masyarakat dalam jumlah besar.

Karena itu, Erau juga menjadi ruang pertemuan antara penguasa dan rakyat.

Konsep tersebut kemudian tetap terlihat dalam pelaksanaan Erau modern. Hubungan antara sultan dan masyarakat menjadi salah satu bagian yang kembali ditegaskan dalam tema Erau Adat Kutai 2026.

Tema awal yang diberikan untuk Erau 2026 adalah “Manunggal Raja Bersama Rakyatnya”.

Sementara dalam peluncuran resmi Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara pada 20 Agustus 2026, tema yang dicantumkan adalah “Raja Menunggal Bersama Rakyat, Raja Menjamu Rakyatnya.”

Tema tersebut menggambarkan Erau sebagai momentum pertemuan antara sultan dengan masyarakat.

Erau 2026 juga masuk dalam rangkaian Kharisma Event Nusantara atau KEN 2026, yaitu kalender kegiatan pariwisata dan ekonomi kreatif yang memuat berbagai event unggulan di Indonesia.

Erau Sempat Terhenti pada 1965

Dalam perkembangan sejarah modern, pelaksanaan Erau sempat terhenti.

Dokumentasi yang diberikan menyebut 1965 sebagai tahun terakhir pelaksanaan Erau dalam konteks adat kesultanan pada masa tersebut.

Pelaksanaannya bertepatan dengan pengangkatan Putra Mahkota Aji Pangeran Adipati Praboe Anoem Soerya Adiningrat.

Setelah berhenti, Erau kembali digelar pada 1971 atas prakarsa Pemerintah Kabupaten Kutai dengan persetujuan Kesultanan.

Sejak saat itu, Erau berkembang sebagai agenda budaya yang diselenggarakan secara berkala hingga kemudian menjadi festival budaya tahunan di Tenggarong.

Dalam perkembangannya, Erau pernah dikaitkan dengan Hari Ulang Tahun Kota Tenggarong yang diperingati setiap 29 September. Namun, mulai 2010, festival budaya Erau dialihkan ke bulan Juli.

Kini pelaksanaan Erau kembali menjadi salah satu agenda besar Kabupaten Kutai Kartanegara dengan perpaduan prosesi adat, kegiatan kebudayaan, olahraga tradisional, pameran, bazar dan berbagai agenda masyarakat.

Erau 2026 Dipusatkan di Tenggarong

Festival Adat Erau Kutai 2026 diselenggarakan di Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Tenggarong merupakan ibu kota Kabupaten Kutai Kartanegara sekaligus kawasan yang mempunyai hubungan erat dengan Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.

Tenggarong berada sekitar 45 kilometer dari Samarinda, ibu kota Provinsi Kalimantan Timur, melalui jalur darat. Jarak tempuh aktual dapat berbeda sesuai titik keberangkatan, tujuan dan kondisi lalu lintas.

Kutai Kartanegara memiliki wilayah geografis yang beragam, mencakup kawasan perkotaan, sungai, danau, pesisir hingga pedalaman.

Sungai Mahakam juga menjadi salah satu jalur penting yang menghubungkan sejumlah kawasan di wilayah Kutai Kartanegara.

Pra-Erau 2026 Diawali Ziarah Makam Para Sultan

Rangkaian Festival Adat Erau Kutai 2026 dimulai sebelum pembukaan utama.

Agenda pra-Erau diawali pada Minggu, 13 September 2026 pukul 08.30 WITA dengan Ziarah Makam Para Sultan-Sultan.

Ziarah makam dalam konteks ini merupakan kegiatan untuk mengunjungi dan memberikan penghormatan kepada para sultan atau raja terdahulu yang telah wafat.

Tradisi ziarah tersebut juga berkaitan dengan upaya mengenang para tokoh yang memiliki peran dalam perjalanan Kesultanan Kutai Kartanegara.

Agenda serupa kembali dilaksanakan pada Senin, 14 September 2026 pukul 16.00 WITA.

Kawasan Kutai Lama, Kecamatan Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara, menjadi salah satu lokasi penting dalam sejarah awal Kutai Kartanegara dan juga tercantum dalam sejumlah agenda Erau 2026.

Setelah ziarah, rangkaian berlanjut ke berbagai prosesi adat sebelum memasuki pembukaan utama.

Agenda Pra-Erau 15-19 September

Pada Selasa, 15 September 2026 pukul 14.00 WITA, dilaksanakan Besawai.

Kemudian pada Rabu, 16 September, terdapat Haul Jamak Raja dan Sultan pukul 09.00 WITA.

