MBS Desak Trump Serang Houthi, Jawaban Trump Bikin Geger: AS Tak Mau Ikut Perang Yaman
Tiara Shelavie September 12, 2026 09:19 PM

TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengungkapkan bahwa kelompok Houthi di Yaman telah menghubungi Washington dan menyatakan tidak ingin berperang langsung dengan Amerika Serikat.

Pernyataan tersebut disampaikan ketika situasi keamanan di Yaman dan kawasan Laut Merah kembali memanas, terutama di sekitar Selat Bab el-Mandeb yang menjadi salah satu jalur pelayaran penting penghubung Eropa dan Asia.

Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran diketahui memiliki pengaruh kuat di Yaman dan kawasan Laut Merah.

Meningkatnya aktivitas kelompok tersebut di wilayah strategis membuat situasi semakin sensitif, terutama bagi negara-negara yang memiliki kepentingan keamanan dan ekonomi di kawasan tersebut.

Bagi Houthi, berhadapan langsung dengan militer Amerika Serikat merupakan persoalan yang berbeda. Konflik terbuka dengan Washington berpotensi meningkatkan skala perang dan menghadirkan tekanan militer yang jauh lebih besar terhadap kelompok tersebut.

Karena itu, pernyataan Houthi yang tidak ingin berperang dengan AS dapat dipandang sebagai upaya mencegah konflik berkembang menjadi konfrontasi langsung.

Sementara bagi Washington, situasi tersebut juga membuka ruang untuk menghindari keterlibatan militer secara langsung.

Baca juga: Front Baru Perang Iran: Arab Saudi Tutup Jalur Pipa Utama, Houthi Rebut Pulau Mayun di Laut Merah

Amerika Serikat tetap dapat memantau perkembangan keamanan di Laut Merah dan memberikan dukungan kepada sekutunya tanpa harus mengerahkan pasukan untuk menyerang Houthi.

“Kelompok Houthi menghubungi kami dan mereka tidak ingin berperang dengan kami. Mereka tidak ingin kami mengejar mereka,” tegas Trump, dikutip dari Bloomberg.

MBS Desak Trump Serang Houthi

Di tengah meningkatnya ketegangan tersebut, Trump mengatakan dirinya baru saja berbicara dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman atau MBS. Trump bahkan menyebut MBS sebagai seorang teman.

Namun, kedekatan personal tersebut tidak serta-merta membuat Trump menyetujui permintaan Riyadh untuk melakukan serangan langsung terhadap Houthi.

Menurut laporan Axios, MBS menelepon Trump sebanyak dua kali pada Kamis (10/9/2026). Dalam percakapan tersebut, putra mahkota Arab Saudi meminta Amerika Serikat mengambil tindakan militer terhadap Houthi yang semakin aktif di sekitar kawasan strategis Bab el-Mandeb.

Trump disebut menolak permintaan tersebut. Dua pejabat AS yang dikutip Axios menyebut pemerintahan Trump tidak berencana melakukan intervensi militer langsung terhadap Houthi.

Meski tidak turun langsung dalam serangan, Amerika Serikat disebut tetap memberikan dukungan kepada Arab Saudi, termasuk bantuan intelijen dan informasi terkait penargetan.

Dengan demikian, Washington masih dapat membantu sekutunya menghadapi ancaman Houthi tanpa mengambil langkah yang berpotensi menyeret pasukan AS ke dalam perang terbuka.

Trump Hindari Front Perang Baru

Keputusan Trump untuk menolak permintaan MBS tidak terlepas dari situasi geopolitik yang lebih luas di Timur Tengah.

Amerika Serikat saat ini juga menghadapi ketegangan dengan Iran, sementara Houthi merupakan kelompok yang bersekutu dengan Teheran.

Jika Washington melancarkan serangan langsung terhadap Houthi, konflik di Yaman berpotensi berubah menjadi bagian dari konfrontasi yang lebih luas antara Amerika Serikat dan kelompok-kelompok yang didukung Iran di kawasan.

Kondisi tersebut dapat membuka front konflik baru bagi Amerika Serikat. Selain meningkatkan risiko serangan balasan terhadap kepentingan AS, eskalasi di Yaman juga dapat memperbesar ancaman terhadap kapal-kapal komersial yang melewati Laut Merah dan Bab el-Mandeb.

Karena itu, pendekatan Trump saat ini lebih mengarah pada upaya menjaga kepentingan Amerika Serikat tanpa terlibat langsung dalam perang. Washington tetap dapat memberikan dukungan kepada Arab Saudi, sementara negara-negara kawasan diharapkan mengambil peran lebih besar dalam menghadapi ancaman Houthi.

Strategi tersebut juga berkaitan dengan kepentingan Amerika Serikat untuk menjaga jalur pelayaran Laut Merah tetap terbuka.

Bab el-Mandeb merupakan jalur strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan menjadi bagian penting dari rute perdagangan antara Asia dan Eropa.

Apabila ancaman terhadap kapal meningkat, perusahaan pelayaran dapat memilih menghindari Laut Merah dan menggunakan rute yang lebih panjang dengan mengelilingi Afrika.

Pilihan tersebut memang dapat mengurangi risiko serangan, tetapi pada saat yang sama meningkatkan waktu tempuh dan biaya pengiriman.

Gangguan terhadap jalur tersebut juga dapat berdampak terhadap sektor energi. Perusahaan minyak dan pelayaran sebelumnya telah mengalihkan sejumlah rute ketika ancaman keamanan di Laut Merah meningkat.

Persoalan menjadi semakin kompleks karena kawasan tersebut juga berhadapan dengan gangguan di Selat Hormuz.

Jika Bab el-Mandeb dan Hormuz sama-sama mengalami gangguan serius, tekanan terhadap jalur distribusi energi dunia dapat meningkat.

Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi biaya pengiriman minyak, waktu distribusi, hingga harga energi global.

Karena itu, perkembangan konflik antara Houthi, Arab Saudi, Iran, dan Amerika Serikat tidak hanya menjadi persoalan keamanan regional, tetapi juga memiliki konsekuensi terhadap perdagangan internasional.

(Tribunnews.com / Namira)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.