Haul merupakan kegiatan untuk mengenang dan mendoakan seseorang yang telah meninggal. Dalam konteks ini, agenda tersebut berkaitan dengan raja dan sultan.

Pada hari yang sama pukul 14.00 WITA, dilaksanakan Titi Bende dengan rute berkeliling Tenggarong.

Pada Kamis, 17 September, Beluluh Sultan digelar pukul 09.00 WITA di Keraton. Setelah itu, pukul 15.00 WITA berlangsung Menjamu Benua dan pukul 19.00 WITA digelar Merangin I di Serapo Belian.

Pada Jumat, 18 September, Merangin II berlangsung pukul 19.00 WITA di Serapo Belian.

Kemudian pada Sabtu, 19 September, Merangin III digelar pukul 19.00 WITA dan Ngatur Dahar di Keraton pukul 19.30 WITA.

Merangin merupakan prosesi dalam rangkaian pra-Erau yang dilaksanakan selama tiga malam berturut-turut.

20 September, Erau Memasuki Rangkaian Utama

Setelah rangkaian pra-Erau selesai, Minggu 20 September 2026 menjadi awal rangkaian utama.

Pukul 07.30 WITA, dilaksanakan Mendirikan Pinang Ayu di Keraton Kutai.

Pinang Ayu atau Tiang Ayu menjadi salah satu unsur penting dalam struktur upacara adat Erau dan sekaligus menjadi penanda dimulainya Upacara Adat Erau.

Pukul 09.00 WITA berlangsung Opening Ceremony Erau Adat Kutai 2026 di Stadion Rondong Demang.

Kemudian pukul 11.30 WITA dilaksanakan pembukaan Expo, Bazar dan UMKM di area parkir stadion.

Pukul 15.00 WITA digelar Lomba Olahraga Tradisional di area parkir Pulau Kumala. Beluluh Sultan berlangsung pukul 16.00 WITA di Keraton.

Pada malam hari pukul 20.00 WITA dilaksanakan Bepelas I di Keraton, bersamaan dengan Expo, Bazar, UMKM, Pentas Seni dan Lomba Olahraga Tradisional.

Bepelas Berlanjut hingga 27 September

Rangkaian berikutnya berlangsung hampir setiap hari.

Pada 21 September, Beluluh Sultan digelar pukul 08.00 dan 15.30 WITA. Malamnya berlangsung Bepelas II pukul 20.00 WITA.

Pada 22 September, Lomba Olahraga Tradisional digelar pukul 08.00 WITA, Beluluh Sultan pukul 15.30 WITA dan Bepelas III pukul 20.00 WITA.

Pada 23 September, olahraga tradisional kembali digelar pukul 08.00 WITA, disusul Beluluh Sultan pukul 15.30 WITA dan Bepelas IV pukul 20.00 WITA.

Kemudian 24 September dimulai dengan Beseprah pukul 07.30 WITA di depan Keraton. Istilah Beseprah merujuk pada tradisi makan bersama.

Setelah itu berlangsung olahraga tradisional pukul 08.00 WITA dan Beluluh Sultan pukul 15.30 WITA. Malamnya dilaksanakan Maulid Barzanji di Keraton pukul 20.00 WITA.

Pada 25 September, olahraga tradisional berlangsung pukul 08.00 WITA, Beluluh Sultan pukul 15.30 WITA dan Bepelas V pukul 20.00 WITA.

Pada 26 September, olahraga tradisional berlangsung di Pulau Kumala pukul 08.00 WITA, kemudian Beluluh Sultan pukul 15.30 WITA.

Malam harinya digelar Bepelas VI (Seluang Mudik) pukul 20.00 WITA.

Seluang Mudik merupakan bagian dari rangkaian Bepelas yang memiliki prosesi saling melempar beras.

27 September Jadi Salah Satu Puncak Adat Erau

Minggu 27 September 2026 menjadi salah satu bagian penting dalam rangkaian Erau.

Pukul 07.00 WITA dijadwalkan Pengambilan Air Tuli di Kutai Lama.

Kemudian pukul 10.00 WITA dilaksanakan rangkaian Mengulur Naga, Beumban, Begorok, Naga Bekenyawa, Sultan Turun ke Rangga Titi dan Belimbur.

Belimbur merupakan tradisi saling menyiram air yang menjadi salah satu prosesi Erau yang dikenal masyarakat.

Pada malam hari, pukul 20.00 WITA, digelar Bepelas VII atau Ketayongan di Keraton.

28 September Pinang Ayu Direbahkan

Rangkaian berkaitan dengan Erau kemudian dilanjutkan pada Senin, 28 September 2026.

Pukul 08.00 WITA, dilaksanakan Merebahkan Pinang Ayu di Keraton.

Prosesi ini menjadi bagian penutup dari rangkaian yang berkaitan dengan Tiang Ayu. Pinang Ayu sebelumnya didirikan pada 20 September sebagai penanda dimulainya upacara adat Erau.

Pada hari yang sama pukul 09.00 WITA digelar Ziarah Makam dalam rangka HUT Kota Tenggarong ke-244 di Makam Raja Keraton.

Kemudian pukul 11.00 WITA dilaksanakan Sidang Paripurna HUT Kota Tenggarong ke-244 di DPRD Kabupaten Kutai Kartanegara.

Jadwal Lengkap Festival Adat Erau Kutai 2026
Pra-Erau
Minggu, 13 September 2026
08.30 WITA — Ziarah Makam Para Sultan-Sultan.

Senin, 14 September 2026
16.00 WITA — Ziarah Makam Para Sultan-Sultan.

Selasa, 15 September 2026
14.00 WITA — Besawai.

Rabu, 16 September 2026
09.00 WITA — Haul Jamak Raja dan Sultan.
14.00 WITA — Titi Bende, keliling Tenggarong.

Kamis, 17 September 2026
09.00 WITA — Beluluh Sultan, Keraton.
15.00 WITA — Menjamu Benua.
19.00 WITA — Merangin I, Serapo Belian.

Jumat, 18 September 2026
19.00 WITA — Merangin II, Serapo Belian.

Sabtu, 19 September 2026
19.00 WITA — Merangin III, Serapo Belian.
19.30 WITA — Ngatur Dahar, Keraton.

Rangkaian Utama
Minggu, 20 September 2026
07.30 WITA — Mendirikan Pinang Ayu, Keraton.
09.00 WITA — Opening Ceremony, Stadion Rondong Demang.
11.30 WITA — Expo, Bazar dan UMKM, area parkir Stadion Rondong Demang.
15.00 WITA — Lomba Olahraga Tradisional, area parkir Pulau Kumala.
16.00 WITA — Beluluh Sultan, Keraton.
20.00 WITA — Bepelas I, Keraton.
20.00 WITA — Expo, Bazar, UMKM dan Pentas Seni.
20.00 WITA — Lomba Olahraga Tradisional.

Senin, 21 September 2026
08.00 WITA — Beluluh Sultan.
15.30 WITA — Beluluh Sultan.
20.00 WITA — Bepelas II serta Expo, Bazar, UMKM dan Pentas Seni.

Selasa, 22 September 2026
08.00 WITA — Lomba Olahraga Tradisional.
15.30 WITA — Beluluh Sultan.
20.00 WITA — Bepelas III serta Expo, Bazar, UMKM dan Pentas Seni.

Rabu, 23 September 2026
08.00 WITA — Lomba Olahraga Tradisional.
15.30 WITA — Beluluh Sultan.
20.00 WITA — Bepelas IV serta Expo, Bazar, UMKM dan Pentas Seni.

Kamis, 24 September 2026
07.30 WITA — Beseprah, depan Keraton.
08.00 WITA — Lomba Olahraga Tradisional.
15.30 WITA — Beluluh Sultan.
20.00 WITA — Maulid Barzanji, Keraton serta Expo, Bazar, UMKM dan Pentas Seni.

Jumat, 25 September 2026
08.00 WITA — Lomba Olahraga Tradisional.
15.30 WITA — Beluluh Sultan.
20.00 WITA — Bepelas V serta Expo, Bazar, UMKM dan Pentas Seni.

Sabtu, 26 September 2026
08.00 WITA — Lomba Olahraga Tradisional, Pulau Kumala.
15.30 WITA — Beluluh Sultan.
20.00 WITA — Bepelas VI (Seluang Mudik), Keraton serta Expo, Bazar, UMKM dan Pentas Seni.

Minggu, 27 September 2026
07.00 WITA — Pengambilan Air Tuli, Kutai Lama.
10.00 WITA — Mengulur Naga, Beumban, Begorok, Naga Bekenyawa, Sultan Turun ke Rangga Titi dan Belimbur.
20.00 WITA — Bepelas VII (Ketayongan), Keraton.

Senin, 28 September 2026
08.00 WITA — Merebahkan Pinang Ayu, Keraton.
09.00 WITA — Ziarah Makam dalam rangka HUT Kota Tenggarong ke-244, Makam Raja Keraton.
11.00 WITA — Sidang Paripurna HUT Kota Tenggarong ke-244, DPRD Kutai Kartanegara.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.